Rabu, 24 September 2008

Can I Call It a "Mudik Inspiration"?

Yippie!
Akhirnya oh akhirnya, setelah hampir setahun menanti, film Laskar Pelangi rilis juga... Dan yang buat saya salut, pertama, adalah tanggal rilisnya yang tepat waktu (gak pake delay2 kayak Lion Air), hehehe. Kedua, filmnya pun sangat bagus. AMAT sangat bagus. What's not to like? Cut Mini sebagai Bu Mus dengan akting yang sangat brilian? Alam Belitong yang (ternyata) sangat indah? Ikal, Lintang, dan Mahar kecil yang sangat ekspresif? Wuiih.. saya rasanya mau2 aja kalau disuruh nonton 5 kali berturut-turut.. :)

Mau gak mau, film ini juga ngingetin saya sama mata kuliah Sosiologi Pendidikan. Pak Paulus sang pengajar ngasih tau bedanya aliran fungsional dan konflik dalam memandang pendidikan. Kalau fungsionalis beranggapan pendidikan sebagai Human Capital, sebagai sarana untuk memperoleh status individu yang lebih baik dalam masyarakat, aliran konflik menganggap pendidikan pun didominasi oleh kaum ekonomi kelas atas, dan pendidikan akhirnya hanya jadi alat untuk reproduksi kelas.

Singkatnya, beliau juga bilang bahwa salah satu pemecahan terbaik dalam bidang pendidikan ini adalah Affirmative Action, tindakan mendiskriminasi negatif (dalam hal ini kelas ekonomi atas) agar kelas bawah juga memiliki kesempatan yang sama dengan kelas atas dalam mengakses pendidikan. Misalnya dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) buat sekolah2 negeri, atau Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Nyatanya tindakan afirmatif ini juga tidak efektif... gimana mo efektif, wong dana BOSnya dikorup sana-sini, dana BLT nyasar nyampenya, dan kalopun BLT dikasi ke orang yang berhak juga duitnya dibakar (baca: buat beli rokok!). Saya merasa ada sesuatu yang terlewat, dan faktor-faktor yang menghambat pemerataan kesempatan pendidikan jadinya bukan hanya faktor struktural dan kultural..

Something's missing til I think of Lintang. I think of Denias. Dan mungkin juga beribu-ribu orang hebat lainnya yang lahir di tengah-tengah kondisi ekonomi keluarga yang kurang beruntung. Dan hal itu adalah: Motivasi. Ya, masalah merata atau tidaknya pendidikan tidak selalu harus dianalisa secara makro. Bagaimana kita menumbuhkan motivasi belajar, mungkin itu yang sebenarnya terlewat...

*Bagaimana kita melihat bangsa kita yang selalu "diinjak-injak" bangsa lain (bahkan ama sodara kita yang katanya serumpun..), bagaimana kita melihat sumber daya alam kita yang dengan bodohnya kita jual ke luar terus kita beli lagi dengan harga yang jauh lebih mahal, bagaimana kita melihat carut-marutnya pemerintahan yang selalu dan selalu merugikan rakyat...*

Masalahnya, saya bisa bicara begini karena lewat pendidikan pula saya memperoleh motivasi seperti itu. (See? Motivasi datang melalui pendidikan, bukan sebaliknya). Lantas melihat spirit yang dimiliki Lintang, Denias, dan anak-anak Laskar Pelangi lainnya? Saya jadi malu sendiri..

Mungkin begitulah cara membedakan orang hebat dengan orang biasa lainnya. Mengetahui darimana motivasi itu berasal..


-M O O N Y
Kalo kata Nidji "Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia", and I'm a daydream believer! :D
Ehm, saya juga mau numpang ngucapin "Taqabalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin!" Akhirnya mudik juga nih saya tahun ini! Hehehehe... :)