Melihat begitu banyak acara anak muda yang dilandasi oleh semangat demokrasi, saya jadi senyum-senyum sendiri. Senyum dalam beberapa arti, sebenarnya. Saya ingat diri sendiri yang dulu cukup terusik dengan istilah ini saat belajar sistem politik di semester dua. Betapa sering kata ini dijejalkan ke dalam pikiran kita, bahkan sedini mungkin sejak sekolah dasar. Demokrasi jadi lumrah. Kita rasa-rasanya bisa menangkap dan mungkin merasa paham atasnya. Tetapi paham atas dasar kelumrahan bisa sering menyesatkan--dia bisa selalu jadi jawaban pertanyaan-pertanyaan yang lahir ketika muncul keragu-raguan. Kalau kata Umar Kayam, kita jadi cenderung menjawab "pokoknya.. pokoknya..", gitu. Lebih parah, mungkin saja tidak muncul keragu-raguan sama sekali.
Kadang-kadang, kebebasan individual dan kelompok saat ini dengan mudah bisa dilandasi semangat ini. Pendek kata, apapun yang terjadi, "Pokoknya Demokrasi!". Yang lebih ironis, ada orang-orang yang merasa kebebasan berpikir muncul karena demokrasi. Dari kebebasan berpikir lalu melahirkan kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat, kebebasan melakukan apa saja sebebas-bebasnya. Bebas, bebas, bebas! (Tebas, tebas, tebas!)
Well, saya pikir manusia selalu bebas berpikir, ada ataupun tidak ada demokrasi. Jika Machiavelli bilang, "di dunia ramai, yang suci murni tak pernah terjadi", apa bedanya--kecuali kita memilih untuk hidup sendiri?
Demo. Demos. Rakyat. Ramai.
(Tak suci dan tak murni?)
-M O O N Y
2 komentar:
akhirnya nulis lagi neng. likes it ah, secara gw alpha girl hahaha :DD
tenang, mol. ga semua org percaya sm demokrasi, trmasuk yg triak2 ngebela demokrasi.
Posting Komentar