Jumat, 31 Oktober 2008

Seminar Politik dan Film Korea

Judul posting kali ini sama sekali tidak saya maksudkan untuk "meng-up-to-date" kan blog saya dengan dunia politik. Kalau untuk itu, maaf-maaf saja, rasanya saya bukan orang yang tepat. Bahkan untuk sekadar berspekulasi tentang calon mana yang paling memiliki prospek untuk menang. Judul ini juga bukan untuk menunjukkan bahwa ada hubungan antara seminar politik dengan film korea, kecuali memang benar-benar ada seminar politik tentang "Pengaruh Film Korea terhadap Hubungan Diplomatik Indonesia-Korea" (hahaha, imagine it!).

Judul posting ini, sadly, adalah bagaimana saya menghabiskan hari libur pada Kamis (29/10) kemarin. Jadi dengan niat yang mulia untuk menjadi mahasiswi FISIP yang lebih baik, saya datang ke sebuah seminar tentang perumusan agenda politik kaum muda pada pemilu 2009. Seminar yang diisi orasi dua tokoh 'muda' yang hendak maju menjadi Presiden pada pemilu 2009. Dua tokoh yang memiliki tujuan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan Indonesia yang lebih baik, bla bla.

Tidak ada yang baru. Mau apa? Yang dijanjikan itu-itu saja, titik. Yang membuat saya terkesan adalah kemasannya. *Mungkin memang benar saya orangnya sugestif, hahaha* Mungkin memang perdebatan soal usia 'tua' dan 'muda' harus berhenti pada pembahasan secara politis dan substantif. Semua ingin persaingan yang adil kan?

Yang jelas, saya tertular semangat dan optimisme dari salah satu orator. Clearly, public-speaking or a so-called retoric ability really matters, my friends. Mau maju? Tunjukkan niat untuk maju. Lagi kampanye? Akui saja kalau memang sedang berkampanye. Apa susahnya? Kan, apa yang tadinya tampak seperti kampanye yang terlalu agresif sekarang jadi tampak seperti sebuah kegigihan bagi saya. Menurut saya tidak ada yang salah untuk maju dengan kekuatan sendiri, sekecil apapun kekuatan yang dimiliki. Dibanding dengan menunggu sokongan dari kekuatan yang lebih besar baru berani unjuk gigi. Hei, ini bedanya yang tua dan yang muda! Yang muda tidak menggembar-gemborkan hal-hal seperti "sudah saatnya yang tua tut wuri handayani" atau "biarkan yang muda maju". Maju aja dulu, lalu buktikan kalau kita mampu!

Note: ini bukan kampanye terselubung, bukan ;)

Inilah cara menghabiskan hari libur yang paling produktif. Brilian. Pelajaran moral yang saya dapat amat berharga dan menginspirasi. Sungguh. Saya merasa selangkah lebih maju menuju kriteria mahasiswi ideal. Meskipun jarang nonton TV dan baca majalah Tempo hanya pada halaman terakhirnya saja tiap minggu, saya merasa hari ini saya akhirnya melakukan sesuatu yang membuat otak saya produktif di luar jam kuliah.

Berbekal keyakinan itu, sesampainya di rumah, saya memutuskan untuk sedikit bersenang-senang. Dan siapa sangka, kegiatan bersenang-senang saja mampu memberikan pelajaran moral? Hari itu penuh dengan inspirasi-inspirasi yang menggantung di udara (tsah). Masih di hari yang sama, pelajaran moral nomor dua adalah: Jangan Pernah Nonton Film Korea.

So I watched a korean movie. Gak usah tau judulnya (saking oh-my-it's-so-typically-korean-dramas). Yang jelas, pengalaman saya menonton film korea sebelumnya tidak pernah berujung menyenangkan. Sekali waktu ada film korea yang sumpah-mati, lucu gak ketulungan! Setengah film berjalan bahagia sekali, lalu di tengah-tengah film...err... KENAPA TIBA-TIBA PEMERAN UTAMANYA KENA PENYAKIT PARAH? Geez.

Tanpa kapok dan niat yang sungguh mulia untuk tidak menjustifikasi semua film korea menyebalkan melalui pengalaman sebelumnya, saya nonton film korea lagi. Korea itu bagus ya? Pemeran-pemeran ceweknya punya rambut lurus (yang tampak) alami dan karakter-karakter yang lemah lembut, hmmmph, sangat menginspirasi. Oh, setengah filmnya bagus sekali, sangat romantis dan...
KENAPA TIBA-TIBA PEMERAN UTAMANYA KENA PENYAKIT PARAH (LAGI)???

Kalau sinetron-sinetron Indonesia bisa ditebak dari plot ceritanya yang (tiba-tiba) bisa ada peri, nenek sihir, atau ibu tiri yang keji, maka korea punya plot kena-sakit-parah-lalu-mati. Bagaimanapun awal ceritanya. Which explains like, a lot. Kalau orang Indonesia itu mistis, orang Korea..mmm..tragedic?->*btw ada gak sih kata ini di kamus?*
Mending mana tuh? Disantet atau kena Alzheimer?


-M O O N Y
besok-besok, sebosan apapun, saya akan kembali kepada 90's teen-flicks. korea? nehi, thanks.

Sabtu, 25 Oktober 2008

Mainmain Gambar dan Lirik #1

Aduh-duh!
Seperti biasa, serangan UTS dan tugas-tugas menyumbat otak saya. Walhasil niat buat posting jadi enggak ada. Maklum, saya seorang pisces. Pisces itu moody. Silogisme: saya itu moody. *bukan gara2 FB juga kok, Mba Astrid, hahaha*

Bagaimanapun juga...
Pikiran-pikiran tidak harus selalu tertuang dalam bentuk tulisan. That's why I'm keeping my sketch book, though it's more like a diary. Bedanya, diary ini gak bisa sembarangan dibaca orang. Oke, dibaca bisa, dimengerti enggak, karena saya membuat emosinya setersamarkan mungkin melalui gambar-gambar tadi. Hahahahaha.

Sembari menunggu inspirasi (dan lewatnya 'badai' UTS dan tugas), majang gambar aja ya kali ini?
(ngomong-ngomong, saya baru tahu kalau bahasa Indonesia-nya upload ternyata unggah. Lucu ya, unggah dan unduh, tapi kenapa saya jadi ingat jenis-jenis serangga?)


monggo, di-klik untuk liat ada lirik KLa yang mana aja disini :)


Ini adalah fragmen-fragmen beberapa lirik lagu yang saya buat saat mendengarkan CD KLa Project. CD itu sampai baret, parah sekali. Mulai track 6 sudah macet kalau dimainkan di player, hehehe. Tapi saya, lewat kesempatan ini, ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada KLa Project, yang telah menjadi (salah satu) sumber kewarasan dan juga mind-tickler bagi saya--berdampingan dengan pensil mekanik dan selembar kertas putih kosong--beberapa tahun belakangan ini.

Kenapa saya pilih gambar ini? Karena oh karenaaaaaa, the original KLaProject is back! It's, again, like one of my wildest dreams come true!


-M O O N Y