Pernah ada suatu masa ketika saya menghuni kamar yang jendelanya persis berhadapan dengan lorong dekat pintu belakang di rumah tante saya di daerah Bintaro. Di kamar itu, juga beberapa ruangan lain di rumah tersebut, saya mulai mengembangkan beberapa "hobi". Ada beberapa yang masih awet sampai sekarang seperti beres-beres laci meja belajar yang nggak kelar-kelar sampai berjam-jam karena keasyikan baca notes asal yang tahu-tahu nyelip di antara buku catatan pelajaran. Ada juga hobi yang surut dan lama-lama terlupakan, macam bikin-bikin sketsa sambil dengar lagu yang itu-itu lagi, nulis di blog ini (juga sambil dengar lagu yang itu-itu lagi), atau gunting-gunting artikel dari Kompas Minggu yang lalu ditempel di buku gambar besar. Hobi itu awet cukup lama, sebenarnya. Mungkin sekitar empat tahunan. Sampai saya kembali tinggal bersama ibu di tahun 2009, mulai kenal dengan teman yang "aneh-aneh", mulai betah di kampus, lalu bisa seleluasa mungkin melakukan aktivitas di luar rumah karena sudah nggak takut lagi nyasar, semua hobi itu jadi makin jarang dilakukan dan lama-lama jadi tak pernah sama sekali.
Tahun terakhir kuliah, tepatnya di bulan-bulan terakhir menyelesaikan skripsi dengan susah payah dan semangat yang cuma sisa separuh, saya mengungsi ke rumah nenek. Di sini, ruang pribadi adalah kemewahan. Saya belajar untuk hidup dengan ringkas: pakaian dalam satu box, buku dalam satu box, juga pergi pagi-pagi dan pulang malam hari. Belajar untuk tidak terlalu terikat dengan ruang (dan tidak terlalu melankolis mengingat hal-hal yang sudah lewat). Sampai pada tahun 2013 saya kembali keluar rumah dan tinggal berdua dengan adik laki-laki saya di sebuah rumah kontrakan di Radio Dalam. Di rumah itu, saya kembali mengembangkan hobi-hobi yang terbengkalai, dan turut menambah daftar hobi tak penting lainnya, seperti menyetel TVRI setiap pagi saat bangun tidur dan sebelum tidur di malam hari, bolos kantor setiap hari Kamis karena mau mendengarkan anak-anak SD latihan angklung di belakang rumah ketua RW, beli pecel di warung sebelah rumah kalau nggak sempat bikin apapun buat sarapan, juga memasang DVD Friends sambil menyetrika pakaian. Tanpa berhati-hati saya kepalang mencintai sekumpulan ritual itu, sehingga saya terlalu melankolis saat harus meninggalkan rumah tersebut setahun kemudian dan kembali ke rumah nenek.
Pada saat kembali ke rumah nenek di Pondok Pinang pada akhir 2013, saya kadang terpikir jangan-jangan saya sudah jadi orang yang berbeda. Saya kira ide-ide tentang persiapan untuk kabur kapan saja ala doomsday preppers mulai berkembang di tahun ini. Hampir sembilan puluh persen dari waktu saya setiap hari habis di luar rumah. Ada di kantor sampai dini hari, bahkan menginap, rasanya jauh lebih menyenangkan daripada berada di rumah. Rasanya akan tetap begitu, sampai-sampai saya rasanya terlalu attach dengan kantor di daerah Kemang tersebut. Tak jarang saya ke kantor juga di hari Sabtu dan Minggu. Saya tidak keberatan ke kantor, bahkan cuma untuk nonton film atau main pingpong. Begitu kira-kira ceritanya, dengan rumah yang terasa hanya seperti tempat absen/setor muka ke nenek setiap malam. Ada masa ketika saya diam-diam sebenarnya mengontrak rumah bersama sahabat saya di daerah Mampang, yang kembali saya tinggalkan setelah beberapa bulan. Diam-diam, saya kangen punya tempat untuk tidur pulas sampai siang, atau nulis-nulis di blog semaunya sampai subuh. Saya kangen mendengarkan musik kencang-kencang tanpa earphone. Saya ingin punya meja belajar yang bisa dicoreti semaunya. Saya ingin punya tempat bengong yang bukan di kantor, bukan di angkot atau ojek, apalagi di kafe.
