Selasa, 06 Oktober 2009

Unfinished Thoughts #3: Kali Ini Ia Datang di Antara E-Health Care dan Solar Plexus

Lama-lama saya tambah curiga kalau nasionalisme sebenarnya tidak membawa manfaat apa-apa bagi kita. Saya curiga kalau "terminologi" yang mengusung romantisme kebangsaan ini, well, ternyata memang tidak lebih dari sekadar romantisme: ia bisa menciptakan kebahagiaan yang melambungkan atau keharuan yang menyesakkan.

Akhirnya, gerak nasionalisme terhambat. Ia tersakralkan dan kontekstual. Seperti romantisme, ia hanya indah ketika momennya tepat. Jika terlalu banyak hanya jadi memuakkan. Seringkali, ia hanya muncul pada saat kesetiaan kita diuji. Entah dalam bentuk kecaman ketika kebudayaan kita dicuri bangsa lain atau tangisan ketika salah satu putra bangsa memenangkan olimpiade dan meraih emas atas nama Indonesia. Nasionalisme hanya jadi perekat kolektif, jadi alat politis. Ia jadi label yang menyatukan dan menggerakkan, tetapi tidak menginspirasi. Sama seperti label-label lainnya: etnis, agama, kelompok, merek, dan lain-lain lainnya.

Lantas kita jadi bertanya-tanya, apa guna nasionalisme pada akhirnya? Sering juga kita jadi terpaku pada kejayaan lampau, mengenang kehebatan-kehebatan di masa lalu. Berbagai simbol dengan lelah dibangun di berbagai lokasi hanya untuk mengenang dan mengenang, bukan untuk belajar. Nasionalisme memang diulang-ulang di berbagai orasi, pidato, makalah, dan obrolan warung kopi. Tapi apakah ia sungguh-sungguh ada? Apa ia eksis di dalam realita kita (yang dangkal)?

Kalau ya, di mana?
Atau jangan-jangan ada yang lebih nyata dan lebih kita butuhkan ketimbang nasionalisme semata?


-M O O N Y
this writing is unfinished.


Kamis, 01 Oktober 2009

Takut: dan Saya Belajar Atasmu

adalah ketakutan yang sesungguhnya menjadi sumber kekuatan yang paling besar. pun kadang kala menakutkan.

ketakutan menuntut Pak Kereta menggunakan setelan pakaian bermotif tentara di balik pakaian sehari-harinya. sungguh mengharukan, ketakutan dan traumanya akan masa lalu sebagai seorang tahanan politik membuatnya ber"delusi" dan "halusinasi" (oh, saya benci menggunakan istilah medis yang modernis fasis ini, namun apa boleh buat), membuatnya hidup senantiasa dalam kekhawatiran akan masuknya roh halus ke dalam dirinya.


ketakutan, yang menjadikan tiga juta orang dibantai untuk menghapus dosa atas terbunuhnya para jenderal di Lubang Buaya. oh, adakah yang berhak mengkalkulasi berapa harga atas nyawa?



inilah tragedi ketika tertuduh sekaligus menjadi korban. dan kita tidak belajar untuk menyingkap kebenaran, kita belajar untuk memaafkan namun tidak melupakan. kita belajar untuk tetap hidup dalam ketakutan.



karena sesungguhnya ketakutan dan represi adalah perekat,



dan dalam ketakutan, rasionalitas hilang..



yang tertinggal hanya polarisasi ekstrim: kawan dan lawan, kiri dan kanan, hidup dan mati..






saya mengheningkan cipta bagi para korban dan mereka yang ditinggalkan,
hidup dalam ketakutan,
keterasingan,
dan
ketidakadilan.



-M O O N Y
Untuk negara merdeka, (namun) yang tak merdeka sejak dalam pikiran.