Pada detik-detik menginjak usia 24 tahun berbulan-bulan yang lalu, ada dua doa yang saya ucapkan sendiri di tengah malam. Persis beberapa jam sebelumnya saya mendapat berita tentang kematian seorang teman lama, sehingga doa pertama terhantar untuk dia. Doa kedua adalah agar di usia ini, saya tak harus bangun setiap pagi untuk menghadapi fakta bahwa ada hal-hal yang tak bisa lagi saya percaya di dunia ini. Dan sekali lagi, misteri yang besar di atas sana--begitu suku Indian menyebutnya, terlalu serius menanggapi doa tersebut.
Saya tidak tahu apakah kemampuan kita untuk percaya adalah sebuah anugerah atau kutukan. De omnibus dubitandum, kata Descartes. Doubt everything, usulnya, agar kita tak pernah berhenti untuk ingin tahu. Tapi saya pikir rasa percaya jugalah yang mendorong keragu-raguan itu. Dan sayangnya, setiap bentuk kepercayaan (entah itu trust, belief, atau faith) mempertaruhkan sesuatu yang sangat besar dan sesuatu itu lebih sering dicederai dibandingkan dijaga baik-baik. Orang tua, negara, media, sejarah, internet, tetangga sebelah, teman baik, dokter, United Nations, lembaga penyalur zakat, pengemis dan pengamen, dan Ya Tuhan.. jangan lupa Tuhan--seluruhnya kita percaya dan kita ragukan dari waktu ke waktu. Saya yakin tidak ada yang terlahir dan kepingin jadi nihilis, tapi apa boleh buat, kadang-kadang kita bingung juga kenapa matahari terbit setiap pagi tapi lalu tersadar ada dua puluh lima perempuan yang mengalami kasus pelecehan seksual tiap detik, atau Syiah yang masih saja digusur dari tempat mereka sendiri, atau hakim agung korup yang pernah menulis buku tentang anti gratifikasi... Lalu kita dipaksa menelan semua oksimoron yang bercampur dengan racun monoksida ini setiap hari. Dua puluh empat jam per hari, untuk berapa lama lagi? Tidak heran Sondang Hutagalung dulu membakar dirinya sendiri.
Begitulah, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat kuat namun sekaligus sangat rapuh. Ia juga entitas yang tak bisa hidup dalam kerumunan yang tidak pernah mendasari tindakannya dengan akal sehat.
