Ada banyak moda untuk berkomunikasi. Maksud saya, bukan cuma verbal atau nonverbal, tapi juga bagaimana anda bereaksi dan membuat percakapan mengalir. Dulu sekali, saya dan seorang teman pernah membayangkan bagaimana rasanya jika kami bertemu orang yang persis kami. Bukan secara fisik, tapi dengan cara berpikir dan kepribadian yang persis serupa. Jika keserupaan sering dijadikan alasan bahwa seseorang bisa cocok dengan orang lainnya, maka dua orang yang persis sama pasti akan berujung kekacauan.
"Kalau gue ketemu orang yang persis sama kayak gue,
gue pasti ga bakal tahan sama dia."
"Err.. bener juga sih. Gue juga.
Gue aja sering ga tahan sama diri gue sendiri."
Bukan, di sini saya bukan sedang ingin mengamini apa yang namanya opposite attraction. Hanya sering bertanya-tanya sendiri, kenapa sering rasanya kita kesulitan menghadapi diri sendiri--sampai-sampai perlu berlari kepada obat tidur atau buku-buku self-help.
"You fix your own car?"
"Cars are easy. It's people you need a manual for."**
"Cars are easy. It's people you need a manual for."**
Saya barangkali belum bertemu setiap manusia yang hidup di dunia, tapi cukuplah bertemu mereka yang punya tabiat antagonis (karena selalu mengcounter setiap pernyataan yang keluar dari lawan bicaranya dengan nada sarkastis), permisif (karena selalu bilang "maaf" di akhir kalimat dan selalu mengubah setiap bentuk pernyataan jadi bentuk pertanyaan), sampai yang rasanya harus sedikit dicurigai karena terlalu ramah (maklum, kalau ada satu doktrin urban yang nempel di kepala saya, maka itu adalah kebaikan seorang asing yang terasa palsu dan jadi menakutkan).
Lagi, ada banyak moda untuk berkomunikasi. Kalau sekarang, setiap lingkaran kecil baru terbuka jika ada satu topik hangat yang fasih kau sampaikan dengan mata membelalak, atau bicara dengan sikap terang-terangan tentang suatu hal yang masih buram, atau cercah cela halus di balik lelucon yang tadinya dimaksudkan-untuk-membuat-yang-lain-tertawa tapi nyatanya kerap-menyakiti-hati, terus kenapa?
(saya tetap kadang-kadang tidak tahan dengan diri sendiri kok, mau ada ataupun tidak orang yang serupa dengan saya).
- M O O N Y
Karena penggunaan kata romantis sepertinya sedikit salah kaprah (dan karenanya tidak diterima), saya memaksa frasa optimis patologis menjadi alternatif untuk menyebut diri sendiri. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah percakapan verbal nonlisan dengan seorang teman di Sabtu sore, dia yang lantas minta disebut seorang "sinis realistis". Frasa ini juga muncul di film Reality Bites (1994).
**dialog Greta Randolph, dari film Sisterhood of the Traveling Pants 2 (2008).