Tampilkan postingan dengan label Lirik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lirik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2025

Datanglah (1)

Ada perasaan syahdu yang sedikit kocak saat malam ini membuka Spotify dan secara asal memilih album The Best Of-nya Rida Sita Dewi. Album ini dirilis pada 22 Oktober 2002, yang berarti tepat 23 tahun yang lalu dari hari ini. Ini salah satu album yang membuat saya tetap waras saat pandemi Covid-19 melanda. Terima kasih aplikasi Spotify yang memampang kredit dari setiap lagu di album tersebut, saya jadi tahu kalau lagu "Datanglah" ternyata dibuat liriknya dan dikomposisi oleh Adi Adrian. Tanpa disangka-sangka, penelusuran internet membawa saya ke informasi tambahan kalau lagu Memes favorit saya, "Selamanya", juga dibuat oleh Adi Adrian. Begitu juga dengan dua lagu favorit saya dari Lingua, "Takkan Habis Cintaku" dan "Jangan Kau Henti". "Bidadari"-nya Andre Hehanusa pun ternyata juga dibuat Adi Adrian. Fans berat KLa Project juga kemungkinan besar tau kalau Adi Adrian pernah membuatkan lagu untuk Opick berjudul "Hidup Pun Indah" (penasaran kira2 monolog apa yang terjadi pas buat judul ini. Mungkin ada perdebatan semacam "Ini indah, itu indah, tapi hidup pun indah"? Kenapa tiba-tiba ada penekanan pada partikel pun?). Lirik lagu "Datanglah" sendiri, untuk saya, terasa lucu karena penuh kontradiksi. Ibaratnya kita mohon-mohon seseorang untuk datang mengabdi ke kita. Jadi siapa yang mengabdi pada siapa? Tensi-tensi semacam ini mungkin masuk akal untuk lirik lagu-lagu cinta, dan lagu-lagu semacam ini selalu, untuk saya, seru dikulik karena ada usaha sia-sia untuk terlihat dignified dalam kerapuhan (saelaahh). 


Minggu, 19 Maret 2017

Modeh Ani di era internet!


Julus adalah salah satu track yang ada di album Junun, proyek kolaborasi penyanyi Sufi dari Israel, Shye-Ben Tzur, bareng Jonny Greenwood dan The Rajasthan Express. Saya pertama kali tahu tentang album ini dari teman saya, Fani, dan sebenarnya tercabik antara harus bilang makasih atau sialan lo, Fan. Soalnya, saya jadi susah buat berhenti dengerin album ini bahkan walaupun saya nggak tahu arti dari lirik lagu-lagunya, padahal saya jarang-jarang suka lagu yang saya nggak bisa ngerti maksudnya. Judul dan lirik tiap lagu dalam album ini diambil dari bahasa Ibrani, Hindi, dan Urdu, dan kecuali niat banget, kayaknya kita cuma bisa mencari arti dari tiap judulnya di Internet.

Baru malam ini saya coba Googling lagi pakai kata kunci "Junun" dan "Lyrics" dan ternyata sudah ada yang mengunggah buklet lirik albumnya di Reddit! Jadi, makasih banyak Tor Browser, makasih banyak untuk user dengan id reckonator, saya jadi tahu kalau lagu Julus ternyata betulan untuk Imam Ali. *nangis terharu*

Yang malas buka Reddit pakai VPN atau Tor, silakan langsung unduh bukletnya di sini. ;-)

Kamis, 01 Desember 2016

"And I plan to be forgotten when I'm gone, yes, I'll be leavin' in the fall.."

Tanggal 27 November kemarin saya nonton konsernya The Tallest Man on Earth--ke depannya saya sebut tallest man saja, di sebuah festival musik. Perasaan hampir-hampir spiritual habis nonton konsernya tetap nyisa sampai semalam, jam tiga dini hari, pas saya tidur-tiduran sambil dengerin lagunya yang berjudul Dark Bird is Home. Saya pingin bisa menulis review musik yang bagus kayak di blog-blog orang, tapi sayangnya saya nggak punya banyak referensi. Jadi, mungkin yang bisa saya buat cuma kesan dan apa yang saya sukai dari tallest man selama mendengarkan lagu-lagu dia dengan intens hampir beberapa tahun belakangan.

Saya nggak ingat kapan persisnya saya mulai mendengarkan lagu-lagu musisi yang punya nama asli Kristian Matsson ini. Kalau nggak salah rekomendasi dari seorang teman, atau klik nggak sengaja di Youtube atau 8tracks. Yang saya ingat adalah lagu pertama tallest man yang saya dengar. Judulnya The Gardener, kayak judul salah satu buku puisinya Rabindranath Tagore. Yang pertama-tama membuat The Gardener langsung nyangkut di telinga adalah suara Kristian. Banyak orang cenderung mengasosiasikan musik folk dengan vokal yang 'dalam' atau 'adem', tapi Kristian mungkin pengecualian. Beberapa artikel di internet mendeskripsikan jenis vokalnya dengan kata raw, yang sebelumnya nggak pernah terlalu saya pikirkan maknanya sampai barusan saya cari arti raw selain mentah. Ternyata, beberapa definisi lain dari raw adalah 'strong and undisguised', atau, kalau buat kulit, 'red and painful'. Painful? Bisa saja, kalau didengar dari album terakhirnya yang diisi lagu-lagu patah hati karena perceraiannya dengan musisi Amanda Bergman (Idiot Wind), teman duetnya untuk lagu cinta paling manis, Thrown Right At Me. Tapi, definisi yang mungkin paling pas adalah raw = undisguised itu. Kalau dalam bahasa Indonesianya: tanpa tedeng aling-aling. Wah, itu memang kesan pertama yang bisa ditangkap dari suara cempreng tapi serak Kristian. Kayak seseorang yang bernyanyi tanpa mikirin dan peduli suaranya yang cempreng, serak, dan kenceng itu bakal disukai orang apa enggak.

Kalau kita sudah suka satu aja lagu tallest man, maka gampang buat kita untuk suka semua lagu lainnya. Shallow Grave adalah judul album yang di dalamnya ada lagu The Gardener. Di album ini ada lagu lain, I Won't be Found, dan ada satu baris lirik di awal lagu yang tiap kali saya dengar bikin saya pengen bilang, "anjir lah". Gini liriknya: I'm gonna force the Serengeti to disappear into my eyes. Sialan banget, dari mana sih ide untuk maksa padang rumput di Afrika yang guedee banget, yang ada zebra-singa-jerapah dan lain-lainnya, supaya bisa muat masuk ke dalam mata bisa muncul? Saya nggak abis pikir, karena selain suaranya yang undisguised itu, pilihan diksi dalam lirik-lirik tallest man bisa bikin di dalam kepala kita kayak lagi ada banjir. Bukan cuma hujan, angin, atau bulan aja yang dicomot, tapi juga citraan-citraan alam dari hal-hal paling primitif kayak padang rumput, sungai, hollow earth, musim semi, petir, perburuan, pohon raksasa, arak-arakan kuda, setan (mau itu evil, satan, ghost, semua disebut), cicak, duri, kerikil, gembala, kain perca, burung gagak, burung pipit, dan masih banyak lagi. Saya kadang membayangkan orang macam apa yang bisa bilang dia nggak akan ketemu kalau dicari-cari manusia karena dia bisa aja nyaru sama bolong-bolong di daun atau lagi tidur panjang kayak tikus mondok di dalam tanah.



Serengeti yang disuruh muat untuk melebur masuk ke mata, kira-kira segini ukurannya.

Dalam sebuah video wawancara di Youtube, dia pernah bilang kenapa dia banyak mendengarkan musik folk dan pilih genre ini untuk musiknya. Katanya, "I like that it's raw and kind of fragile. It can disappear as fast as it appeared." Buat saya, edannya tallest man adalah gimana dia menangkap dan merumuskan hal-hal 'megah' secara simpel di dalam lirik lagunya, ngajak kita safari ke dalam kepalanya yang rame, dan bikin kita jatuh cinta lagi dan lagi sama hidup yang sering terasa gini-gini aja, kira-kira dalam tiga sampai empat menit. Jadi, terima kasih banyak buat siapa pun yang pertama kali merekomendasikan saya untuk dengerin tallest man, dan terima kasih banyak pastinya buat Kristian Matsson, for your songs have made my life a little bit bearable (lebay, tapi bodo, ah :p ).

Senin, 21 November 2016

Pemanasan




Hang me, oh, hang me and I'll be dead and gone
I wouldn't mind the hanging but the laying in the grave so long

Sabtu, 12 Desember 2015

Once,


When we were in love (if we were) / I was an eagle/ And you were a dove.


Mbak Laura, aku nggak ngerti kenapa orang lebih banyak dengerin Adele daripada kamu, padahal kamu itu kayak Joni Mitchell, Nick Drake dan Bob Dylan dijadiin satu.

