Minggu, 22 November 2009
On Phantasmagoria
Kamis, 12 November 2009
Gerutuan tentang Bahasa dan Proses Meta-Metaan
Mana yang lebih parah, menghina mereka yang senang menggunakan istilah-istilah asing dalam percakapan sehari-hari ketika ada kata dalam bahasa kita sendiri yang juga bisa digunakan, atau menghina mereka yang senang menggunakan kata-kata dalam bahasa kita sendiri tapi mengubah pemaknaannya?
Saya juga kerap kali dihujat oleh teman saya karena menggunakan istilah 'alay' yang merujuk pada golongan tertentu. Katanya saya bersikap menghakimi. Tapi ketika saya bilang alay, dan dia bilang "jahat loe", berarti dia tahu apa yang saya maksud dan juga ikut menghakimi, bukan? Ha!
Mungkin ini efek samping dari pembelajaran aspek apapun secara vertikal ketimbang horizontal. Kalau ada yang namanya metateori, saya bikin istilah sendiri yaitu 'metabelajar', hahaha. Metode ini bukan melakukan refleksi terhadap proses belajar (seperti metateori terhadap teori), melainkan sebuah titik kulminasi setelah bulan-bulan yang melelahkan dan membuahkan pertanyaan besar: kenapa sih saya belajar???? (Yang, tentu saja, dapat dengan mudah dilecehkan sebagai gerutuan mahasiswa sok tahu yang sok berfilosofi, hihihi).
Tapi jangan remehkan proses meta-meta-an ini. Proses ini yang melahirkan keragu-raguan, dan tanpa ragu-ragu kita tidak akan pernah yakin terhadap sesuatu. Kata Jeffrey Lang, "aku menggugat maka aku kian beriman".
Seperti biasa, pembelaan saya: Orang yang bilang orang lain berpandangan sempit adalah orang yang sebenarnya juga berpandangan sempit! :p
Selasa, 06 Oktober 2009
Unfinished Thoughts #3: Kali Ini Ia Datang di Antara E-Health Care dan Solar Plexus
Lama-lama saya tambah curiga kalau nasionalisme sebenarnya tidak membawa manfaat apa-apa bagi kita. Saya curiga kalau "terminologi" yang mengusung romantisme kebangsaan ini, well, ternyata memang tidak lebih dari sekadar romantisme: ia bisa menciptakan kebahagiaan yang melambungkan atau keharuan yang menyesakkan. Kamis, 01 Oktober 2009
Takut: dan Saya Belajar Atasmu



Kamis, 04 Juni 2009
Ketika Tombol untuk Mengganti Saluran di Remote Televisi Tidak Lagi Berfungsi, Saya Tak Punya Pilihan Lain Kecuali Mematikannya
dari jakartabeat.net, dan Kang Pidi ini kalau membuat komik lucu-lucu sekali.
Pemilu Presiden memang masih lama. Tapi sepertinya saya sudah tahu akan memilih siapa. Memilih apa, lebih tepatnya. Tahun ini pemilu pertama saya, namun saya memutuskan untuk tidak memilih saja. Ya, saya dengan mudah bisa dituduh apatis, apolitis, tidak peduli dengan masa depan bangsa, la la la. Mungkin beberapa orang akan memperhatikan jari kelingking saya yang, untuk kedua kalinya tahun ini, tidak ’belang’ bekas celupan tinta. Saya memang belum sadar hidup saat Orde Baru meraja, jaya, lalu jatuh (dan lantas tertimpa tangga pula). Saya bahkan membaca koran hanya edisi hari Sabtu dan Minggu saja. Saya tidak tahu siapa berkoalisi dengan siapa, siapa bertengkar dengan siapa, siapa tampil dimana dan salah bicara apa, pokoknya itulah, jenis-jenis berita yang menyedot pemirsa. Hanya saja suatu kali saya menghadiri proses rekaman salah satu acara yang jenisnya banyak tayang pada masa-masa pemilu, acara dimana orang-orang penting adu bicara. Saat rekaman mulai, saya lihat mereka bersitegang dan saling menjatuhkan, yang satu dengan yang lainnya. Saat rekaman usai, mereka bersalam-salaman, tertawa dan mengobrol akrab seperti kawan lama. Itu baru alasan pertama. Saya punya detail-detail untuk alasan lainnya.
Lagipula, saya tidak mau memilih mereka yang akan menyuruh saya minggir di jalan raya atau membuat saya mencak-mencak menonton berita. Saya bahkan jadi khawatir bicara, takut dijerat pasal seperti Ibu Prita. Tapi akhir kata, selamat memilih untuk masa depan bangsa. Saya mau bernyanyi "Mosi Tidak Percaya saja", sekeras-kerasnya.
-M O O N Y
"janjimu pelan-pelan akan membunuhmu.."
Sabtu, 23 Mei 2009
Pemikiran Acak
Jangan bingung! Judul di atas adalah terjemahan bebas dari random thought, jadi bukan semacam teori ilmiah baru, meski saya memang banyak dipengaruhi oleh Taleb dan Black Swan-nya akhir-akhir ini. Hahaha..
Dan begitulah yang (selalu) terjadi ketika UAS menyerang. Mungkin ekses dari begitu banyak teori dan konsep yang dijejalkan secara paksa adalah pemikiran acak sebagai sebuah pelarian. Entahlah, sejak kemarin saya ingin mengomentari sinetron lokal yang menurut saya lebih seram dibanding Alone dan Shutter, tapi kok tiba-tiba ada kutipan yang lebih menarik dan perlu dibagi disini:
"Saat bulan purnama atau bulan baru, banyak orang bunuh diri, kecelakaan, dan para pasien rumah sakit jiwa menampakkan kelakuan yang lebih aneh dari biasanya. Orang-orang zaman dulu sering bilang bahwa kelahiran terjadi saat laut pasang, dan kematian terjadi saat laut surut. Data-data tersebut sudah dikumpulkan. Jadi terbukti bahwa bulan memang mempengaruhi hidup, mati, serta aktivitas manusia.
Tubuh manusia 80% terbentuk dari cairan. Kalau disamakan dengan air laut yang pasang dan surut karena dipengaruhi bulan secara terus menerus, maka tidak begitu aneh jika tubuh manusia pun terpengaruh."
Kutipan ini saya peroleh dari komik-yep!, Dewi Matahari oleh Suzue Miuchi. Komik ini terbit sejak tahun 1987, dan sampai sekarang hanya ada empat jilid (satu jilid adalah edisi spesial). Masih bersambung, sama nasibnya seperti komik Topeng Kaca. Dikomik ini juga terdapat banyak kutipan menarik lainnya. Misalnya, setiap kata yang menyebutkan organ tubuh bagian dalam (seperti ginjal, hati, dsb) pada aksara Kanji diawali dengan aksara yang artinya "bulan". Sayang saya lupa di jilid berapa.
Jadi apa yang selama ini saya alami memang beralasan secara ilmiah, bukan? :)
-M O O N Y
"Ini keajaiban alam. Aku mempercayainya."-Theme Song kartun Sailormoon.
Tapi, hus, hus! Ayo kembali ke SBKRI, SOBSI, dan Simulacra yang masih menunggu! T_T
Rabu, 18 Februari 2009
Unfinished Thoughts #2: Di Antara Sosiobiologi Ada Kontemplasi

Hati-hati, mereka bisa saja bilang "..Bangsa Indonesia! Bangsa Indonesia!" dengan maksud dan tujuan pribadi.

