Rabu, 17 Agustus 2011

Bewildered

Pikiran bahwa tubuh kita dijalin dari jutaan hal yang serba membingungkan, rumit, bahkan ajaib sama memukaunya dengan pikiran bahwa tubuh yang sama juga ada karena sesuatu yang disebut gen-gen yang egois. Gagasan bahwa ada sesuatu di luar sekaligus di dalam diri kita yang menancapkan kehendak awal mula untuk hidup saja sudah nyaris membuat putus asa, ditambah kehendak-kehendak yang muncul sesudahnya setelah hidup itu sendiri: bertahan, bertaruh, bertarung, untuk hidup lagi dan lagi. Kita tak bisa mengontrolnya, mereka hidup sendiri dengan kehendak yang telah terakumulasi mungkin berabad-abad. Kata-kata seperti “hanya manusia” semakin jadi justifikasi saja atas hal-hal yang serba buruk tentang diri kita.

Mau tak mau, kita jadi sedikit toleran dengan mereka yang nekat menghabisi diri mereka. Bukan, bukan bunuh diri, tapi mereka yang menghabisi generasi mereka, membabat sendiri pohon sejarah mereka, memastikan bahwa gen-gen egois yang telah mengaliri darah mereka habis musnah terserap tanah. Banyak sekali orang yang nyaris ketakutan dengan ide ini. Keterhabisan. Keselesaian. Jelas, kita tidak pernah dirancang untuk siap dengan sebuah akhir. Bagaimana mungkin kita bisa ketika segala akhir adalah sekaligus awal dari yang lain? Bahkan beragam jenis teknologi dan pengetahuan dibangun untuk dapat merevisi yang final, sehingga kata final akhirnya jadi tak masuk akal. Karena jika semudah itu untuk paham bahwa ada yang mesti selesai, siapa pun tak akan ribut-ribut untuk bicara tentang kiamat, kan?

Bagaimana mungkin mereka yang berharap atas ketidakterhinggaan dianggap hina, ketika mereka yang menghina juga menjunjung diri sedemikian tinggi dari ketidakterhinggaan itu sendiri?


-M O O N Y

Tidak ada komentar: