i just love the word : pulang. dan siapa sih yg enggak? dari anak tk sampe mahasiswa juga kalo denger kata itu histerianya sama.
barusan baca suatu artikel yang menarik sekali.. di kompas minggu kemaren, yg ngebahas soal mudik.
..pulang adalah lawan dari kata pergi. kalau kata pergi bisa memiliki banyak tujuan dan bahkan bisa tak tentu kemana, kata pulang hanya memiliki satu tujuan..
judul novelnya happy salma. judul lagunya float. judul lagunya michael buble *setelah ditranslate*.. semua orang emang pengen pulang yah..
-MOONY
diantara euforia mudik lebaran dan mabok summer berries haagen-dazs
neurotic sisters..
Seemed like the happiest moment of the week! :)
I really wish there're more times like this..
Kalau Pram bilang, dia terbakar amarahnya sendiri, gitu. Tapi gue sih gak terbakar amarah sendiri. Gue terbakar.. apa yah? Ah, gak boleh bakar-bakar lah.. puasa gitu lho. (gak nyambung).
Gue sangat-amat-teramat mengagumi Pram lebih dr siapapun, tapi mungkin setelah baca buku kumpulan wawancaranya itu, i just realized something : Pram itu terlalu rasional.
Kalo di film Before Sunset, Julie Delpy bilang tuh, " If you don't believe in something magical, you basically just the same as dead." atau kirakira begitu deh. Pram bilang, berdoa sama dengan mengemis, dan cinta itu ternak (2 hal itu yang paling gue inget). Dan surga, katanya, gak lebih dari produk otak manusia. Lebih keras (dan lebih ekstrim) lagi, beliau bilang, segala hal yang menggunakan bahasa manusia adalah produk otak manusia.
Nah, rasional atau malah cynical tuh?
Untuk seseorang yang seumur hidupnya diasingkan, diperlakukan semenamena, dan tidak dihargai sebagaimana mestinya, mungkin gak aneh dia itu udah kehilangan yang namanya good-faith. Dan muncullah cap-cap untuk beliau, atheis lah, komunis lah..
Tapi...
Untuk orang secerdas dan sekritis beliau, i'm just saying that he's a truly cynical. Mengapa?
Semakin cerdas manusia, pasti semakin dia menyadari bahwa ada sesuatu yang besar, sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia (seperti yang beliau katakan). Dan Pram sadar betul hal itu.
Lagipula, doa itu naluri, bukan? Setiap manusia memiliki naluri. Ketika anda berharap, ketika anda mengucapkan sesuatu, maka itulah doa.. Dan maaf, eyang Pram, ketika anda mengatakan bahwa segala yang menggunakan bahasa manusia adalah produk otak manusia, sesungguhnya anda saya anggap benarbenar memahami hakikat keTuhanan yang sesungguhnya. Bahwa segala sesuatunya begitu sakral, sehingga bahkan manusia pun tak sanggup mengujarkannya..
Bagaimanapun, anda tetap menyuruh anakanak anda belajar ibadah kan? (i believe i read that somewhere)
Ah, mari anggap begitu. Jadi orangorang kan tidak akan nge-cap anda yang tidak semestinya lagi.. Anda Pramis, bukan lainlain. Begitu kan lebih baik..:)