Sejak kecil saya percaya pada mimpi-mimpi yang saya alami saat saya tidur. Meski tidak selalu ingat persis, ada beberapa tema yang muncul secara berkala: Ular, Gigi, dan Langit.
Dalam sebuah buku tafsir mimpi bersampul tebal (saya lupa buku tafsir mimpi ini riwayat siapa), saya menemukan kutipan salah seorang cucu Nabi Muhammad (maaf, saya juga lupa persisnya kutipan dari Imam yang mana): Tuhan memberikan mimpi agar kita tahu bahwa tak segala sesuatu mesti diyakini, tetapi sekaligus juga agar kita tahu bahwa segala sesuatu punya arti. Tahukah anda bahwa jin, misalnya, tak mungkin masuk dalam mimpi?
Tema ular secara berkala masuk ke dalam mimpi-mimpi saya. Saya sendiri lupa sejak kapan awal mulanya, mungkin sejak saya melihat kepala ular yang melintas di balik rumput-rumput di dekat SD saya dulu. Memang dari dulunya sudah takut pada hewan-hewan melata, saya rasa ketakutan tersebut terus mengendap di bawah sadar. Beberapa kali saya mimpi ada ular di dalam rumah, warnanya kadang hitam, kadang putih, pernah juga sekali warnanya hijau. Saya pernah mimpi ular raksasa yang menggigit kepala adik perempuan dan sepupu saya sampai putus. Pernah juga sekali mimpi ular makan tikus. Untunglah kata beberapa orang, ular artinya bagus--bisa berarti rejeki atau jodoh.
Munculnya gigi dalam mimpi sudah jelas mengerikan. Hampir semua orang tua berkata bahwa gigi yang patah berarti akan ada kerabat atau kenalan yang meninggal di dunia. Sejak tahu bahwa artinya sebegitu buruk, saya menyimpan mimpi-mimpi gigi saya patah diam-diam. Lebih sering gigi atas dibanding gigi bawah, tetapi selalu gigi geraham. Bahkan sekali waktu saya pernah mimpi gigi saya satu mulut copot semua!
Sebuah kematian sanak saudara membuat saya tak bisa lagi diam-diam saat bermimpi gigi. Beberapa bulan yang lalu, sepupu Ibu saya meninggal dunia dua hari setelah saya dan ibu menjenguknya di Rumah Sakit. Ketika beliau wafat, saya bilang pada Ibu bahwa saya mimpi gigi saya patah beberapa hari sebelumnya. Kontan Ibu saya sedikit gusar, berkata bahwa lain kali saya tak boleh lagi merahasiakan mimpi gigi saya. Ibu saya menyesal karena sepupunya belum sempat bertemu dengan saudara-saudaranya yang lain untuk terakhir kalinya. Dua minggu yang lalu, saat saya mimpi gigi saya patah lagi, saya langsung mencari Ibu dan bertanya apa ada saudara kami yang sedang sakit. Ibu saya bilang rasanya tidak ada, tetapi dua hari kemudian Nenek memberi tahu bahwa saudaranya meninggal dunia.
Oke, mari kita berhenti bicara tentang mimpi gigi dan pindah ke mimpi langit, karena mimpi-mimpi dengan tema langit lebih bagus dibanding mimpi dalam dua tema sebelumnya. Saat SMA, saya pernah bermimpi memandang langit dan berdoa dalam hati. Sebuah bingkisan kado lalu turun dari langit, jatuh dan melayang bebas, tetapi bingkisan tersebut jatuh ke tangan adik perempuan saya. Kami sedang berjalan berdua di sebuah jalanan yang panjang dan langit berwarna biru tua. Sekali saya mimpi ada dua bulan di langit. Sekali saya juga bermimpi terbang dari tempat saya tinggal, melintasi langit, sampai ke sebuah negara yang asing seperti 1001 malam. Mimpi langit ini sudah pasti mimpi yang paling bikin berdebar-debar saat bangun tidur, tapi sayangnya paling jarang..
Dari mimpi-mimpi tematik, saya juga ingin bercerita tentang mimpi-mimpi fantastik. Diberi judul fantastik karena mimpi-mimpi ini pada akhirnya punya signifikansi dengan alam sadar (cuih, bahasa apa ini!). Pertama (dan ini mimpi yang saya tidak pernah lupa), saya pernah mimpi sedang ada di SMA, semua murid memegang tang dan sibuk mencari kabel bel sekolah yang tidak mau berhenti berdering. Seharian kami semua mencari kabel yang bisa menghentikan dering bel, tetapi kabel misterius itu tak kunjung ditemukan. Saat saya terbangun mendadak dari mimpi itu--tebak apa! Ternyata jam weker di kamar saya sudah berbunyi nonstop lebih dari satu jam sampai suaranya melemah. Bangun-bangun lalu terpingkal-pingkal, menertawakan koherensi mimpi dan kenyataan, itu rasanya aneh, absurd, dan lucu banget!
Mimpi fantastik kedua adalah mimpi berkunjung ke rumah salah seorang teman saya, Astari. Dalam mimpi tersebut, saya ada di rumah Astari yang luas, bertembok putih, dan terdiri dari dua lantai. Di rumahnya banyak perabot kayu dan lantainya ubin putih besar-besar. Saya ingat dalam mimpi itu saya naik ke lantai dua rumah Astari dan melihat kursi goyang. Dari lantai dua rumah tersebut, saya bisa melihat ke bawah sambil bersandar pada teralis-teralis kayu. Mimpi ini begitu detail, padahal saya sama sekali belum pernah ke rumah tersebut. Jadi, bayangkan betapa tercengangnya saya saat melihat rumah Astari pada akhirnya--yang ternyata benar-benar sangat luas, berperabot kayu, dan berlantai ubin putih. Saya sebenarnya lupa betapa rincinya mimpi saya sampai saya naik ke lantai dua rumah Astari dan melihat kursi goyang!
Yah, barang kali mimpi memang tak harus diyakini. Barang kali mimpi, dalam manfaatnya yang paling mudah kita rasakan, semata untuk membuat kita tercengang dan mensyukuri apa yang sesungguhnya ada di dalam batok kepala masing-masing.
"The trick is to combine your waking rational abilities with the infinite possibilities of your dreams, because if you can do that, you can do anything." (Guy Forsyth, dalam Waking Life)
-M O O N Y
Beberapa menit terakhir penulisan posting kali ini diiringi dengan celoteh ribut adik perempuan dan dua sepupu saya yang datang menginap. Berikut saya lengkapi dengan sedikit transkrip:
Icha (21 tahun): "Mimpi tuh cuma bunga tidur atau hal yang lagi kita pikirin banget." --> Dan kalimat ini terlontar dari makhluk hidup paling sering ngigo di dunia.
Dila (16 tahun): "Ga tau." (sambil mengunyah keripik kentang) --> Harap maklum, sistem kesadarannya sudah melemah setiap melewati pukul dua belas malam.
Sahira (19 tahun): "Katanya kalau mimpi yang bagus, nggak usah diceritain. Tapi kalau mimpi yang jelek baru diceritain biar mimpinya nggak jadi kenyataan." --> Sepertinya agak sedikit lebih bijaksana kalau nggak makan bakso dalam satu hari.. :p