Minggu, 22 November 2009

On Phantasmagoria

Perkenalan saya dan video-art bermula sekitar awal tahun 2009, ketika saya untuk pertama kalinya menyaksikan video-video ini dalam kompilasi OK.video Festival di suatu acara kampus. Dan sejak itu, sepertinya saya langsung jatuh cinta pada video-art ini. Saya ingat betapa terpukaunya saya pada ide bahwa setiap orang bisa mensenjatai dirinya sendiri untuk melawan realitas yang dikonstruksi media massa dengan menciptakan realitas sendiri, melalui 'perkakas' simpel seperti handy-cam atau bahkan video-camera yang terintegrasi di ponsel pribadi.



Di cerpen Kompas minggu lalu, Phantasmagoria, Satiagitaya sang pengarang menggambarkan phantasmagoria sebagai keterjebakan manusia modern di dalam teknologi seperti ponsel dan internet. Singkatnya adalah hiperrealita. Ternyata hiperrealita menciptakan realita personal, bukan lagi realita yang dibagi bersama. Menarik juga sih, ternyata senjata untuk memerangi realitas yang menyebalkan dimana kita menjadi objek di dalamnya adalah hiperrealitas, ketika kita bisa berkuasa sebagai subjek.

Tapi sampai disini saya pun jadi bertanya mengenai definisi realitas dan hiperrealitas. Tokoh Tanata terjebak dalam phantasmagoria-nya sendiri ketika berjumpa dengan Marianne, cinta lamanya. Sedangkan di akhir cerita ia lah yang menertawakan semua orang yang terjebak dalam phantasmagoria. Tanata menertawakan keluarganya yang 'heboh' memberitakan hilangnya dia melalui status facebook (mungkin juga twitter atau plurk, hahaha..). Saya pikir, phantasmagoria pertama tidak bisa dibedakan dengan semacam euforia, perasaan gembira yang meluap-luap. Sedangkan phantasmagoria kedua lekat dengan narsisisme, ketika melalui teknologi, manusia menjadikan dirinya subjek yang menciptakan realitasnya sendiri.

Saya tidak ingin memulai bertanya-tanya, tetapi ternyata terjebak juga dengan pemilahan mana yang real dan yang mana yang hiperreal. Saya pikir, kita juga terjebak ketika mulai menetapkan bersama bahwa inilah yang real, padahal setiap orang punya pemaknaan yang berbeda atas realitas mereka. Melalui video-art ini misalnya, saya bingung yang dikritik itu realitas atau hiperrealitas? Tapi mungkin kita hanya sudah muak menjadi objek, dan mungkin tidak penting lagi mana yang nyata, mana yang tidak nyata. Lagipula, kenapa segala sesuatu yang tidak kasat mata lantas dinobatkan menjadi "tidak real"? :)

-M O O N Y
Oh, mungkin saya sendiri sekarang ada dalam Phantasmagoria. Entah itu, atau entah overdosis Nasi Uduk seharian ini. Hahahaha..


Kamis, 12 November 2009

Gerutuan tentang Bahasa dan Proses Meta-Metaan

Mana yang lebih parah, menghina mereka yang senang menggunakan istilah-istilah asing dalam percakapan sehari-hari ketika ada kata dalam bahasa kita sendiri yang juga bisa digunakan, atau menghina mereka yang senang menggunakan kata-kata dalam bahasa kita sendiri tapi mengubah pemaknaannya?

Saya juga kerap kali dihujat oleh teman saya karena menggunakan istilah 'alay' yang merujuk pada golongan tertentu. Katanya saya bersikap menghakimi. Tapi ketika saya bilang alay, dan dia bilang "jahat loe", berarti dia tahu apa yang saya maksud dan juga ikut menghakimi, bukan? Ha!

Mungkin ini efek samping dari pembelajaran aspek apapun secara vertikal ketimbang horizontal. Kalau ada yang namanya metateori, saya bikin istilah sendiri yaitu 'metabelajar', hahaha. Metode ini bukan melakukan refleksi terhadap proses belajar (seperti metateori terhadap teori), melainkan sebuah titik kulminasi setelah bulan-bulan yang melelahkan dan membuahkan pertanyaan besar: kenapa sih saya belajar???? (Yang, tentu saja, dapat dengan mudah dilecehkan sebagai gerutuan mahasiswa sok tahu yang sok berfilosofi, hihihi).

Tapi jangan remehkan proses meta-meta-an ini. Proses ini yang melahirkan keragu-raguan, dan tanpa ragu-ragu kita tidak akan pernah yakin terhadap sesuatu. Kata Jeffrey Lang, "aku menggugat maka aku kian beriman".

Seperti biasa, pembelaan saya: Orang yang bilang orang lain berpandangan sempit adalah orang yang sebenarnya juga berpandangan sempit! :p