Kamis, 29 Juli 2010

Nostalgi(l)a

"Dungu! Gendut! Aneh! Jewer!"
-Albus Dumbledore

Di akhir dekade 1990, seluruh dunia terjangkiti demam seri karangan J.K. Rowling, Harry Potter. Ketika itu saya, berbekal sok tahu yang luar biasa, membeli Harry Potter di Gramedia. Mencoba membacanya tapi merasa tidak nyambung. Walah, ternyata saya salah beli! Saya langsung membeli seri kedua tanpa membaca terlebih dulu yang pertama. Mau beli yang pertama, sudah habis dimana-mana. Jadilah buku itu terbengkalai, saya tidak selesai membacanya. Lagi pula, saat itu saya masih SD dan katro abis (jauh lebih katro dari sekarang, hehehe). Untungnya, kakak sepupu saya yang baik hati memberi saya Harry Potter seri pertama. Saya membacanya dan segera saja ikut gandrung terhadap seri ini. Ya, sama gandrungnya seperti jutaan orang lain di seluruh dunia, yang ikut mengantri pre-sale nya di toko buku, yang membacanya dengan tekun sampai tidak tidur, dan yang hafal mantra-mantranya di luar kepala.

Kegilaan tidak akan menyenangkan tanpa teman untuk menggila bersama. Dalam hal ini, saya punya ibu saya di rumah. Ingat seri kelima, the Order of Phoenix, yang jarak terbitnya dengan seri keempatnya jauh sekali? Kalau tidak salah sekitar tiga tahun (hm, atau lebih, ya?). Ketika yang kelima terbit, saya dan ibu saya praktis berebut sebelum akhirnya ibu saya mengalah atas nama etika orangtua-anak (hihihi)--dengan ancaman bahwa saya hanya diberi waktu dua belas jam untuk menamatkannya. Walaupun saya bisa menyelesaikannya tepat waktu, saya kalah cepat. Ibu saya menamatkannya dalam sepuluh jam (tanpa tidur, dan akhirnya saya tahu saya memperoleh kegilaan membaca ini dari siapa).

Berbicara tentang kegilaan dan teman, Harry Potter juga menjadi 'penyambung' antara saya dengan teman-teman terbaik saya di dunia. We're a bunch of girls who happen to be freaks--in a good way. Tidak hanya menjadikan nama-nama dari novel ini sebagai kode bagi orang-orang di dunia nyata, tetapi juga bagaimana kami bisa tertawa karena hal yang sama yang bagi orang lain tidak lucu dan tidak penting. Misalnya nih, di salah satu seri Harry Potter saya, ada kata-kata "..kata Harry murahan". Suatu frase yang tidak jelas maksudnya. Sesuatu yang terus menerus mengganjal bahkan jauh setelah saya membacanya. Dan tebak, Esti juga merasa begitu! Hahaha. Aneh bahwa kami sadar, dan bahkan sama-sama merasa itu ganjil.

Kami mendiskusikannya jauh setelah kami membaca Harry Potter tersebut. Dias, yang biasanya paling sadar segala hal yang berbau keanehan linguistik, merasa dia tidak pernah menemukan kalimat tersebut di Harry Potter manapun. Kami membandingkan Harry Potter kami, dan TEBAK!, di Harry Potter punya Dias, kalimatnya berubah menjadi "..kata Harry muram". Lalu kami tertawa tak henti-henti. Belum lagi membahas Emma Watson dan akting alisnya, Alfonso Cuaron-moron yang membuat film ketiga jadi luar biasa hancur, Spattergroit, Umbreidgeitis, dan sebagainya. Good times, good times. Terlalu banyak lelucon bodoh yang bersumber dari seri ini dan betapa besar kami mengapresiasinya sebagai salah satu sumber kebahagiaan dalam kehidupan SMP kami. Back then, Harry Potter was something. Bukan hanya bacaan, tetapi salah satu pengikat kami. Mungkin sedikit bodoh dan sepertinya terlalu maniak, tapi betul.

Lalu akhirnya tiba saat kuliah dan kami semua berbelok, berpencaran. Tidak hanya jalan kami yang berbeda, selera membaca kami juga sedikit banyak berubah. Saya kenalan dengan buku-buku sastra Indonesia dan tenggelam di dalamnya. Kegemaran saya terhadap serial fantasi terlupakan, semakin jauh. Seperti Esti yang mengutarakannya dengan telak: "terlalu banyak buku tentang ide, tahu kan". Itu adalah cara terhalus untuk mengatakan bahwa hilangnya kegandrungan saya terhadap serial fantasi membuat saya jadi tidak terlalu menyenangkan. Saat itu, saya tidak ingat kapan terakhir kali saya membaca Harry Potter. Saya menjadikan tumpukan tebal seri tersebut sebagai sandaran di rak buku. Saya melihatnya tanpa gairah yang sama seperti dulu, ketika saya bisa membacanya berulang-ulang setiap liburan sampai ibu saya mengancam mau menyembunyikannya. Harry telah kehilangan pesonanya buat saya, apalagi setelah seri tersebut tamat. The ending of the series wasn't only the end of the story--it was also the end of an era.
Sad, but true.

