Rabu, 18 Februari 2009

Unfinished Thoughts #2: Di Antara Sosiobiologi Ada Kontemplasi


Lama-lama saya jadi curiga kalau segala macam ide mengenai kebangsaan dan nasionalisme hanya politik bahasa semata.

Hal ini diakui langsung oleh pengajar saya tadi pagi. Katanya, "Tolong anda bedakan penggunaan kata bangsa secara akademis dan secara politis." Maksudnya adalah, bedakan pengertian "bangsa" secara konseptual dengan "bangsa" yang muncul di berbagai pidato capres, caleg, cagub, dan calon-calon lainnya.
Hati-hati, mereka bisa saja bilang "..Bangsa Indonesia! Bangsa Indonesia!" dengan maksud dan tujuan pribadi.

Politik bahasa juga mewujud pada 'kemasan' produk sejarah. Sumpah Palapa, momen sakral mengenai adanya kesadaran persatuan Nusantara pada era Majapahit itu, nyatanya hanya modifikasi dari proyek invasi dan semangat penaklukan. Budi Oetomo diobrak-abrik. Dari yang tadinya hanya pergerakan priyayi Jawa untuk "meninggalkan teman-teman lainnya di belakang" disulap jadi momentum kebangkitan nasional. Dibungkus dengan slogan-slogan "persatuan" dan "kesatuan".. jadi deh, Nasionalisme.

Kata orang, lebih baik hidup dalam ketidaktahuan daripada mengetahui kebenaran yang pedih. Pedih juga rasanya, Nasionalisme ternyata bisa 'instan' alih-alih sakral. Ia juga tak lebih dari politik bahasa yang menggunakan pembenaran "semuanya bisa jadi kontekstual.." Aih...


-M O O N Y
yang harusnya buat paper tentang sosiobiologi. emang pikiran suka 'ajaib' nyasarnya kemana..

Jumat, 06 Februari 2009

Dalam Perjalanan (Ingatan)

Saya teringat suatu hari di SMP. Seorang teman yang berujung menjadi sahabat baik saya sampai sekarang, Ajeng, menenteng novel yang tidak terlalu tebal dengan kertas yang sedikit menguning. "Gadis Pantai", katanya, "punya uwa gue..". Kami berdua gemar membaca. Bahkan, begitulah persahabatan kami bermula. Di hari pertama kelas tiga SMP itu, pada jam istirahat, hanya kami berdua yang tersisa di kelas. Duduk berjauhan dan tidak saling mengenal. Tapi kami berdua melakukan hal yang sama: Membaca.

Itulah perkenalan pertama saya dengan Pramoedya Ananta Toer. Diawali Gadis Pantai, lalu Arok Dedes. Bumi Manusia yang lekat di ingatan saya adalah versi terjemahannya, This Earth of Mankind, yang saya pinjam dari Library@Senayan. Saya ingat protes teman saya, "Baca buku tentang nasionalisme kok yang bahasa Inggris?!". Hahaha..

Begitulah kecintaan terhadap karya-karya Pram bermula. Ujian akhir Bahasa Indonesia, saya dan teman sebangku (sekaligus sahabat saya, Esti) mereview keseluruhan Tetralogi. Kami akhirnya terpaksa harus kebut baca jilid keempat yang saat itu selalu kami tunda untuk dibaca karena tak ingin tahu ending cerita. Kami lalu menangisi Minke bersama-sama. Mengutuki Pangemanann tak habis-habisnya.

Kami menangisi Pram yang tak kesampaian memenangkan Nobel sastra, Pram yang 'terlanjur' wafat padahal belum sempat kami mintai tanda tangannya di buku-buku kami, Pram yang sebagian teman kami tanggapi namanya dengan kernyitan di dahi.

Kami sadar, membaca Pram tidak bisa hanya sekali. Kami pun sadar, selalu ada semangat dan inspirasi baru yang muncul setiap kali membaca karya-karyanya. Saya sendiri pertama-tama terpesona struktur bahasa dan permainan kata-katanya, baru saya 'kepincut' Minke dan kekerasan hatinya. Kami tak habis pikir bagaimana mungkin novel sebagus ini bisa dilarang dibaca.

Hari ini, Mbak Ery Seda berkata bahwa "segala yang berada di bawah kolong langit" dapat dianalisa secara sosiologis. Pikiran saya melayang kepada kata-kata Nyai Ontosoroh,
"Segala yang berada di bawah kolong langit merupakan urusan orang yang berpikir". Hari ini, 6 Februari 2009, saya menyanyikan Darah Juang untuk Pram dan berdoa semoga segala yang berada di bawah kolong langit itu dapat menjadi inspirasi bagi saya. .

-M O O N Y

Senin, 02 Februari 2009

Welcoming Sanity! :)

Akhirnya Januari (alias liburan) selesai dan sudah bulan Februari (alias rutinitas) lagi. Ini berarti berblablabla ria dimulai lagi! :)

Januari berakhir dengan sangat membahagiakan karena saya bertemu Ayu Utami lagi dan kali ini: BISA NGOBROL BARENG SATU JAM!!!
Hahahaha, terimakasih kepada orang-orang yang tidak muncul untuk klinik penulisan, saya mendapat kesempatan yang bahkan ga pernah saya khayalkan (yes, i do daydreaming a lot) ini.
And she's very nice and all, dan kami sempat berbincang tentang proyek dua belas tahun mendatang Mbak Ayu (yang merupakan semacam turunan dari Bilangan Fu). Kali ini, saya akhirnya juga tahu bahwa Mbak Ayu merupakan fans Romo Mangun, Ahmad Tohari, dan Pram! Ini sudah pasti hari terbaik saya di tahun 2009 (yang tentu saja dikritik oleh Kak Yana karena katanya peristiwa ini bahkan baru terjadi di bulan Januari), hehehe..

Bagi saya, ucapan "Selamat berlibur!" memang menyenangkan, tapi rasanya kok tidak menambah semangat? Bagaimana dengan "Selamat kembali ke rutinitas?" :)

-M O O N Y
(akhir2 ini saya sering membaca ulang tulisan2nya GM dan nemu beberapa yang bagus sekali (walaupun tulisan beliau memang bagus dan siapapun pasti setuju hal tersebut, dan saya baru sadar saya buat tanda kurung di dalam tanda kurung!) dan layak untuk dibaca dan dibaca ulang.)
Here are the links. Enjoy!
Pleonoxia--bagaimana "milik" dan "melik" mendorong patologi sosial
Pelacur--review film "Pertaruhan"nya Kalyana Shira yang diputar di Jiffest kemarin
Badri--
the newest Caping