Sabtu, 25 Juni 2011

Peregrine*

Di bangku kelas tiga SMA, seorang teman memperdengarkan sebuah lagu berjudul I Wish I Was a Punk Rocker (with Flowers in My Hair). Meski tak pernah sungguh-sungguh ingin menjadi penyanyi, bahkan tanpa kesukaan khusus terhadap musik rock, lirik lagu tersebut tanpa dikehendaki menjadi sebuah tuntunan di tahun terakhir sekolah saya. Tidak, coret itu. Lirik lagu tersebut, pertama-tama, mewujudkan dirinya menjadi salah satu kredo dalam hidup saya. I was born too late into a world that doesn't care. Dalam ambang kesadaran yang sederhana, potongan lirik tersebut menjadi justifikasi atas banyak hal yang saya rasakan atas diri saya sendiri.

Barangkali saya memang lahir terlambat ke dunia yang sudah tak peduli akan banyak hal yang dulunya pernah sangat berarti. Aneh, katanya dunia sudah sangat tua. Manusia lahir dan lahir kembali bersama jejak sejarah dalam dirinya. Kesadaran tersebut mau tidak mau membuat kita tercerabut dari artifisialitas hidup, kadang-kadang. Kalau memang kita telah hidup terlalu lama dan dunia telah terlalu tua, mestinya banyak hal tak lagi kita ributkan. Perang. Fashion. Bahkan kematian.

Di sinilah kita kembali diam sejenak. Kita bisa saja dua puluh tahun, tiga puluh tahun, seratus tahun.. dan masih tetap merasa muda sekaligus tua--tersadar bahwa hidup terlalu singkat. Lalu mengapa peduli? Tapi mengapa tak peduli?

Saya tak mengerti kompleksitas relasi tubuh, pikiran, dan jiwa, tapi saya tahu seluruhnya adalah yang besar sekaligus yang kecil. Besar karena ia terangkai menjadi satu kesatuan atas diri kita masing-masing sebagai seseorang yang diciptakan istimewa dan berbeda-beda. Kecil karena kini ia tak lagi terasa begitu istimewa. Dalam lautan manusia, dunia, jagat raya.. kita barangkali bukan apa-apa. In the scheme of things, we're nothing at all**.

Dalam kesadaran tersebut, semua rencana gugur. Semua keinginan tergagalkan. Kita tak punya kuasa atas apapun, terutama diri sendiri. Akhirnya hanya bisa percaya pada kebaikan semesta dengan hukumnya yang sebenarnya tak terlampau rumit: segalanya berjalan secara pasang-surut.

.. dan tak semua orang bisa kita harapkan untuk mengerti. Kadang-kadang, sikap diam dan tercerabut diidentifikasi sebagai sebuah simptom atas apa yang dengan banalnya kini disebut kegalauan. Ya, terlalu banyak distraksi dalam realita kita sehari-hari hingga kita lupa di dunia (yang menurut para ilmuwan, sejarawan, juga rohaniwan) yang telah tua ini, kita terpukau dengan keabadian dan menolak tua. Menolak untuk menjadi tiada. Banyak hal bermunculan, mengubah berbagai aspek dalam hidup manusia modern, membuat banyak hal yang tak otentik menjadi bernilai dan penting untuk dikejar hingga penyanyi-penyanyi punk-rock kini tak banyak tersisa.

Saya tak berharap untuk menjadi seorang penyanyi punk-rock dengan riasan bunga di kepala. Mungkin hanya sedikit ruang bagi so-called meditasi yang tak terkooptasi realita.


-M O O N Y
*Peregrine, dalam beberapa terjemahan berarti Elang. Beberapa sumber mengacunya sebagai Pelancong, Orang dari Luar, atau Orang Asing.
**The Riddle-Five For Fighting (Album Two Lights, 2006).