Ceritanya, ada seseorang yang, tidak disangka-sangka, bertemu dengan Sapardi Djoko Damono.
Ceritanya lagi, ia terkesan dengan pernyataan Pak Sapardi, "Saya ini penyair yang tugasnya hanya menulis puisi, jadi kalau diminta membaca puisi, saya bingung.." (atau kira-kira begitu deh, hehe).
Ceritanya lagi-lagi, ia tambah terkesan dengan gurauan Pak Sapardi, "Ah, saya jadi merasa seperti seorang selebriti.."--ketika ia minta foto bersama dan tanda tangan.
Hmm, disaat orang-orang lain mati-matian ingin jadi selebriti, atau bahkan merasa dirinya selebriti.. Saya tak habis-habisnya terkagum-kagum.***
..Malam itu seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 10 tahun duduk di tengah pelataran rumahnya, usai bermain galasin. Ia biasa lebih banyak menghabiskan waktunya bermain di luar dan hanya berada di dalam rumah jika harus makan, tidur, dan kadang-kadang belajar. Ketika itu teman-teman sebayanya sudah pulang ke rumah masing-masing dan karenanya suasana yang sejak sore ribut tiba-tiba menjadi senyap. Di tengah pelataran luas milik neneknya ia menengadah dan bertanya dalam hati apa gerangan yang ada di luar langit, dan apa pula yang
ada di luar-luar langit sana. Pertanyaan itu mungkin timbul karena ia dididik oleh masyarakat yang, di samping percaya akan adanya batas, telah menciptakan ungkapan "langit tidak terbatas"-- dan ia tentu saja tidak mampu memahami dua pengertian yang tampaknya bertentangan itu.
Pada tahun 1971, lebih dari 20 tahun sesudah "peristiwa" yang menimpanya itu ia menulis sebuah sajak sebagai berikut :
Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar-luar semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata "biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya."
--Diambil dari pidato penerimaan Penghargaan Achmad Bakrie 2003 untuk Kesusastraan oleh Sapardi Djoko Damono.
- M O O N Y
"Ah, salah satu mimpiku terwujud sudah!"
3 komentar:
Congratz mimpinya dah tercapai..
Bulan..
Bintang....
Kayaknya kamu lumayan terobsesi sama benda-benda angkasa itu ya...
hehe..peace!
Good. Postingan ini gue email ke email gue pribadi. Thanks.
Posting Komentar