Sabtu, 25 Maret 2017

Buku Wajib

Pekan lalu, seorang teman mengajak saya ke toko buku Post di Pasar Santa, Jakarta, untuk mampir membeli buku. Dia berniat membelikan saya buku Howl karangan Allen Ginsberg. Kami tiba di sana di tengah hujan lebat, toko yang terlambat buka, dan penjaga toko hari itu yang bilang bahwa stok buku Howl sudah habis (lagi). Teman saya menawarkan saya untuk membeli buku lain, dan saat itu, saya tidak ragu-ragu untuk minta dibelikan Hidup di Luar Tempurung-nya Benedict Anderson. Sudah agak lama, buku ini direkomendasikan oleh beberapa orang yang saya kenal, tapi saya tergerak untuk membaca ini segera setelah saya bertemu teman saya di Pamflet, Fahmi, salah satu pembaca buku sejarah tergiat yang pernah saya kenal.

Saya tahu buku ini akan segera jadi buku favorit saya setelah saya membaca halaman pertamanya. Sampai di halaman 105, persis di tamatnya bab "Kerja Lapangan", saya tahu buku ini akan jadi salah satu buku wajib saya setelah Catatan Seorang Demonstran dan Motorcycle Diaries. Ada banyak buku yang suka saya baca berulang-ulang, tapi dua buku tadi adalah dua buku yang paling saya sayang--dalam arti saya bawa ke mana-mana dan saya coreti dan saya lipat-lipat sampai kelihatan jelek. Yang pertama semacam 'tuntunan' masa SMA dan kuliah, yang kedua 'tuntunan' di tahun-tahun pertama bekerja.

Membaca Hidup di Luar Tempurung saat ini jadi terasa seperti semacam cambukan untuk memikirkan banyak hal secara lebih serius. Saya belum selesai membacanya, tetapi bagaimana Ben Anderson mengartikulasikan sejarah hidup dan pikirannya betul-betul membuat saya terkesan. Sekarang ini saya baru selesai membaca bab Kerja Lapangan yang membuat saya sulit tidur. Setelah selesai, saya akan cerita kenapa.

Minggu, 19 Maret 2017

Modeh Ani di era internet!


Julus adalah salah satu track yang ada di album Junun, proyek kolaborasi penyanyi Sufi dari Israel, Shye-Ben Tzur, bareng Jonny Greenwood dan The Rajasthan Express. Saya pertama kali tahu tentang album ini dari teman saya, Fani, dan sebenarnya tercabik antara harus bilang makasih atau sialan lo, Fan. Soalnya, saya jadi susah buat berhenti dengerin album ini bahkan walaupun saya nggak tahu arti dari lirik lagu-lagunya, padahal saya jarang-jarang suka lagu yang saya nggak bisa ngerti maksudnya. Judul dan lirik tiap lagu dalam album ini diambil dari bahasa Ibrani, Hindi, dan Urdu, dan kecuali niat banget, kayaknya kita cuma bisa mencari arti dari tiap judulnya di Internet.

Baru malam ini saya coba Googling lagi pakai kata kunci "Junun" dan "Lyrics" dan ternyata sudah ada yang mengunggah buklet lirik albumnya di Reddit! Jadi, makasih banyak Tor Browser, makasih banyak untuk user dengan id reckonator, saya jadi tahu kalau lagu Julus ternyata betulan untuk Imam Ali. *nangis terharu*

Yang malas buka Reddit pakai VPN atau Tor, silakan langsung unduh bukletnya di sini. ;-)