Kamis, 13 Juni 2013

Instan

1. Dalam kumpulan esainya yang berjudul Kesatuan Kreatif, Rabindranath Tagore banyak berbicara mengenai konsensus keindahan. Adab sebagai keindahan perilaku memerlukan beberapa kondisi untuk memungkinkannya terwujud, salah satunya adalah lingkungan yang santai. Karena itu, keindahan perilaku tidak mungkin dicapai dalam masyarakat yang selalu terburu-buru. Kita jadi ingat apa yang dikatakan Jesse kepada Celine dalam Before Sunrise ketika membandingkan seorang pria yang mengantri di mesin ATM (yang tampak seperti moron) dan seorang anjing yang tertidur santai di jalanan di bawah cahaya matahari (yang tampak begitu indah).

2. Dalam sebuah wawancara, Jacques Cousteau berkata bahwa ia percaya pada keinstanan. Sebenarnya ada semacam kejengahan bagi saya ketika menggunakan kata itu--keinstanan, tapi menurut saya kata kecepatan saja tidak cukup untuk menjadi padanan dari instant. Entah apa yang dimaksud Cousteau tentang keinstanan tersebut, namun saya seketika teringat seorang teman yang pernah berkelakar mengenai konsep "cinta pada pandangan pertama". Menurutnya cinta pada pandangan pertama lebih dari sekadar klise atau mitos kacangan dalam cerita-cerita roman. Cinta pada pandangan pertama adalah pengalaman yang disebutnya true event. Apakah ini yang sedikit banyak mirip dengan keinstanan, bukan hanya lebih dari cepat, tetapi juga otentik?

3. Tentu saja jika kita mengacu keinstanan sebagai kata yang biasa menempel pada makanan instan atau popularitas instan, kita berhadapan dengan fakta bahwa nyaris tak ada otentisitas dari keduanya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering mendengarkan atau menggunakan kata instan secara denotatif. Generasi Y, alias generasi millenial, alias (mungkin) generasi kita juga sering disebut generasi instan dengan nada yang melecehkan--kurang lebih karena generasi inilah yang tidak lagi berjerih payah dalam sebuah proses dan tidak otentik. Siapa yang bisa percaya kepada yang instan? Sudah berapa kali kita mengeluarkan celetukan "Cepet amat!" dengan nada penuh curiga? Dan berapa kali mata kita melihat langsung borok-borok di balik segala sesuatu yang instan?

4. Tetatpi kita juga mendengarkan cerita mengenai perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan ke Langit dalam satu malam dan kita dapatkan makna instan yang lain. Instan masih merupakan sesuatu yang rahasia, tapi begitu gaib dan ganjil. Sulit dipercaya, mencurigakan, namun sekaligus menjadi keajaiban.


A reporter from an anti-establishment newspaper in Seattle once asked a 67-year-old Jacques Cousteau if he had faith in anything. Cousteau gave a strange reply: “I believe in the instant.”
(Source: click here)


5. Barangkali Cousteau tahu, instan membutuhkan semacam iman?


-M O O N Y


Selasa, 04 Juni 2013

Cameron Crowe strikes again!


"You don't want me--I'm filled with Scotch, bitterness and impure thoughts!"

Peter MacCready from We Bought a Zoo (2011) confronting a lion, practically a combination of everything that makes you happy: Cameron Crowe as the director, Bob Dylan on the soundtrack list, some kind of Russian/Vietnam War veteran anger, and a tiny reminder on why you are still allow to trust your intuitions.