Selalu ada yang harus dibayar mahal dari sebuah kemudahan.

Di tengah-tengah ubin lantai dapur yang dibersihkan setiap pagi dan sore, selalu dapat kita temukan benda-benda yang begitu saja tergeletak di lantai. Mungkin karena itu tidak jarang kita melihat rumah dengan dua dapur: kering dan basah. Dapur kering banyak terdapat di rumah-rumah perkotaan, jenis dapur yang lantainya bersih kemilau dengan alat-alat masak bermodel minimalis berwarna putih, yang terletak dekat ruang makan dengan dibatasi hanya oleh semacam meja model pantry, yang tidak jarang di atas kitchen cabinet-nya terletak microwave atau coffee maker. Dapur basah adalah dapur tempat ibu atau asisten rumah tanggamu menggiling cabai dengan batu gilas sambil duduk di bangku kecil atau mengupas kulit bawang atau ujung tauge di atas tampah berbentuk lingkaran besar, yang lantainya tidak bersih kemilau melainkan dipenuhi oleh bercak cipratan minyak goreng, air tetesan sayur setelah dicuci, atau kulit kentang yang terlontar ketika dikupas di atas bak cuci.
Yang satu dapur modern, yang satu dapur tradisional. Atau yang satu dapur ibu, yang satu dapur si mbak.
Tapi ibu saya tidak bisa memasak dan saya tak punya asisten rumah tangga. Nenek sayalah yang gemar memasak untuk makan saya dan adik-adik di rumah. Untungnya, nenek adalah seseorang yang tak pernah tahan memasak di dapur yang terlalu mengkilat. Semakin banyak ruang lapang di lantai untuk duduk dan menggelar tampah atau menyalakan kompor minyak tanah, semakin betah beliau duduk di dapur. Di lantai dapur rumah saya ada berbagai ukuran batu gilas, mulai dari yang sangat besar sampai yang kecil sekali seperti mangkuk. Beliau berusia delapan puluh satu tahun dan sama sekali tidak pikun, dan saya selalu berpikir hal itu mungkin karena tangannya terus bergerak gesit menggiling berbagai bumbu dapur yang serba ruwet dan menaksir takaran bumbu untuk setiap jenis masakan yang serba njelimet.
Dari beberapa bongkah besar gula merah, bawang putih, terasi, dan garam, jadilah bumbu rujak tahu yang sangat lezat. Ternyata ‘hanya’ itu yang diperlukan untuk menciptakan sebuah masakan yang digemari oleh seluruh anak dan cucu-cucu beliau. Saya bayangkan sebuah alat penggiling bawang merah, yang membuat rasa bawangnya sedikit mirip kopi. Saya bertanya-tanya dalam hati: cara memasak seperti ini akankah masih ada sepuluh atau dua puluh tahun lagi, ketika seluruh desa telah menjadi
Berkas sinar matahari menyelinap di celah langit-langit dapur, membias di lantai dapur yang basah dan menjadikannya kemilau sejenak, sebelum akhirnya mendung membayang.
Selalu ada yang harus dibayar mahal dari sebuah kemudahan.
2 komentar:
Hmm semoga masih ada yah, mol 10-20thn lg
suka banget postinganlo mol.. :D
dan gw selalu suka pas nyokap gw lagi gelar tampah + bikin stok bawang yang udah di kupas biar lebih gampang kalo mau masak buru2.. heheheh.. :D
Posting Komentar