Minggu, 11 Oktober 2015

Dancing Barefoot

The plot of our life sweats in the dark like a face
The mystery of childbirth, of childhood itself
Grave visitations
What is it that calls to us?
Why must we pray screaming?
Why must not death be redefined?
We shut our eyes, we stretch out our arms
And whirl on a pane of glass
An asphyxiation, a fix on anything
The line of life, the limb of a tree
The hands of he
and the promise that she is blessed among women

Kamis, 26 September 2013

Matari


And open wide the hymns you hide
You'll find renown while people frown
At the things that you say
But say what you'll say
About the farmers and the fun
And the things behind the sun
And the people 'round your head
Who say everything's been said
And the movement in your brain
Sends you out into the rain
- Nick Drake
Looking at the things behind the sun
from western to southern part of Java island

Minggu, 24 Februari 2013

Kepalaku dan Hal-Hal yang Tak Selesai

1. Ketika konsep rumah adalah sesuatu yang asing hingga tak ada yang dapat disebut rumah kecuali sepetak bumi yang kau injak, senantiasa bergerak, maka nyaris tak ada yang namanya perasaan yang disebut rindu rumah. Apakah ini yang namanya terbebas? Apakah ini yang sekaligus kutukan? Apa itu rumah? Temanku berkata rumah adalah suatu konsep yang mesianistik: yang diharapkan untuk datang pada akhirnya, meski entah kapan sehingga upayamu menanti kedatangannya menjadi ritual yang jauh lebih kau hayati dibanding kedatangan itu sendiri. 

2. "It's not a house. It's a home. Begitu dalam Bob Dylan, The Ballad of Frankie Lee and Judas Priest, yang ditulis pada tahun 1968. Barangkali tak ada terjemahannya yang tepat dalam bahasa Indonesia. Namun ada dalam bahasa Indonesia-Jawa: Ini bukan rumah. Ini omah." - Ayu Utami dalam Omah, kolom Kodok Ngorek koran Seputar Indonesia, circa 2007.

3. Tarian Cokek itu disandingkan dengan tari ronggeng, dianggap erotis dan tabu oleh masyarakat, meski faktanya ketika sekolah dasar dahulu aku dan teman-temanku satu kelas diajari tarian tersebut di aula sekolah yang jika hujan atapnya bocor itu. Katanya tari itu mesti dilakukan berpasangan. Meski kami selalu dibagi ke dua kelompok bersisian, laki-laki dan perempuan, tak pernah kami benar-benar menarikan tarian tersebut berpasang-pasangan. Cokek, apakah solider apakah soliter? Tapi menari adalah menemukan, menemukan, menemukan. Dan penari cokek itu, barangkali takdirnya adalah menunggu? Barangkali kita semua juga begitu? Dan di bawah rembulan yang bulat dan bercahaya terang, penari cokek dan sang penyanyi hanya memandang, hatinya luka.

4. "Tuhan tahu, tapi menunggu," katanya menyitir Tolstoy sore itu saat aku bertamu ke rumahnya. Istrinya, seorang hajjah nyentrik yang senang mengenakan selendang hitam dengan motif palu dan arit kecil-kecil, ikut duduk di hadapanku dan berseloroh, "Nah, kau ingin tuntunan rohani macam apa hari ini? Kewarasan a la Gandhi atau Nietzsche?"

5. Aku pikir, para tokoh dalam cerita-cerita tradisional dan mitologi kuno itu lebih suka menyerahkan segala sesuatu kepada pertanda, karena mereka tahu menjadi bebas yang sesungguhnya bukanlah keleluasaan dalam membuat pilihan, melainkan membebaskan diri dari pilihan-pilihan dan membiarkan segala sesuatu terjadi dengan sendirinya.

Minggu, 13 Februari 2011

(Not So) Cheesy Pop Song

"Well, I always kind of wanted to write a book that all took place within the space of
a pop song, you know, like 3 or 4 minutes long,,"

Saya rasa saya ketemu apa yang dimaksud Ethan Hawke dalam Before Sunset tersebut. Tipe lagu yang seketika didengar langsung membuat anda ingat berbagai macam rasa--dalam beberapa sisi heartwarming sekaligus melankolik. Padahal lagu itu begitu.. well, pop. Bukan lagu macam-macam tentang hidup yang dikemas dengan kata-kata rumit.

Jesse mendeskripsikan sebuah momen dalam momen, momen-momen yang bergerak secara simultan. Barangkali tanpa kita sadari, seperti itulah kerja lirik dalam sebuah lagu. Dengan cerita yang berjalan, tak harus linear, yang berawal dari sesuatu sesederhana tarian yang tak direncanakan. Dan tentu saja, esensi paling utama yang membentuk cerita: gagasan. Gagasan yang muncul dari kejernihan, yang lalu dari situ segala sesuatu selanjutnya berjalan dan berjalinan membentuk cerita keseluruhan.

