Rabu, 29 Februari 2012

Hear, hear.

"To create a family with a spouse is one of the most fundamental ways a person can find continuity and meaning in American (or any) society. I rediscover this truth every time I go to a big reunion of my mother’s family in Minnesota and I see how everyone is held so reassuringly in their positions over the years. First you are a child, then you are a teenager, then you are a young married person, then you are a parent, then you are retired, then you are a grandparent—at every stage you know who you are, you know what your duty is and you know where to sit at the reunion. You sit with the other children, or teenagers, or young parents, or retirees. Until at last you are sitting with ninety-year-olds in the shade, watching over your progeny with satisfaction. Who are you? No problem—you’re the person who created all this. The satisfaction of this knowledge is immediate, and moreover, it’s universally recognized. How many people have I heard claim their children as the greatest accomplishment and comfort of their lives? It’s the thing they can always lean on during a metaphysical crisis, or a moment of doubt about their relevancy—if I have done nothing else in this life, then at least I have my children well.

But what if, either by choice or by reluctant necessity, you end up not participating in this comforting cycle of family and continuity? What if you step out? Where do you sit at the reunion? How do you mark time’s passage without the fear that you’ve just frittered away your time on earth without being relevant? You’ll need to find another purpose, another measure by which to judge whether or not you have been a succesful human being. I love children, but what if I don’t have any? What kind of person does that make me?

Virginia Woolf wrote, “Across the broad continent of a woman’s life falls the shadow of a sword.” On one side of that sword, she said, there lies convention and tradition and order, where “all is correct.” But on the other side of that sword, if you’re crazy enough to cross it and choose a life that does not follow convention, “all is confusion. Nothing follows a regular course.” Her argument was that the crossing of the shadow of that sword may bring a far more interesting existence to a woman, but you can bet it will also be more perilous."

Elizabeth Gilbert tells it like it is. (Eat, Pray, Love, 2006: Chapter 30)

Senin, 13 Februari 2012

"Hello, stranger."

Apa sesuatu yang bisa kita petik dari Closer, Little Children, dan beberapa waktu yang lalu, Laki-Laki yang Menikah dengan Perempuan (yang Ternyata Laki-Laki)?

Satu, ragu-ragu itu perlu. Selalu. Sebabnya (dua), setiap orang menyimpan kegilaan masing-masing. Bisa dibilang, inilah dua ketakutan terbesar saya dalam relasi dan interaksi antar individu saat ini. Bahkan dalam lingkup terdekat dan tersempit, bukan sekadar paranoia terhadap kriminitalitas jalanan atau tusuk-dari-belakang dalam lingkaran pergaulan. Kurang, tapi sekaligus lebih dari itu.

Mungkin kita tidak lagi berada dalam batasan kata-kata yang menghakimi manusia kepada kelemahannya sebagai makhluk yang ingin percaya bahwa setiap orang pada dasarnya baik. Tidak perlu lagi mendefinisi orang lain untuk menentukan bagaimana kita berpikir. Kitalah tolak ukurnya. Seorang antropolog asal Jepang, Saya Sasaki Shiraisi, dalam catatan pengamatannya tentang Jakarta yang sangat menarik menulis tentang potensi bahwa siapa saja di jalanan Jakarta bisa menjadi rampok. Shiraisi mengutip sebuah cerita pendek dari majalah anak-anak tentang seorang remaja yang mengambil pistol dari dalam saku pencopet yang tadinya justru berniat mencopetnya. Siapa korban, siapa pelaku. Rancu. Yah, berapa kali sudah kita dengar komplotan garong dalam mikrolet kini tak hanya sejumlah laki-laki berwajah seram yang mengenakan jaket kulit, tetapi juga ibu-ibu bertampang sederhana yang memakai daster dan sandal jepit?

Adegan akhir dalam Closer memperlihatkan sosok Natalie Portman yang melengang melewati petugas imigrasi. Apa yang ia tinggalkan di belakangnya bukan hanya sebuah negara, tetapi juga sejarah dan identitas dirinya. Ia meninggalkan Alice Ayres, identitas yang ia curi dari sebuah nisan. Ia juga meninggalkan hubungan yang telah terjalin bertahun-tahun. Dan kita mungkin ikut termangu, persis seperti ekspresi wajah Jude Law saat melihat nisan Alice Ayres asli, ekspresi yang sadar bahwa dia tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan yang menjadi kekasihnya selama beberapa tahun. Lewat Closer kita tahu bahwa diri bisa sepenuhnya terbentuk lewat kata, manusia mudah percaya, dan bagaimana keduanya menggiring pada bahaya.

Little Children membuat kita terhenyak karena kegilaan adalah bentuk kesadaran yang total—yang mengabaikan juga sejarah, identitas, dan memori dalam sekejap mata. Siapa yang duduk di hadapanmu, tetanggamu, pasangan rumah tanggamu, kau tidak pernah sepenuhnya tahu. Ia adalah orang yang dalam lima menit berikutnya bisa meninggalkanmu dengan mudah karena bertemu dengan perempuan asing di sebuah taman yang mengajaknya lari ke kota lain. Ia adalah orang yang sepenuhnya tampil seperti sebuah sampel atas populasi manusia kota: laki-laki, berkeluarga, berpendidikan, bekerja, dan sebagainya.

Dalam versi yang sedikit lebih jenaka kita temui rapuhnya relasi dalam kasus laki-laki yang menikahi laki-laki lain yang mengaku sebagai perempuan. Banyak orang merespons berita itu dengan tawa dan menjadikannya lelucon—tapi apa kita mungkin sedang tertawa pada diri kita sendiri? Apa kita sepenuhnya yakin dan tahu tentang orang-orang terdekat kita? Kalaupun kita tahu, bisakah kita percaya?

Di atas itu semua, apa kita sepenuhnya percaya pada diri sendiri? Tidakkah kapasitas untuk itu terlalu berat untuk kita miliki?


-M O O N Y