******

Tetapi apa gunanya liburan, kalau bukan untuk menyadari bahwa anda semakin aneh saja dari hari ke hari, ya kan?

Saya melongok ke lemari buku, mencari-cari bacaan untuk dibaca sebelum tidur. Pada saat itu, saya sedang jenuh membaca sastra. Semua bacaan lain yang menyenangkan seperti the Baby-Sitters Club dan Girl Talk sudah beberapa kali saya ulang dan saat itulah saya melihat Harry Potter, tampak sedikit berdebu (wajar, karena ia ditumpuk asal-asalan dan dijadikan sandaran bagi buku-buku lainnya di dalam rak). Saya mengambil seri pertama dan nyengir ketika membaca halaman pertamanya. Di sana, saya menulis nama saya dan di bawahnya tertulis "Yang Ngambil Dosa Berad!". Dan tidak mungkin ada yang mau mencurinya juga, pasti, karena tulisan Harry Potternya bahkan sudah hilang dari cover.

Saya membacanya dan kaget sendiri: God, how I used to love this book so much! Membacanya kali ini, dengan usia yang jauh lebih tua dari ketika pertama kali membacanya, membuat saya bisa mengapresiasi lebih banyak dari sebelumnya. Saya meneruskannya dengan yang ketiga, lalu kelima, dan tersadar sudah pukul tiga pagi. Saya meneruskannya dengan yang keenam, lalu ketujuh, dan menyadari banyak hal. Tidak hanya betapa briliannya J.K. Rowling sebagai seorang pengarang, tetapi juga hal-hal yang terlupakan dari diri saya yang lama. Bagaimana saya bisa tertawa terbahak-bahak karena "Roonil Wazlib", bagaimana saya dulu bisa berdiskusi tidak penting tentang Horcrux dengan ibu saya--saya ingat semua tawa, kesenangan, dan excitement yang bisa didapat ketika membaca buku ini. Saya ingat rasanya tidak bisa berpaling dari buku biar sedetik pun, saking seru ceritanya (dan padahal saya sudah tahu seperti apa akhirnya).

Lalu, seakan semesta sudah merencanakannya, teman-teman terbaik saya juga ternyata mengalami kebosanan akut yang sama. Mereka membaca kembali Harry Potter tanpa saling memberi tahu. Di kamar Ajeng tergeletak seri ketujuh dan Esti diam-diam bahkan menyimpan trailer film keenam di Notebook-nya. Kami berkumpul dan merasa waktu berputar kembali ke beberapa tahun sebelumnya, saat kami bisa menertawakan hal bodoh dan tidak penting yang sama. Bedanya, kami tidak terlalu jahat lagi menertawakan Emma Watson karena syukurlah, kualitas aktingnya sedikit lebih baik di film keenam. Atau mungkin kami sudah sedikit lebih dewasa? :)

Rasanya seperti reuni, reuni dengan diri sendiri. Astaga, betapa besar kesenangan yang hilang selama beberapa tahun ini! Tetapi mungkin, benar juga kalimat "you don't know what you've got 'til it's gone" itu. Dan saya beruntung karena masih bisa mendapatkannya kembali. Oh, orang lain bisa merasa seperti ini ketika, mungkin, main layangan atau menonton Catatan si Boy atau apa. Tapi buat saya, cukup begini. Saya tidak tahu betapa besar saya merindukan menjadi seseorang seaneh saat SMP dulu, saat Albus Dumbledore menjadi source of all wisdom. Ah, tapi, to be fair, semua orang emang aneh lah.

Oh, good old days. You're missed, yet there's more to come. Kalau dulu setiap ulang tahun saya selalu menyeret ibu saya ke toko buku untuk membeli Harry Potter terbaru, tahun depan saya mudah-mudahan, mudah-mudahan, bisa membeli Harry Potter baru versi hard-cover! Hahahahaha.. Pada titik ini lah, saya semakin bingung dengan orang yang tega menjual buku-buku lamanya ke toko buku bekas. Hei, tidak hanya anak atau cucu yang pasti bahagia diwarisi buku--kita sendiri perlu, untuk sedikit merasa nostalgi(l)a, kan?

"Tell me one last thing," said Harry. "Is this real? Or has this been happening inside my head?"
"Of course it is happening inside your head, Harry, but why on earth should that mean that it is not real?"

Rabu, 07 Juli 2010

Mengutip Pram

"Bangunlah, Nak; hari sudah sore. Tidak ada lagi kereta lewat."

