Saya teringat suatu hari di SMP. Seorang teman yang berujung menjadi sahabat baik saya sampai sekarang, Ajeng, menenteng novel yang tidak terlalu tebal dengan kertas yang sedikit menguning. "Gadis Pantai", katanya, "punya uwa gue..". Kami berdua gemar membaca. Bahkan, begitulah persahabatan kami bermula. Di hari pertama kelas tiga SMP itu, pada jam istirahat, hanya kami berdua yang tersisa di kelas. Duduk berjauhan dan tidak saling mengenal. Tapi kami berdua melakukan hal yang sama: Membaca.
Itulah perkenalan pertama saya dengan Pramoedya Ananta Toer. Diawali Gadis Pantai, lalu Arok Dedes. Bumi Manusia yang lekat di ingatan saya adalah versi terjemahannya, This Earth of Mankind, yang saya pinjam dari Library@Senayan. Saya ingat protes teman saya, "Baca buku tentang nasionalisme kok yang bahasa Inggris?!". Hahaha..
Begitulah kecintaan terhadap karya-karya Pram bermula. Ujian akhir Bahasa Indonesia, saya dan teman sebangku (sekaligus sahabat saya, Esti) mereview keseluruhan Tetralogi. Kami akhirnya terpaksa harus kebut baca jilid keempat yang saat itu selalu kami tunda untuk dibaca karena tak ingin tahu ending cerita. Kami lalu menangisi Minke bersama-sama. Mengutuki Pangemanann tak habis-habisnya.
Kami menangisi Pram yang tak kesampaian memenangkan Nobel sastra, Pram yang 'terlanjur' wafat padahal belum sempat kami mintai tanda tangannya di buku-buku kami, Pram yang sebagian teman kami tanggapi namanya dengan kernyitan di dahi.
Kami sadar, membaca Pram tidak bisa hanya sekali. Kami pun sadar, selalu ada semangat dan inspirasi baru yang muncul setiap kali membaca karya-karyanya. Saya sendiri pertama-tama terpesona struktur bahasa dan permainan kata-katanya, baru saya 'kepincut' Minke dan kekerasan hatinya. Kami tak habis pikir bagaimana mungkin novel sebagus ini bisa dilarang dibaca.
Hari ini, Mbak Ery Seda berkata bahwa "segala yang berada di bawah kolong langit" dapat dianalisa secara sosiologis. Pikiran saya melayang kepada kata-kata Nyai Ontosoroh,
"Segala yang berada di bawah kolong langit merupakan urusan orang yang berpikir". Hari ini, 6 Februari 2009, saya menyanyikan Darah Juang untuk Pram dan berdoa semoga segala yang berada di bawah kolong langit itu dapat menjadi inspirasi bagi saya. .
-M O O N Y
1 komentar:
hi moony..
isi blognya bagus.. saya suka hehe..
saya link di blog saya boleh?
btw, saya penggemar baru Pram. sayang baru baca 2 buku tetralogi buru. ntar kalo pulan ke indo rencananya mau hunting buku pram.
salam kenal ya...
Posting Komentar