Kamis, 28 Agustus 2014

Tentang Bulan yang Begitu Panjang

Dari satu berderet hingga tiga puluh satu. Rangkaian panjang dua puluh empat jam yang di dalamnya aku bergelut sengit dengan keinginan untuk hidup yang begitu kuat dan keinginan untuk berbaring diam yang sama kuatnya. Ada tangan-tangan panjang yang menarikku dari keinginan yang kedua, sesaat terasa seperti sebuah berkah yang muncul tiba-tiba. Ada sesuatu yang pasti, pasti dicecapkan paksa ke dalam diriku, hingga setiap hari melambat, gambaran-gambaran besar terlihat jelas, setiap orang dan topik jadi menarik, setiap momen jadi berarti, detik-detik yang kupikir, "Inilah dia, carpe diem." Naturally high. Aku takut untuk tidur berhari-hari, takut ketika terbangun aku sadar dan keinginan kuat yang bertentangan dengan vitalitas datang lagi. Apa ini, pikirku takut. Sementara tanggung jawab bertumpuk, ocehan-ocehan tentang menjadi dewasa terngiang di telinga tanpa jelas apa maunya, hebat sekali jika kewarasan tetap di garis ambang kesadaran setiap hari. Ini masih tanggal dua puluh saja, pikirku kelu. Naik, turun, akulah penumpang yang duduk paling depan di permainan roller coaster hari-hari ini. Di usia ini, apakah terlalu cepat jika berpikir tentang mati? Apakah terlalu tua untuk menggelinding saja dari hari ke hari, berharap andai saja itu kita yang mengejar daun kering di jalanan bekas hujan dan bukannya bekerja untuk sesuatu yang tak tahu apakah masih akan kita yakini esok hari?

Dua puluh delapan. Kita lihat siapa yang menang di tiga puluh satu nanti, Gus.