Sapardi Djoko Damono dikenal luas sebagai seorang penyair. Tapi tahukah anda bahwa buku terbaik beliau adalah antologi cerpennya yang berjudul Pengarang Telah Mati?

Setidaknya itu menurut saya, sih. Hehehe.

Salah satu cerpen Sapardi yang selalu menghantui ingatan saya berjudul Rel. Berkisah tentang seorang anak yang gemar menempelkan telinganya pada rel kereta--merasakan getar kereta yang datang dari kejauhan dan membawa ingatannya menjadi jauh pula: pada ibunya, pada daun kamboja berhelai lima, pada penjual gethuk berwajah lembut yang dagangannya selalu dibelikan oleh Ayahnya setiap mereka pulang berziarah--cerita ini mutlak mengukuhkan dirinya sebagai pemenang cerita pendek favorit sepanjang masa versi saya. :D

Tidak ada yang mengalahkan sensasi dari mengingat sesuatu. Atau lupa, lalu ingat lagi. Dan sensasi serupa ini yang muncul dari dalam cerpen Sapardi, bahkan dalam segala kesederhanaan latarnya. Lalu sensasi ini muncul lagi ketika saya membaca cerpen Pram, Yang Sudah Hilang, yang dikutip oleh Saya Sasaki Shiraisi dalam Pahlawan-Pahlawan Belia (KPG, 2001).

Karena itu, dalam rangka menyambut kembalinya saya menulis di blog ini (halah!), dengan baik hati saya ketik kembali cerpen tersebut di sini. Selamat menikmati. :)

*****

Yang Sudah Hilang
Pramoedya Ananta Toer

Kali Lusi melingkari separuh bagian kota Blora yang sebelah selatan. Di musim kering dasarnya yang dialasi batu-kerikil-lumpur-pasir itu mencongak-congak seperti menjenguk langit. Air hanya beberapa desimeter saja di tempat-tempat dangkal. Tapi bila hujan mulai turun, dan gunung-gunung di hutan diliputi mendung, dan matari tak juga muncul dalam empatpuluh atau limapuluh jam, air yang kehijau-hijauan itu jadi kuning tebal mengandung lumpur. Tinggi air melompat-lompat tak terkendalikan. Kadang-kadang hingga duapuluh meter. Kadangkala lebih. Dan air yang mengalir damai itu tiba-tiba berpusing-pusing dan mengamuk gila. Diseretinya rumpun-rumpun bambu di sepanjang tepi seperti anak kecil mencabuti rumput. Digugurinya tebing-tebing dan diseretnya beberapa bagian bidang ladang penduduk. Lusi: Dia merombak tebing-tebingnya sendiri.

Dan di dalam hidup ini, kadang-kadang aliran yang deras menyeret tubuh dan nasib manusia. Dan dengan tak setahunya ia kehilangan beberapa bagian dari hidup sendiri..

Dari depan rumah kami nampak pucuk rumpun-rumpun bambu yang hijau hitam. Bila angin meniup mereka meliuk merayu-rayu. Kadang terdengar mereka bersuling sunyi di antara gerasakan angin. Dan semua pemandangan dan pendengaran itu sering menakutkan hatiku di waktu kecil. Segera aku lari ke pangkuan bunda--menangis.

Hingga kini masih terdengar-terdengar olehku bunda bertanya: "Mengapa menangis?"

Dan tangannya yang tak lembut lagi seperti semasa gadisnya mengusap-usap pipiku yang kurus. Dan suara kanak-kanakku yang masih cedal menjawab di antara sedu-sedan: "Ibu--bambu itu menangis."

Dan bunda mengambil daku dan diletakkan di pangkuannya. Berkata ia memberanikan: "Dia tidak menangis. Tidak. Dia sedang bernyanyi."

Kemudian ibupun menyanyilah. Nyanyian halus yang selalu dan selalu menenggelamkan ketakutan, kesedihan, dan kebencianku terhadap sesuatu. Nyanyian daerah! Tak jarang suaranya yang lembutlunak mendayu-dayu mengajak aku tidur. Kadang-kadang waktu menyanyi kubelai-belai rambutnya yang kacau ditiup angin. Kupermain-mainkan kupingnya yang dihiasi markis berlian. Kemudian, kemudian terdengar suaranya yang manis dalam perasaanku: "Engkau mengantuk," katanya. "Mari kutidurkan."

Dan kubuka mataku besar-besar agar dapat terus menikmati nyanyian bunda. Tapi aku tak kuasa lagi membuka tapuk mataku lagi..

Tapi semua itu sudah hilang kini. Semua itu telah lenyap seperti tebing-tebing dan rumpun-rumpun bambu disereti air pasang kali Lusi. Dan aku tak kuasa menahan arus besar itu. Terasa benar olehku betapa mudah manusia didamparkan oleh gelombang waktu dari tempat ke tempat, dari perasaan ke perasaan.