Sabtu, 31 Maret 2012

Greetings from Semarang!

Gereja Blendhug (or Blendhuk), Semarang, Jawa Tengah.
I was captivated by the light.

Jumat, 30 Maret 2012

Semarang #1

- Wandering aimlessly on Semarang's streets at night.

Tidak terhitung berapa kali Ibu mengajak saya dan adik-adik, dulu, menyusuri jalanan kota-kota (dan daerah pinggirannya) di sepanjang Jawa dalam perjalanan darat dari Bali ke Jakarta. Saya ingat bahwa saya suka sekali pom bensin karena perjalanan-perjalanan itu. Berhenti di pom bensin berarti kesempatan untuk turun ke toilet umum dan meluruskan kaki sejenak. Pom bensin selalu jadi tempat romantis karena ia tempat yang tak pernah tidur, tempat para pejalan rehat sejenak, tempat singgah yang sesungguhnya nyaris anonim tapi di dalam kenangan ia menjelma sebagai simbol suatu perjalanan, masa kecil, dan kota-kota di Jawa kala malam.

Saya biasanya terus terbangun setelah pemberhentian itu, tidak bisa tidur lagi karena asyik memperhatikan lampu. Kota-kota itu asing, hening, dan tampak seragam saat malam hari. Sepanjang pagi dan siang, saya dan adik perempuan saya suka bermain hitung bendera. Yang menang suit boleh memilih mau menghitung bendera partai apa: Golkar, PDI, atau PPP. Yang kalah tinggal terima nasib saja, karena yang menang pasti memilih Golkar. Bendera Golkar berjaya di sepanjang jalan-jalan utama, tapi tidak jarang ada daerah yang didominasi bendera hijau atau merah sepenuhnya. Permainan itu tidak ada hadiah atau hukumannya, tapi memberi saya ingatan tentang betapa hegemoniknya Golkar pada dekade 1990-an.

Barangkali telah lewat lima belas tahun berlalu dan saya kembali berada di salah satu kota di Jawa yang saya lintasi dulu. Nama kota ini Semarang. Entah mengapa, rasanya tak lagi sama seperti saat kecil dulu. Saya melihat bangunan besar toko perkakas Ace Hardware, Kentucky Fried Chicken, dan McDonalds di jalan utama, dan rasanya kota ini jadi tak terlalu berbeda dengan Jakarta. Memang ada beda yang mutlak--tidak ada orang saling mengklakson dan menerobos lampu merah. Masih ada becak di jalan utama yang trotoarnya amat bersahabat bagi pejalan kaki.

Sebuah memori masa kecil menyeruak kembali, kali ini saat melihat toko buku bernama Merbabu di jalan Pandanaran, dekat tempat saya menginap. Toko buku ini mirip toko buku Gunung Agung di dekat rumah saya di Denpasar dulu. Label harga di tiap produknya bukan label dengan barcode, tapi stiker yang dicetak sendiri. Bukunya disusun di rak-rak pendek sehingga kita harus berjongkok kalau buku yang dicari tidak ada di atas. Di lantai bawah, tidak hanya dijual alat-alat tulis, tetapi juga tempat makan dan minum plastik, alat-alat menjahit, mainan, kartu pos, perangko untuk kolektor (!), sampai badge Pramuka. Di lantai atas sepenuhnya buku, dan saya menahan diri untuk tidak berteriak seketika saat melihat rak buku-buku impor yang diobral hari itu. Saya yang hanya membawa satu buku dalam tas karena malas membawa tas yang berat akhirnya harus kembali ke Jakarta dengan membawa tambahan sepuluh buku. Saya menghabiskan hampir dua jam di toko buku ini, takjub dengan atmosfir di dalamnya yang begitu tenang tanpa harus terang benderang seperti toko buku di Mall.

Saat ini, barangkali, kesunyian adalah teman terbaik. John Mayer melagukannya dengan indah: "Nothing to do, nowhere to be. A simple little kind of free."


-M O O N Y





Ketemu buku ini di Toko Buku Merbabu. Waktu SD saya suka sekali cerita Grover menginap ini. Seperti manusia dan manusia, manusia dan tempat, juga manusia dan cita-cita, barangkali manusia dan buku juga saling menemukan jodohnya.