"You put the beautiful in life."

*****

He knows he's not remembering this dance.
He's there!
He's there in both moments simultaneously.

And just like for an instance, all his life is just folding into itself,
and it's obvious to him that time is a lie.

That's it's all happening all the time,
and inside every moment is another moment.
All happening simultaneously.

(Jesse Wallace, Before Sunset)

*****

Banyak waktu terlewat tanpa kita pernah sadar atau ingat persis apa yang sebenarnya terjadi. Ann Brashares, dalam rangkaian seri Traveling Pants-nya, pernah berkata bahwa kita barangkali terlalu risau tentang yang "sebenarnya" dalam sebuah momen ketimbang perasaan kita sendiri saat mengalami momen tersebut. Jika kembali diingat-ingat, berapa persen dalam sehari kita sungguh-sungguh ingat apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan semata rekayasa perasaan kita sendiri?

Dalam setiap momen terdapat momen lainnya. Seperti saat ini, tepat saat menulis ini, saya mendengarkan lagu yang bercerita tentang sebuah lagu. Di dalamnya ada Jesse yang berkisah tentang seorang pria yang bermimpi menjadi petualang, bukan duduk di meja marmer dan memakan sepiring lobster. Bukan tentang seseorang yang.. kaku dalam memaknai peristiwa. Tetapi ia yang ada sekaligus tak ada dalam momen, membiarkan dirinya melompati waktu dan ruang yang kasatmata.


-M O O N Y
ditemani album Slice dari Five for Fighting dan termangu sesaat ketika mendengar track berjudul This Dance. Lagi-lagi mengingat potongan Before Sunset (rasa-rasanya setiap postingan tentang ini harus mulai diberi label "Before Sunset" sendiri). Teringat potongan percakapan dengan seorang teman juga, katanya, "Tahu nggak, kenapa kebanyakan cowok lebih suka Before Sunrise? Soalnya mereka tuh maunya cuma fooling around, tanpa ikatan." Ah, another words of wisdom from you, Miss Madeline! :)

Kamis, 06 Januari 2011

Malam Kudus

Dulu saya bertanya pada Ibu saya kalau-kalau ia pernah mendengar sebuah lagu yang lebih menyedihkan dari duet Utha Likumahuwa dan Trie Utami dalam Mungkinkah Terjadi. Sepertinya ya, jawab beliau. Judulnya Ayah, tapi saya lupa Ibu bilang penyanyinya siapa. Tapi, bu, bisakah lagu menjadi sesuatu yang begitu membuat depresi walau terlepas dari memori? Barangkali saya khawatir kita selamanya tetap tak bebas dari dugaan dan asumsi. Atau barangkali kita memanglah gabungan dari seluruh kehidupan yang telah kita jalani. We are the sum of our lives, kata Ethan Hawke di Before Sunset.

Ibu, kenapa orang suka berandai-andai, berharap waktu berjalan lima detik lebih cepat atau lebih lambat agar segala sesuatu lain jadinya? Rasa-rasanya, seperti banyak hal lain yang bisa kita cerna dalam makna dan rasa, memang banyak sekali hal yang tidak berjalan linear. Coba, tanya Ibu, berapa kali kau temukan dirimu menangis bahagia atau tertawa karena kesedihan yang tragis?

Dan seperti banyak hal yang sulit kau mengerti, pun banyak yang tak tersampaikan. Seperti cinta juga yang tak linear dengan bahagia, dengan merdeka. Kata Ibu, kadang-kadang sebatas bertukar udara dan sinar matahari yang sama sudah cukup, karena tak tahukah kamu semesta mendukungmu (jika kamu percaya)?

***

Tentang cinta yang menjadi rasa takutmu; mengejan dalam mimpimu; sengit dan selalu menikammu; setajam kebencianku padamu; memaksamu membunuh; mengejar dan terus mengikatmu.

Jika saja ada jendela dan segelas soda.

Tentang cinta yang membusuk di lagu-lagu; betapa ku merindukanmu; benci dan kelam membisu; tak juga habis-habis.

Tak ‘kan juga habis-habis.[1]

***

Di antara banyak musisi yang mengingatkan betapa mengganggunya cinta, barangkali melancholic bitch bisa dianggap paling berhasil. Karena benar, tentu saja, cinta mengganggumu dalam seluruh level kesadaranmu—lalu kau mabuk untuk lari dari itu. Karena setiap kau nyalakan teve/radio/komputer di situ selalu ada cinta dengan segala jenisnya.

