Minggu, 13 Februari 2011

(Not So) Cheesy Pop Song

"Well, I always kind of wanted to write a book that all took place within the space of
a pop song, you know, like 3 or 4 minutes long,,"

Saya rasa saya ketemu apa yang dimaksud Ethan Hawke dalam Before Sunset tersebut. Tipe lagu yang seketika didengar langsung membuat anda ingat berbagai macam rasa--dalam beberapa sisi heartwarming sekaligus melankolik. Padahal lagu itu begitu.. well, pop. Bukan lagu macam-macam tentang hidup yang dikemas dengan kata-kata rumit.

Jesse mendeskripsikan sebuah momen dalam momen, momen-momen yang bergerak secara simultan. Barangkali tanpa kita sadari, seperti itulah kerja lirik dalam sebuah lagu. Dengan cerita yang berjalan, tak harus linear, yang berawal dari sesuatu sesederhana tarian yang tak direncanakan. Dan tentu saja, esensi paling utama yang membentuk cerita: gagasan. Gagasan yang muncul dari kejernihan, yang lalu dari situ segala sesuatu selanjutnya berjalan dan berjalinan membentuk cerita keseluruhan.

"You put the beautiful in life."

*****

He knows he's not remembering this dance.
He's there!
He's there in both moments simultaneously.

And just like for an instance, all his life is just folding into itself,
and it's obvious to him that time is a lie.

That's it's all happening all the time,
and inside every moment is another moment.
All happening simultaneously.

(Jesse Wallace, Before Sunset)

*****

Banyak waktu terlewat tanpa kita pernah sadar atau ingat persis apa yang sebenarnya terjadi. Ann Brashares, dalam rangkaian seri Traveling Pants-nya, pernah berkata bahwa kita barangkali terlalu risau tentang yang "sebenarnya" dalam sebuah momen ketimbang perasaan kita sendiri saat mengalami momen tersebut. Jika kembali diingat-ingat, berapa persen dalam sehari kita sungguh-sungguh ingat apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan semata rekayasa perasaan kita sendiri?

Dalam setiap momen terdapat momen lainnya. Seperti saat ini, tepat saat menulis ini, saya mendengarkan lagu yang bercerita tentang sebuah lagu. Di dalamnya ada Jesse yang berkisah tentang seorang pria yang bermimpi menjadi petualang, bukan duduk di meja marmer dan memakan sepiring lobster. Bukan tentang seseorang yang.. kaku dalam memaknai peristiwa. Tetapi ia yang ada sekaligus tak ada dalam momen, membiarkan dirinya melompati waktu dan ruang yang kasatmata.


-M O O N Y
ditemani album Slice dari Five for Fighting dan termangu sesaat ketika mendengar track berjudul This Dance. Lagi-lagi mengingat potongan Before Sunset (rasa-rasanya setiap postingan tentang ini harus mulai diberi label "Before Sunset" sendiri). Teringat potongan percakapan dengan seorang teman juga, katanya, "Tahu nggak, kenapa kebanyakan cowok lebih suka Before Sunrise? Soalnya mereka tuh maunya cuma fooling around, tanpa ikatan." Ah, another words of wisdom from you, Miss Madeline! :)