Selasa, 20 Maret 2012

Jakarta, Macondo, Dukuh Paruk

Dampak buruk terlalu khusyuk membaca Seratus Tahun Kesunyian adalah beberapa peristiwa jadi terasa magis, bahkan saat kita tidak mempersiapkan diri untuk itu. Dalam novel bergenre realisme magis ini, segala macam hal dideskripsikan dengan sangat, sangat, sangat liar sampai-sampai saya menduga Gabriel Garcia Marquez menulis cerita panjang tentang keluarga Buendia ini sambil teler. Sampul belakang ini sudah 'memperingatkan' calon pembaca bahwa membaca Seratus Tahun Kesunyian akan terasa seperti masuk ke dalam mimpi yang panjang--dan memang benar, rasanya keseharian yang tampak normal kini terpecah-pecah menjadi mimpi dengan caranya sendiri.

Suatu ketika dalam sebuah bus, seraya satu tangan berpegangan dan tangan lainnya memegang buku ini, saya berhenti membaca sejenak karena bus yang saya tumpangi melewati terowongan. Kontras dengan cahaya matahari yang terik, terowongan tersebut jadi terkesan sejuk karena lampunya berwarna oranye redup. Saya menutup mata untuk menyesuaikan diri dari terang ke remang. Saya tutup Seratus Tahun Kesunyian karena cerita tentang Rebeca yang memakan tanah bercacing dan kapur dinding menjadi sangat visual di dalam kepala saya. Ketika membuka mata, tembok terowongan bertuliskan kata-kata "Life is Beautiful", dan entah mengapa sejenak saya merasakan kekhusyukan momen tersebut: bus yang penuh sesak namun hening, di siang hari yang terik, seperti ada rehat dari satu kebisingan ke kebisingan lainnya dalam terowongan pendek tersebut, yang juga mengingatkan bahwa hidup itu indah (biar bagaimanapun).

Berjarak hanya beberapa hari, saya ada di stasiun Pasar Minggu. Cuaca terasa sangat terik hingga kulit dan titik di atas kepala terasa perih. Saya membaca Seratus Tahun Kesunyian lagi dan sampai kepada bagian pembantaian buruh pabrik pisang besar-besaran yang lalu lenyap tanpa bekas. Konon seluruh mayat dilempar ke dalam kereta untuk dibuang di kota lain. Pembantaian tersebut tak berbekas, tak terlacak, dan satu-satunya saksi hidup menjadi gila karena tak ada yang percaya kata-katanya. Saya menutup lembaran buku, merasa adegan tersebut lagi-lagi menjadi terlalu visual di kepala. Mungkin karena saat itu saya juga berada di tempat kereta datang dan pergi, mungkin karena saya juga berada di tempat yang sangat asing bagi saya sendiri. Saya diam dan duduk di ujung salah satu bangku besi panjang, menatap matahari yang tanpa ampun memancarkan panasnya siang itu. Hampir lima belas menit tak ada satu pun kereta lewat. Saya memperhatikan para calon penumpang yang juga menunggu, ada yang berjongkok di tempat teduh, ada yang diam menatap rel, dan entah mengapa bahkan para penjual makanan dan minuman pun tak tergerak untuk menjajakan dagangan mereka. Stasiun siang itu, saat itu, sungguh hening. Dalam terang, dalam sunyi, entah mengapa saya merasa momen itu magis sekali.

Macondo, nama kota di dalam novel Marquez yang ditulis selama dua tahun itu, terguyur hujan terik selama empat tahun, hujan yang terus menerus turun tanpa ampun. Ikan-ikan berenang lewat jendela rumah, kulit para penghuni kotanya berwarna hijau lumut dan pucat karena tak pernah kena sinar matahari, dan punggung nenek Ursula tua dipenuhi lintah karena ia berbaring setiap hari. Entah mengapa, dibandingkan dengan keadaan itu (yang juga sangat visual di kepala saya), saya mensyukuri matahari yang telah menjadi terlalu terik beberapa hari ini.

-M O O N Y
Salah satu peristiwa dalam novel yang juga sangat, sangat visual, hampir-hampir saya nobatkan jadi peristiwa paling menakutkan dalam novel, adalah bagian ketika warga Dukuh Paruk yang keracunan tempe bongkrek menyerbu rumah Santayib, lantas Santayib makan tempe bongkreknya sendiri dan mati sambil memeluk istrinya. Judul novelnya Ronggeng Dukuh Paruk, dan dalam Sang Penari, Ifa Isfansyah tidak menghilangkan adegan ini. Wajib baca, wajib tonton.

Selasa, 13 Maret 2012

Celine tells it like it is (as always)

"I had this funny... well, horrible dream the other day. I was having this awful nightmare that I was 32, and then I woke up and I was 23! So relieved... And then I woke up for real, and I was 32. Scary!"

"It happens."

"Yeah, time goes faster and faster. Apparently it's because we don't renew synapses live to 20. So it's pretty much downhill from then on."

Depok, terbangun dari tidur pada dini hari karena suara ayam-ayam berkokok. Absurd.