“Mungkin”.
Pernahkah anda terperangah pada kemampuan sebuah kata untuk mendeskripsikan sesuatu? Seperti mungkin yang menunjukkan suatu keraguan, sama seperti kata pasti yang berarti mutlak. Nah, kalau dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada satu hal pun yang objektif, bahwa setiap hal memiliki dua sisi, maka kata-kata lah sebagai hal yang objektif. Apa yang subjektif adalah representasi bagaimana kata-kata membentuk makna.
Ketika dikatakan “sendok”, maka representasi kata tersebut adalah sendok itu sendiri. Bukan garpu maupun pisau. Namun bagaimana ketika dikatakan “alat makan”? Maka bisa jadi sendok, garpu, pisau, maupun piring. Semua hal itu relatif, tapi tidak dengan kata-kata.
Ah, saya selalu terpukau pada kata-kata. Bagaimana kata dapat membentuk makna, dan bagaimana makna dapat membentuk rasa. Bagaimana sebuah kata diciptakan. Bagaimana kata “kata” sendiri itu diciptakan.
Ketika sebuah kata berdiri sendiri, ia tidak relatif. Ketika sebuah kata bergabung dengan kata lainnya, ia tidak lagi tidak relatif.
Adakah begitu juga adanya seperti manusia, yang selalu dipengaruhi oleh manusia-manusia di sekelilingnya? Adakah manusia menjadi tidak relatif apabila ia sendiri? Adakah manusia menjadi konsisten dalam kesendiriannya? Adakah kompromi dalam kesendirian?
Adakah manusia diciptakan untuk menjadi relatif?
Tapi apakah, layaknya kata yang tidak relatif, setiap hal mampu berdiri sendiri?
“Ya, mungkin..”