Desember datang dan harapan yang terlalu spesifik itu terkabul. Di belakang rumah nenek saya ada gudang yang tadinya ditempati. Setelah kosong, gudang tersebut sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi kamar kalau siapa pun yang berkenan menempatinya tidak keberatan dengan sedikit bocor, pintu yang tidak bisa dikunci, juga lokasi yang berdekatan dengan kandang ayam (dan bangun dengan kaget setiap sekitar jam setengah 4 karena lengking kokok mereka). Saya lalu merapikan sedikit demi sedikit barang-barang yang sudah semestinya dibuang dari gudang itu. Setelah lengang, buku-buku pun keluar dari dus dan saya susun di rak. Dengan satu sumbangan kasur dan kipas angin, serta meja belajar yang saya rakit berdua dengan adik laki-laki saya di hari pertama 2016, jadilah kamar itu kini suaka saya yang baru.
Dulu di sekitar 2008, seorang teman memberi saya flash disk berisi beberapa lagu dari duo Ari-Reda. Kalau saya lagi dengar lagu mereka dengan volume keras di kamar dan kebetulan si mbak yang kerja di rumah tante saya lagi berada di dapur atau di sekitar lorong dekat pintu belakang, ia akan menjulurkan kepala lewat jendela dan berkomentar, "Dara lagi dengerin RRI (Radio Republik Indonesia), ya?" Delapan tahun kemudian, di dalam suaka baru, saya nulis postingan ini sambil mendengarkan Ari-Reda juga. Di laci meja belajar baru mulai penuh kertas corat-coret nggak jelas, apa saja macam catatan kerjaan atau kutipan apapun dari buku yang kebetulan sedang saya baca. Di dalam suaka ini, selain mulai berkembang juga hobi-hobi baru lainnya, juga hobi-hobi lama kembali disambangi. Sambil mendengar lagu Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka, saya senyum-senyum sendiri.
Kayaknya saya sebenarnya nggak pernah jadi orang yang beda-beda amat.
Jumat, 29 Januari 2016
Minggu, 03 Januari 2016
Seni Membenahi Kamar #2
Saya bertemu Sue G.V., seorang aktivis hak asasi manusia, di acara National Youth Forum di Istanbul, September 2015 lalu. Ia berusia sekitar empat puluhan akhir dan menjabat sebagai Associate Director untuk kampanye HAM di Open Society Foundations. Pada hari pertama kami bertemu di forum tersebut, Sue menghampiri saya, tampak begitu gembira saat tahu saya berasal dari Indonesia. Ia pernah bekerja untuk Freedom House wilayah Asia Tenggara, dan beberapa kali datang ke Indonesia untuk mendampingi organisasi-organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Meski dibesarkan di Amerika Serikat, logat Bangladesh-nya masih kental. Pada hari pertama, Sue mengajak saya makan malam bersama dan bercerita banyak sekali mengenai pengalamannya bertemu dengan pemimpin redaksi majalah Sabili, ditipu supir bajaj saat menuju Monas, hingga ketakjubannya kepada orang Indonesia yang selalu berkata "Mungkin" untuk menjawab berbagai jenis pertanyaan. Barangkali, latar belakang etnisitasnya yang beragam dan studi Antropologi-nya yang membuat ia bisa merasa takjub dan gembira, alih-alih geram, saat terjebak macet selama empat jam dari Bandara menuju pusat kota. Kami duduk bersisian di atas kapal yang berputar mengarungi selat Bosphorus selama beberapa jam dan Sue bertanya mengapa saya tidak ikut menari bersama seluruh peserta lainnya. Saya, yang selalu cepat mengantuk, menjawab sekenanya. "I feel awkward in such festivity," Sue tertawa maklum. Saya dan dia memandangi para peserta yang sedang menari dalam kelompok untuk beberapa lama, menikmati minuman masing-masing. Saya berkata pada Sue, "I feel so old sometimes." "I do, too, when I was your age." jawabnya. Kami duduk bersisian lagi di dalam bus dan saya mendengarkan Sue bercerita tentang hal-hal yang ia rindukan dari Jakarta. Pada hari itu, saya sungguh merasa, kadang-kadang semacam ketersambungan dan perasaan bahwa kamu betul-betul ada di dalam suatu momen tidak perlu terlihat atau terdengar muluk. Sayang, saya tidak bertemu lagi dengan Sue hingga kami pulang ke negara masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)