Jumat, 29 Januari 2010

Tirani Demokrasi

Melihat begitu banyak acara anak muda yang dilandasi oleh semangat demokrasi, saya jadi senyum-senyum sendiri. Senyum dalam beberapa arti, sebenarnya. Saya ingat diri sendiri yang dulu cukup terusik dengan istilah ini saat belajar sistem politik di semester dua. Betapa sering kata ini dijejalkan ke dalam pikiran kita, bahkan sedini mungkin sejak sekolah dasar. Demokrasi jadi lumrah. Kita rasa-rasanya bisa menangkap dan mungkin merasa paham atasnya. Tetapi paham atas dasar kelumrahan bisa sering menyesatkan--dia bisa selalu jadi jawaban pertanyaan-pertanyaan yang lahir ketika muncul keragu-raguan. Kalau kata Umar Kayam, kita jadi cenderung menjawab "pokoknya.. pokoknya..", gitu. Lebih parah, mungkin saja tidak muncul keragu-raguan sama sekali.

Kadang-kadang, kebebasan individual dan kelompok saat ini dengan mudah bisa dilandasi semangat ini. Pendek kata, apapun yang terjadi, "Pokoknya Demokrasi!". Yang lebih ironis, ada orang-orang yang merasa kebebasan berpikir muncul karena demokrasi. Dari kebebasan berpikir lalu melahirkan kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat, kebebasan melakukan apa saja sebebas-bebasnya. Bebas, bebas, bebas! (Tebas, tebas, tebas!)

Well, saya pikir manusia selalu bebas berpikir, ada ataupun tidak ada demokrasi. Jika Machiavelli bilang, "di dunia ramai, yang suci murni tak pernah terjadi", apa bedanya--kecuali kita memilih untuk hidup sendiri?

Demo. Demos. Rakyat. Ramai.
(Tak suci dan tak murni?)


-M O O N Y

Jumat, 15 Januari 2010

Kaleidoskop yang Kelupaan!

Lupa! Ada satu lagi momen yang belum ditulis, berhubung terjadinya agak di penghujung tahun.

Ehm. Pada pertengahan Desember 2009, tepatnya pada tanggal 13 Desember, saya resmi menjadi kontributor majalah Change, sebuah majalah remaja yang diterbitkan oleh Yayasan Jurnal Perempuan. Ceritanya majalah ini membahas isu-isu sosial dengan bahasa yang serius tapi santai dengan menggunakan tiga perspektif utama: Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Gender. Kayanya berat ya, padahal orang-orangnya hobinya ngejayus, ngenet gratis di kantor, sama ngomongin fashion blog dan film korea! Hahaha..

Oh, dan belakangan saya dapat jabatan baru sebagai Media Partnership. Majalah Change punya rencana untuk 'ekspansi' ke ranah gerakan anak muda tahun ini, jadi mohon doanya.. :)

Semoga gerakan anak muda bisa kembali mengubah sejarah Indonesia.

Selasa, 05 Januari 2010

My Best of 2009

2009 berlalu sudah! Meski agak terlambat, saya hendak membuat kaleidoskop kecil-kecilan versi saya sendiri. Terlalu banyak hal yang patut disyukuri di tahun kemarin, dan semoga juga di tahun ini pun demikian. :)

People:
Ayu Utami
YES, I met her. Even better, I got the chance to talk with her for about an hour!
Salah satu mimpi saya, kok anehnya, kesampaian lagi.. What a moment..

Events:
1. KLa Project's Concert
:)))))))))) God knows how much I love this band!
2. Social Urban Art Festival
Akhirnya bertemu dengan orang-orang yang mempunyai impian sama: membungkus kritik sosial lewat media seni! Bekerja sama, bekerja keras, dan rasanya puas bisa mendatangkan teman-teman dengan minat dan ketertarikan yang sama. Melalui acara ini, saya akhirnya tahu, saya lebih senang proses ketimbang hasil. :)

Movies:
40 Years of Silence
Film dokumenter terbaik di tahun 2009 yang pernah saya tonton!

Books:
1. Surat Dari Palmerah-Seno Gumira Ajidarma
Pertama, saya cari-cari buku ini terus-terusan. Kedua, tiba-tiba teman-teman kuliah saya memberi kado ini sebagai kejutan. :)
2. Pengakuan Pariyem-Linus Suryadi AG
Ironis. Saya akhirnya dapat fotokopian versi aslinya setelah nyari kemana-mana. Dua bulan kemudian, buku ini
cetak ulang dan ada di Gramedia. Waktu saya pamer ke Ibu, dia bilang, "Mama dulu punya deh kayaknya." Ampun deh... Pakai darah dan air mata, nih, perjuangannya.. Hahaha..
3. Mangan Ora Mangan Kumpul-Umar Kayam
Horeee! Saya dapat buku ini di stand buku bekas TMII, dan sejak itu tidak bosan-bosan menjadikan ini bacaan di samping bantal. Akhirnya saya punya sendiri!

Albums:
1. From the Corner-Cozy Street Corner
Ini dia album yang dulunya selalu saya bayangkan, dan ga nyangka bakal nemu akhirnya.. Baik dari genre musik, lirik, sampai karakter suara vokalis--kenapa bisa klop ya? Yah, terima kasih sudah mewaraskan saya di awal tahun dengan track "Dendang Bersahutan" dan "Teh". :)
2. Kamar Gelap-Efek Rumah Kaca
Astaga! Lima dari sepuluh besar lagu yang paling sering dimainkan di Windows Media Player saya ternyata berasal dari album ini. (Rupanya tahun ini sering merasa mumet juga ya..).
Terima kasih, album ini bagi saya layaknya Ponstan bagi orang sakit gigi.. Hihihi..
3. Rasuk-The Trees and The Wild
Andaikata ada pertanyaan,
siapa teman yang lebih baik dan setia menemani selama perkuliahan Metode Penelitian Sosial yang menggerogoti jiwa-raga (aih) buat saya, maka 'Our Roots' dan 'Derau dan Kesalahan' lah jawabannya..

Places:
1. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia
Selalu dan selalu. Perpustakaan, lorong-lorong antara kumpulan essay, novel, dan puisi di lantai dua, mencium bau buku-buku tua, tempat saya "melambat". Klaster, tempat pertemuan rahasia, rencana rahasia, dan pembicaraan rahasia dengan orang-orang yang saya sebut "Pil-pil bahagia". Terima kasih sudah dua tahun lamanya tetap begitu saja, sejak semester pertama dengan kuliah wayang yang mulai terlalu lama, hingga semester lima yang meracuni otak, Klaster bukan sebuah kebetulan yang terletak di antara FISIP, FIB, dan FE UI. Dia ditakdirkan. :)
2. Balik Hutan, Universitas Indonesia




"Kalau saya daun teh dan kampus adalah cangkir, balik hutan adalah penyaringnya.."