Lama-lama saya tambah curiga kalau nasionalisme sebenarnya tidak membawa manfaat apa-apa bagi kita. Saya curiga kalau "terminologi" yang mengusung romantisme kebangsaan ini, well, ternyata memang tidak lebih dari sekadar romantisme: ia bisa menciptakan kebahagiaan yang melambungkan atau keharuan yang menyesakkan. Akhirnya, gerak nasionalisme terhambat. Ia tersakralkan dan kontekstual. Seperti romantisme, ia hanya indah ketika momennya tepat. Jika terlalu banyak hanya jadi memuakkan. Seringkali, ia hanya muncul pada saat kesetiaan kita diuji. Entah dalam bentuk kecaman ketika kebudayaan kita dicuri bangsa lain atau tangisan ketika salah satu putra bangsa memenangkan olimpiade dan meraih emas atas nama Indonesia. Nasionalisme hanya jadi perekat kolektif, jadi alat politis. Ia jadi label yang menyatukan dan menggerakkan, tetapi tidak menginspirasi. Sama seperti label-label lainnya: etnis, agama, kelompok, merek, dan lain-lain lainnya.
Lantas kita jadi bertanya-tanya, apa guna nasionalisme pada akhirnya? Sering juga kita jadi terpaku pada kejayaan lampau, mengenang kehebatan-kehebatan di masa lalu. Berbagai simbol dengan lelah dibangun di berbagai lokasi hanya untuk mengenang dan mengenang, bukan untuk belajar. Nasionalisme memang diulang-ulang di berbagai orasi, pidato, makalah, dan obrolan warung kopi. Tapi apakah ia sungguh-sungguh ada? Apa ia eksis di dalam realita kita (yang dangkal)?
Kalau ya, di mana?
Atau jangan-jangan ada yang lebih nyata dan lebih kita butuhkan ketimbang nasionalisme semata?
-M O O N Y
this writing is unfinished.


