Sabtu, 21 Juni 2014

Lamun

Satu-satunya yang menarik buatku dari pertemuan sore itu adalah pemandangan kedua tas kami yang bersisian di atas kursi. Begitulah, sementara dia dan saudara-saudaraku yang lain bertukar cerita dengan seru, cerita yang awal dan tengahnya aku tak tahu karena terlambat hadir, cerita yang sepertinya akan agak panjang dan bercabang karena semua ingin ikut ambil bagian di dalamnya, aku tercenung memperhatikan tas kulit warna oranye berukuran sedang itu. Tas itu tidak mencolok karena warna atau ukurannya. Tas itu, sebaliknya, tampak lucu karena sepertinya hanya berisi dua atau tiga barang, sehingga sia-sialah sisa ruang dalam tas yang cukup bagus itu. Terkaanku tas itu hanya berisi dompet dan sisir, mungkin juga charger ponsel dan sebotol parfum. Aku melamun sendiri, mungkin akan menyenangkan sekali membawa-bawa tas yang di dalamnya berisi benda-benda yang sederhana. Tas yang di dalamnya tidak ada alat makan, sikat gigi, obat-obatan, jaket hujan, payung dan buku bacaan. Tas yang seakan-akan pemiliknya tidak siap untuk kabur kapan saja. Tas yang pemiliknya tidak perlu khawatir akan kehujanan atau terjebak dalam kerusuhan mendadak di jalanan sehingga tak bisa pulang. Tas yang pemiliknya tahu persis di mana rumahnya, di mana tempat barang-barangnya tersusun dan tidak akan diganggu oleh siapa-siapa. Tas yang pemiliknya tahu, tanpa susah payah, akan selalu ada yang membantunya dan dia tidak pernah sendirian dengan masalah-masalahnya saja. Kulirik saudara-saudaraku, seperti biasa terheran-heran betapa jauh kami telah tumbuh dewasa dan menjadi begitu berbeda. Semakin tersadarlah aku, satu-satunya ruang untukku adalah di dalam kepalaku sendiri.

Sabtu, 14 Juni 2014

Sesuatu yang "sepenuhnya melompat-lompat dalam kesadarannya sendiri"

Pagi ini, nyaris tidak merasa bersalah sama sekali pada tanah yang lembab dan hitam pekat, pada pakaian yang basah kuyup, dan pada berbagai macam serapah yang terlontar di udara atas padatnya jalan raya dan ruang-ruang di antaranya, saya duduk menikmati segelas teh dingin dan membaca esei Tagore yang berapi-api menerangkan tentang kesatuan kreatif. "Kebenaran adalah keindahan, keindahan adalah kebenaran," tuturnya. Siapa saja boleh berdebat panjang lebar tentang premis tersebut, terlebih di masa segala sesuatu terasa artifisial seperti saat ini. Tapi bagaimana jiwa menemukenali keindahan? Mungkin memang tidak rumit. Karena pada segala sesuatunya ada keindahan, jika kita melihat sesuatu adalah bagian yang tak terpisah dari sesuatu yang lain, semacam kesatuan dari hal-hal yang luput kita beri apresiasi. Tumpukan sampah, kerutan wajah, hari yang berputar terlalu cepat dan ketergesa-gesaan, karbon monoksida dan sumpah serapah, semuanya membentuk keindahan dari fragmen kehidupan sehari-hari. Melebihi segala hal, jangan ragu bahwa Tuhan adalah yang maha indah, dan inilah dunia, manusia, hidup, ciptaannya, manifestasinya.

Januari 2013. "Masa lampau adalah seperti mimpi," tulis Gie pada 17 Desember 1961.