Selasa, 04 Juli 2023

Anamnesis

Nggak ada obat lebih mujarab untuk semua prahara hidup, kecuali nulis. Hal ini yang akhirnya, di suatu hari yang cerah di awal bulan Juli 2023, bikin saya terinspirasi untuk kembali menghidupkan blog ini. Harusnya judulnya bukan anamnesis lagi, tapi resurrection. Tapi gak apa-apa, anggap si manusiadaribulan (sebuah judul blog yang rasanya labil, kadang bikin malu, tapi harap maklum karena ini nama yang dicetuskan remaja usia 18 tahun yang dulunya gagu dan ngerasa punya nyali kalau bulan lagi terang benderang aja) ini akhirnya sembuh dari sakitnya. Ibarat anamnesis yang sesungguhnya, malam ini dia sedang berusaha menilik kembali apa saja riwayat sakit yang bisa bikin dia lumpuh menulis. 

Padahal kalau dipikir-pikir, blog ini sudah lebih dari 15 tahun umurnya. Nggak hebat-hebat amat sih, tulisannya juga nggak banyak dan seringnya cuma serak-serakan kutipan buku, film, atau lagu saja. Tapi dalam 15 tahun terakhir ini, ternyata sudah banyak betul yang terjadi. Dari awalnya cuma bisa nulis di blog kalau laptop kakak sepupu nganggur nggak dipakai, sekarang sudah bisa nulis dari laptop sendiri tanpa rasa deg-degan takut laptopnya mau dipakai. Dari segi playlist saat menulis sih jelas nggak berubah, yang selalu membuat saya bengong sebentar tiap lagi nulis (#np Ari-Reda, Akulah si Telaga, yang selalu bikin penasaran apakah Sapardi Djoko Damono punya sinestesia juga karena bisa membayangkan harumnya cahaya?). Selalu, akhirnya kembali dipanggil ke sini, seakan halaman putih blogspot yang layoutnya udah lama banget nggak ganti-ganti ini punya kekuatan AI yang mistis untuk memanggil jiwa-jiwa blogger yang tersesat lama di rutinitas berisi laporan, Zoom meeting, grup Whatsapp, cuci baju, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. 

Karena itu, saya kembali. Nama blog-nya nggak usah diganti, biar nggak lupa sama betapa katronya diri ini dari dulu sampai sekarang. Masih diri yang sama, yang berusaha untuk konsisten merancang kejadian-kejadian fiktif di dalam kepalanya yang padahal nggak akan kejadian sampai kapan pun juga, sambil berpura-pura menjadi makhluk bumi yang produktif. 

Kapan ya ini nulisnya?

Di sini, hari ini, ada yang membuat senang meski sepele. Ada pertanyaan tentang buku-buku apa yang harus dibaca, yang sekarang sedikit menggelitik karena: kenapa ya, yang aku rekomendasikan lebih banyak buku-buku yang ditulis oleh laki-laki? Di sini, hari ini, ada yang membuat senang: keinginan untuk menulis yang tiba-tiba melesakkan dada, rasa ingin tahu yang tiba-tiba tentang kabar kata-kata di pelosok-pelosok kepala, ucapan selamat datang kepada semua memori dari bertahun-tahun yang lalu saat aku jauh lebih muda. Betapa lucu dan absurdnya hidup ini. Hal-hal yang tidak berguna seperti paragraf tentang Aureliano yang melihat es batu bisa lebih melekat dibanding interpretasi Barthes tentang mitos dan kuasa, misalnya, yang mestinya jauh lebih berguna. Aku dan memori-memoriku yang tiba-tiba meledak ini. Bukan apa-apa, kalau begini aku jadi ragu-ragu pada kemampuan berbagai macam zat (substance) yang sering digadang-gadangkan sebagai pemicu ingatan-ingatan. Dan kalau sudah begini, aku ragu-ragu (lagi-lagi) tentang waktu, yang ternyata tidak hanya membawa kita ke mana-mana, tapi juga membuat kita tidak ke mana-mana. Di sini saja, duduk dengan kaus hitam dan celana pendek biru. Di sini saja dengan perasaan marah yang mengendap bersama rasa ingin tertawa sepuas-puasnya. Mengapa kamu begini terus, tidak berubah-ubah juga? Dan sudah tahu pertanyaan itu pertanyaan paling sulit di dunia, tapi masih saja kamu pikirkan juga jawabannya.

