Minggu, 14 Desember 2008

2.53 AM: Instead of Studying, I am Mumbling About Fiddledeedeeness and Cursing Everything

Kasihan sekali jadi mahasiswa. Selain menghabiskan sebagian besar waktunya merasa terdoktrinasi oleh berbagai paradigma, perspektif, teori, bla bla bla, masih juga harus ditambah dengan penderitaan bahwa ia harus menganalisa kasus dengan memaksakan teori barat ke dalam karya ilmiah yang dibuatnya.

Hahaha.. ini adalah justifikasi serampangan dari seorang mahasiswi yang, alih-alih belajar dari bahan fotokopian yang diberikan dosen, memilih untuk menjadi seorang Googlist dan Wikipedian (sok-sok bikin aliran sendiri), dan menemukan fakta bahwa belajar lewat blog orang-orang Indonesia jauh lebih bikin dia mudeng daripada membaca hasil penelitian si ini, si itu, di Amerika, Jepang, Samoa, dll dkk dst dsb.--> "gaya ah, bilang aja emang ga bisa bahasa Inggris!" *suara K Ali terdengar dari jauh*

Hubungan antar pasangan atau antar orangtua-anak, misalnya, bisa dipengaruhi faktor-faktor eksternal seperti kebudayaan yang berlaku atau status sosial ekonomi di masyarakat. Pada poin ini masih sangat masuk akal. Masuk ke poin berikunya, ketika peneliti mulai melakukan dikotomi antara kelas atas-kelas pekerja, kulit putih-kulit hitam, orang barat-orang timur, saya sangat-sangat merasa terganggu. Terasa sekali bahwa pembagian ini dilakukan secara vertikal dan tidak adil. Kenapa perbedaan antara kaum hispanik dan kulit putih dalam hubungannya dengan lansia menjadi faktor etnis, misalnya? Bisa saja hal tersebut didorong oleh fakta bahwa kebanyakan kaum hispanik di Amerika Serikat adalah buruh imigran dan karenanya lebih berkaitan dengan faktor status ekonomi ketimbang etnis. Tapi kenapa jadi etnis? No further explanation, thank you. Terima kasih sekali sudah membuat saya, selain harus berjuang menjejalkan berbagai teori ke dalam kepala, bahkan tidak mendapat penjelasan yang memuaskan mengenai apa yang sebenarnya saya coba masukkan ke kepala tadi.

Lalu dikatakan juga bahwa segala hal yang serba vertikal itu ada karena fungsional. Sebelumnya maafkan, siapalah saya mengkritik tuan-tuan besar ilmu pengetahuan, tapi bukankah fungsi terbentuk untuk merujuk manfaat dari suatu hal yang telah eksis? Kenapa kerap kali terasa seperti pembenaran ya?

Daaaaan...demikianlah sebagian besar bahan kuliah saya di semester ini. Kasihan sekali jadi mahasiswa. Atau saya harusnya pindah ke jurusan antropologi saja kalau pengen belajar sesuatu yang lebih horizontal ya? He he.


-M O O N Y
maaf, sudah tengah malam buta. pas ngebaca ulang juga sebenernya bingung nulis apaan sih saya? ini cuma dorongan bulan purnama, kayaknya. atau mungkin juga karena besok pagi ada ujian dan saya cuma bisa marah-marah karena ga ngerti bahannya.

2 komentar:

Boni Wardhana mengatakan...

Bagus mahasiswa. Teruskan marahmu! ... haiyah. Terpujilah mahasiswa yang melampiaskan kemarahan lewat blog ketimbang teriak2 ngatain orang lain goblok.

Dah sana, belajar lagi. Penderitaan itu sudah jadi masa lalu saya.

Unknown mengatakan...

"segala hal yang serba vertikal itu ada karena fungsional"

yeah, itu emang shitty explanation ;p