Selasa, 20 September 2011

Foursome

Alkisah, seorang alumni Sastra Rusia, seorang alumni Manajemen, seorang mahasiswa Sosiologi, dan seorang mahasiswa Filsafat dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mengerjakan tugas si mahasiswa Filsafat. Tugas tersebut bertema Keinginan. Bisa ditebak orang macam apa yang rela tugas filsafatnya (yang, omong-omong, diberikan oleh seorang Rocky Gerung, yang untuk masuk kelasnya saja ada seleksi awal dan berkuota 25 orang terpilih) diobrak-abrik oleh teman-temannya yang bahkan sulit mengeja raison d'etre dengan baik dan benar sesuai EYD bahasa Perancis. Tapi.. ah, sudahlah!

"Saya menulis ‘terpenuhi’ dan bukan ‘tercapai'', karena apa yang penting dalam pemenuhan keinginan adalah proses menuju suatu titik, bukan titik itu sendiri. Di sepanjang proses itulah terdapat berbagai muatan yang mendorong terciptanya suatu keinginan, serta yang menjadikan suatu hal yang mungkin tidak ada nilainya bagi satu orang menjadi bernilai dan pantas untuk dikejar oleh satu orang lainnya. Maka dari itu, saya akan melihat keinginan sebagai hasrat. Desire."
"Keinginan adalah sesuatu yang impulsif, instinctive, dan tidak selalu didasari alasan yang jelas. Keinginan tidak sejalan dengan kebahagiaan karena manusia tidak pernah merasa puas meskipun keinginannya terpenuhi. Keinginan merupakan penanda ketidaksempurnaan. Keinginan manusia tidak terbatas tapi kemampuan manusia terbatas. Bagaimanapun, keinginan adalah refleksi bahwa manusia tidak pernah berhenti berusaha untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik."
"Keinginan membuat sebagian orang menyukai mengkonsumsi steak yang berdarah di dalam tapi garing di luar, sementara sebagian orang lain—para vegan ekstrem, misalnya—tidak dapat melihat masakan daging tanpa merasa mual. Keinginan membuat masing-masing orang memiliki selera akan pasangan seksual yang berbeda: karena itulah terdapat orang dengan sado masokisme dan orang yang sulit mengalami ereksi."
"Keinginan adalah ilusi. Dalam masyarakat yang ramai, di mana kita tidak hidup seorang diri, kita tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu yang murni bagi diri sendiri. Kita menginginkan apa yang seharusnya diinginkan, sebuah set of standards. Pada akhirnya, kita membunuh keinginan yang asli dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa kita seharusnya bahagia dengan keinginan-keinginan yang kita miliki. Lalu kita menyebut apa yang kita inginkan sebenarnya untuk terjadi sebagai kegilaan dan penyimpangan."


Paragraf-paragraf mumpuni--diselingi debat tentang cara mengucapkan Machiavelli, Barthes, dan Baudillard dengan baik dan benar--menghasilkan lima halaman sesuai permintaan yang mulia Rocky Gerung. Juga kado ulang tahun paling... entahlah. Pesan moral: Apapun bidang studi yang anda dalami, dalam keadaan kepepet ternyata anda bisa juga sok berfilosofi! Hehehe..


- M O O N Y