Syukurlah cinta tak perlu wiski atau bir oplosan.

Tapi barangkali cinta perlu warna yang lain selain merah muda. Mungkin biru tua, hitam, atau abu-abu.

***

00.12 am, 25 Desember 2010


[1] Tentang Cinta, lagu oleh Melancholic Bitch. Dari album Anamnesis.


-M O O N Y

Sabtu, 25 Oktober 2008

Mainmain Gambar dan Lirik #1

Aduh-duh!
Seperti biasa, serangan UTS dan tugas-tugas menyumbat otak saya. Walhasil niat buat posting jadi enggak ada. Maklum, saya seorang pisces. Pisces itu moody. Silogisme: saya itu moody. *bukan gara2 FB juga kok, Mba Astrid, hahaha*

Bagaimanapun juga...
Pikiran-pikiran tidak harus selalu tertuang dalam bentuk tulisan. That's why I'm keeping my sketch book, though it's more like a diary. Bedanya, diary ini gak bisa sembarangan dibaca orang. Oke, dibaca bisa, dimengerti enggak, karena saya membuat emosinya setersamarkan mungkin melalui gambar-gambar tadi. Hahahahaha.

Sembari menunggu inspirasi (dan lewatnya 'badai' UTS dan tugas), majang gambar aja ya kali ini?
(ngomong-ngomong, saya baru tahu kalau bahasa Indonesia-nya upload ternyata unggah. Lucu ya, unggah dan unduh, tapi kenapa saya jadi ingat jenis-jenis serangga?)


monggo, di-klik untuk liat ada lirik KLa yang mana aja disini :)


Ini adalah fragmen-fragmen beberapa lirik lagu yang saya buat saat mendengarkan CD KLa Project. CD itu sampai baret, parah sekali. Mulai track 6 sudah macet kalau dimainkan di player, hehehe. Tapi saya, lewat kesempatan ini, ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada KLa Project, yang telah menjadi (salah satu) sumber kewarasan dan juga mind-tickler bagi saya--berdampingan dengan pensil mekanik dan selembar kertas putih kosong--beberapa tahun belakangan ini.

Kenapa saya pilih gambar ini? Karena oh karenaaaaaa, the original KLaProject is back! It's, again, like one of my wildest dreams come true!


-M O O N Y

Sabtu, 07 Juni 2008

Float's No-Dream Land

No-Dream Land

Words & Music by Hotma Roni Simamora.

Music Arrangement by W. Benyamin, Hotma R.S., and Raymond A.S.


Running down the corridor in such fancy suit
To catch another 9 to 5
Hiding all your true desires and keep all of them mute
Seems the only way to survive

The never ending story of this no-dream land
Is on the morning headline all this time
Our hesitation is our every day's game
Is this the land that God's condemned?

Sippin' up your lunch-break coffee by the windowpane
Too many plans left to update
You can't wait to have the sun down again
To get the hell out of this cage

Hoping someone starts the revolution
Man, you know that we could be the ones
What the representatives said's not about the constitution
They're just protecting what they won

All this time we're blind
All this time...

You could have been something greater with your balanced brain
The same old line from all your mates
You said, "Why should bother I've got 'dollar' to repel the pain?"
You spit it out as your defense

To be what we want is everyone's dream
Man, you know with passion we might win
How many more lies that should blind our eyes?
We can do something to our life

All this time we're blind
All this time we're blind

*****

Hari ini Sabtu. Minggu lalu, dua minggu lalu, bulan lalu, minggu depan. Streess liat jalanan. Stres nonton TV. Terus inget lagu ini, salah satu lagu favorit gue dari Float, band Indonesia yang bermutu, baik dari sisi musikalitas maupun lirik. Dan lirik lagu ini? Salah satu lirik favorit gue kalau nonton TV dan baca koran. Daripada terus-terusan mengendapkan kalimat "Screw it!" di otak, mending bernyanyi-nyanyi ria, hahahaha.

Jadi pengen kayak Sapardi aja.. gak mau nonton tv dan ga baca koran. Jadinya in good company kan?? Hahahahahahahahaha.

Oh iya, bung Hotma Roni Simamora ini juga gak kalah sama Sapardi lho (dalam berlirik-ria, maksudnya..)
check on www.floatproject.com

Jumat, 09 November 2007

mood-maker of the week

The Heart of Life-John Mayer

..pain throws your heart to the ground
love turns the whole thing around
no it wont all go the way it should
but i know the heart of life is good

..pain throws your heart to the ground
love turns the whole thing around
fear is a friend who is misunderstood
but i know the heart of life is good