Kamis, 07 Oktober 2010

Dalam Hujan


hujan membersit, memuntahkan asin tetesannya.
jatuh ke bumi menjadi ibu.
ibu menjelma bidadari yang melukis larik pelangi yang membuatku paham warna-warni: biru untuk segenggam dura, abu-abu untuk seberkas ragu, nila untuk secangkir rindu.

lalu hujan berkelok di sudut jalan.
geraknya bias pada awas mataku bagai kelok hitam dan putih yang menyatu di garis kelabu.
bagai diri dan sepi yang menyatu di batas sunyi.
lalu sunyi menyisakan kidung hujan beriring tabuhan rintik dengan daun, tiang listrik, dan aspal jalanan:

dam. dam. dam.

apa yang kaupaham dari hujan?
tangis langit bagi bumi yang mendurhakai dirinya sendiri?
pagelaran agung tanpa harmonisasi ketuk dan irama, buaian bagi jiwa melankolia?

sering mataku kupakai untuk mendengar, kupingku untuk melihat. aku jadi tak bisa membedakan tubuhku sendiri.


-M O O N Y
Dalam Hujan adalah judul pertama. Judul yang akhirnya menjadi judul resmi adalah Hujan (tak) Segan Mampir Hari Ini, posting tertanggal 01 Desember 2008. Waktu itu Afrizal Malna dengan Arsitektur Hujan-nya menjadi sumber inspirasi. Saat ini, yah, inspirasinya betul-betul hujan yang tak pernah segan untuk mampir setiap pagi, setiap hari. Coba lihat ke jalan depan rumahmu, siapa itu yang bergerak seirama dengan hujan? Motor-motor yang makin serampangan? Atau bayangan tentang diri kanak-kanakmu yang tertawa menyerap hujan di kedua tangan?