Kamis, 01 Oktober 2009

Takut: dan Saya Belajar Atasmu

adalah ketakutan yang sesungguhnya menjadi sumber kekuatan yang paling besar. pun kadang kala menakutkan.

ketakutan menuntut Pak Kereta menggunakan setelan pakaian bermotif tentara di balik pakaian sehari-harinya. sungguh mengharukan, ketakutan dan traumanya akan masa lalu sebagai seorang tahanan politik membuatnya ber"delusi" dan "halusinasi" (oh, saya benci menggunakan istilah medis yang modernis fasis ini, namun apa boleh buat), membuatnya hidup senantiasa dalam kekhawatiran akan masuknya roh halus ke dalam dirinya.


ketakutan, yang menjadikan tiga juta orang dibantai untuk menghapus dosa atas terbunuhnya para jenderal di Lubang Buaya. oh, adakah yang berhak mengkalkulasi berapa harga atas nyawa?



inilah tragedi ketika tertuduh sekaligus menjadi korban. dan kita tidak belajar untuk menyingkap kebenaran, kita belajar untuk memaafkan namun tidak melupakan. kita belajar untuk tetap hidup dalam ketakutan.



karena sesungguhnya ketakutan dan represi adalah perekat,



dan dalam ketakutan, rasionalitas hilang..



yang tertinggal hanya polarisasi ekstrim: kawan dan lawan, kiri dan kanan, hidup dan mati..






saya mengheningkan cipta bagi para korban dan mereka yang ditinggalkan,
hidup dalam ketakutan,
keterasingan,
dan
ketidakadilan.



-M O O N Y
Untuk negara merdeka, (namun) yang tak merdeka sejak dalam pikiran.


Tidak ada komentar: