Selasa, 13 November 2012

Pursuit of... what, exactly?

Each thing I do I rush through so I can do
something else. In such a way do the days pass -
a blend of stock cars racing and the never
ending building of a gothic cathedral.
Through the windows of my speeding car, I see
all that I love falling away: books unread,
jokes untold, landscapes unvisited. And why?
What treasure do I expect in my future?
Rather it is the confusion of childhood,
loping behind me, the chaos in the mind,
the failure chipping away at each success.
Glancing over my shoulder I see its shape
and so move forward, as someone in the woods
at night might hear the sound of approaching feet
and stop to listen, then, instead of silence
he hears some creature trying to be silent.
What else can he do but run?
Rushing blindly down the path, stumbling
struck in the face by sticks;
the other ever closer, yet not really
hurrying or out of breath, teasing its kill. 

Stephen Dobyns' Pursuit, from Cemetery Nights (1997)
A friend of mine just quit her job recently and sent me this poem. I've never seen her this insanely happy.

Aureliano

"Ingatlah, sobat," katanya. "Bukan aku yang menembakmu, tetapi revolusi."

Jenderal Moncada bahkan tidak bangkit dari pelbet melihat Aureliano masuk.

"Pergilah ke neraka, teman," jawabnya.

Sampai saat itu, sejak pulang, Kolonel Aureliano Buendia belum pernah membiarkan dirinya melihat Moncada dengan mata hatinya. Ia terkejut melihat betapa jenderal itu sudah tua, betapa tangannya gemetaran dan dengan telaten menyesuaikan diri selama menanti kematian, kemudian ia merasa jijik kepada dirinya karena perasaannya mulai dicampuri rasa kasihan.

"Kau lebih tahu daripadaku," kata Kolonel Aureliano Buendia, "bahwa semua pengadilan militer adalah lelucon, dan sebenarnya kau harus membayar kejahatan orang lain karena apa pun yang terjadi kali ini kami akan menang. Bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama jika jadi aku?"

Jenderal Moncada bangkit untuk membersihkan kacamatanya yang berbingkai tanduk tebal dengan ujung kemejanya. "Mungkin." katanya. "Tetapi yang membuatku risau bukan karena kau akan menembakku sebab bagaimanapun, bagi orang seperti kita, ini kematian yang wajar." Ia meletakkan kacamatanya di atas tempat tidur dan melepaskan arloji serta rantainya. 

"Yang membuatku risau," lanjutnya, "adalah dari kebencian yang amat sangat terhadap militer, melawan mereka dengan sengit, dan seringnya kau memikirkan mereka, kau berakhir menjadi sama buruknya dengan mereka. Dan tidak ada cita-cita dalam hidup yang layak diraih dengan kerendahan budi seperti itu." Ia melepaskan cincin kawinnya dan medali "Bunda Maria yang Selalu Menolong" lalu diletakkan di sebelah kacamata dan arlojinya.

"Dengan cara demikian," ia menyimpulkan, "kau tidak hanya diktator paling otoriter dan paling berdarah dalam sejarah kita, tetapi kau akan menembak sahabatku, Ursula, dalam upaya menundukkan hati nuranimu."

*****

Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude): 212-213. 
Gabriel Garcia Marquez, tentang nurani.