Begini ceritanya. Saya benci orang yang berpandangan sempit. Tapi dengan bencinya saya kepada orang yang berpandangan sempit, bukankah itu juga menunjukkan sempitnya cara pandang saya? Bukankah saya sendiri lantas berpandangan sempit? Standar apa yang digunakan untuk menilai objektivitas cara pandang? Bukankah dengan saya menyatakan seseorang berpandangan sempit, masing-masing dari kami mempertahankan kesubyektifan yang berbeda? Ketika saya menyatakan dia berpandangan sempit karena menolak cara pandang saya, pada saat yang sama saya juga berpandangan sempit karena menolak cara pandang dia, bukan?
Jadi siapa yang sesungguhnya berpandangan sempit? Saya? Atau dia? ***
Terinspirasi dari kelas Sejarah Indonesia. Waktu itu, kelas kami sedang mendiskusikan tentang Reformasi 1998 dan polemik antara Habibie, Prabowo, dan Wiranto. "Mana sejarah yang benar?" atau bahkan "Bagaimana kita dapat membuat sejarah menjadi obyektif, Pak?"
"Tidak ada yang obyektif. Bahkan sebenarnya seseorang yang obyektif pun adalah seseorang yang subyektif dengan keobyektifannya itu."-Agus Setiawan, Dosen Sejarah Indonesia.
-M O O N Y
Masih terus menerus berpikir makna yang paling pas dari kalimat tersebut. But it was a great thought-provocation, though.
2 komentar:
ndak ada yg obyektif dalam historiografi. lha begitu kita memilih tema yg hendak diteliti saja sudah subyektif, kok. makanya, biasanya, dalam bab2 awal penelitian, ada alasan subyektif dan obyektif knp satu tema itu yg dipilih, bkn yg lain.
*btw, tagline blogmu keren loh. itu silogisme yang serampangan, tapi cerkas, sedikit genit. salam kenal ya, mevruow!"
good post!
sy suka banget kalimat "..tapi dengan bencinya saya kepada orang yang berpandangan sempit, bukankah itu juga menunjukkan sempitnya cara pandang saya?"
what a sentence! so contemplate, so cool! (btw; kapan2 boleh dikutip, ya)
Posting Komentar