Hari ini aku menonton Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Meski dulu sempat membaca bukunya, aku baru sadar betul apa makna judul itu setelah menonton filmnya. Memang ada hal-hal yang harus kita tuntaskan bukan untuk memaafkan orang lain, tapi untuk memaafkan diri kita sendiri. Sisanya tidak terlalu penting lagi, karena kita bisa hidup nyaris dalam kondisi apapun (sebenarnya) jika batin kita tidak lagi digelayuti berbagai beban yang tidak perlu. 

To The Ladies I Pray For

Tanteku bercerita tentang nenekku yang selalu menyimpan sehelai popok lansia cadangan di bawah bantal sebelum tidur. Dari situ aku tahu dari mana kebiasaanku menyimpan barang-barang di tempat yang tidak terduga kuperoleh. Nenekku sangat keras kepala dan tidak mau dibantu dalam melakukan hal-hal yang baginya sepele. Setiap malam tante dan nenekku tidur di ranjang yang sama--nenekku di sisi yang dekat dengan pintu kamar mandi, tanteku di sisi yang dekat dengan meja kecil yang di atasnya menyala radio kecil yang memutar lantunan kitab suci dan terjemahannya. Setiap pagi, nenekku pindah ke kamar pribadinya membawa selimut yang dilipatnya sendiri. Tanteku bercerita bagaimana mereka tertawa di suatu pagi karena mendapati tiga helai popok di bawah bantal nenekku. Rupanya tanteku juga suka menyelipkannya di bawah bantal nenekku tanpa memberitahu. Mereka tertawa geli--tanteku yang baru berulang tahun ke-69 Januari lalu dan nenekku yang tahun ini harusnya berumur 94, jika ia masih ada. Mereka berdua sama-sama bershio ular, dan aku diam-diam suka merasa senang karena punya shio yang sama dengan mereka. 

Kadang mataku basah jika mengingat jasa mereka berdua dalam membesarkanku. 

Tonight the Streets are Ours

I love and have loved many objects in life. For many years, I think since I was very little when my mom took me on many road trips, I have been fond of streets and roads, yet as I grow older I can say that walking is one of my long-lasting passions. Since I began to work professionally about ten years ago, I am lucky enough to have so many chances to travel to many places in the country and overseas. I never really dive deep into the reasons why I'm drawn to the act of walking or moving in general. As I'm writing this, I realized that this is a subject that I discussed quite often with Riri Riza and he once mentioned about moving as the consequence of realism in cinema (or something like that). The film's characters can only be developed realistically by fitting them into their surroundings and how the characters can expand/grow only when their surroundings are constantly expanding too. For me, though, the act of moving by feet is spiritual. Whenever I see things and people on the streets I feel more connected to the world and to myself simultaneously. I can never remember the details of the streets I've walked or passed on, but I can remember the exact feelings. It's funny to think that whenever I walk in silence or whenever I think about the memories of walking afterwards I always have the similar impressions or feelings, which are the feelings that I'm old but  everything is possible in life.

In this lifetime I think I envy Paul Salopek the most. He's a journalist for National Geographic and a Pulitzer winner who is currently on a mission that called "Out of Eden Walk". I've never wanted anything from this life but the opportunity to walk around this earth. In fact, I think to walk around the earth is the sole purpose we're created as bipedal creatures. Paul also proves that walking or traveling is not a young man's obsession to just see the world and to have as many experience as he can. Instead, it's an honorable and deliberate choice somebody makes to have the courage to leave a comfortable and predictable life behind. It's argued that one must have been privileged enough to have a deliberated choice to "leave", because in many cases around the world some people don't actually have other choices but migrating out of their homes and seek for asylum in unwelcoming places. Which made me realize that walking, just like other things in life, is perhaps only enjoyable if you have the freedom to do it.