Apa sesuatu yang bisa kita petik dari Closer, Little Children, dan beberapa waktu yang lalu, Laki-Laki yang Menikah dengan Perempuan (yang Ternyata Laki-Laki)?
Satu, ragu-ragu itu perlu. Selalu. Sebabnya (dua), setiap orang menyimpan kegilaan masing-masing. Bisa dibilang, inilah dua ketakutan terbesar saya dalam relasi dan interaksi antar individu saat ini. Bahkan dalam lingkup terdekat dan tersempit, bukan sekadar paranoia terhadap kriminitalitas jalanan atau tusuk-dari-belakang dalam lingkaran pergaulan. Kurang, tapi sekaligus lebih dari itu.
Mungkin kita tidak lagi berada dalam batasan kata-kata yang menghakimi manusia kepada kelemahannya sebagai makhluk yang ingin percaya bahwa setiap orang pada dasarnya baik. Tidak perlu lagi mendefinisi orang lain untuk menentukan bagaimana kita berpikir. Kitalah tolak ukurnya. Seorang antropolog asal Jepang, Saya Sasaki Shiraisi, dalam catatan pengamatannya tentang Jakarta yang sangat menarik menulis tentang potensi bahwa siapa saja di jalanan Jakarta bisa menjadi rampok. Shiraisi mengutip sebuah cerita pendek dari majalah anak-anak tentang seorang remaja yang mengambil pistol dari dalam saku pencopet yang tadinya justru berniat mencopetnya. Siapa korban, siapa pelaku. Rancu. Yah, berapa kali sudah kita dengar komplotan garong dalam mikrolet kini tak hanya sejumlah laki-laki berwajah seram yang mengenakan jaket kulit, tetapi juga ibu-ibu bertampang sederhana yang memakai daster dan sandal jepit?
Adegan akhir dalam Closer memperlihatkan sosok Natalie Portman yang melengang melewati petugas imigrasi. Apa yang ia tinggalkan di belakangnya bukan hanya sebuah negara, tetapi juga sejarah dan identitas dirinya. Ia meninggalkan Alice Ayres, identitas yang ia curi dari sebuah nisan. Ia juga meninggalkan hubungan yang telah terjalin bertahun-tahun. Dan kita mungkin ikut termangu, persis seperti ekspresi wajah Jude Law saat melihat nisan Alice Ayres asli, ekspresi yang sadar bahwa dia tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan yang menjadi kekasihnya selama beberapa tahun. Lewat Closer kita tahu bahwa diri bisa sepenuhnya terbentuk lewat kata, manusia mudah percaya, dan bagaimana keduanya menggiring pada bahaya.
Little Children membuat kita terhenyak karena kegilaan adalah bentuk kesadaran yang total—yang mengabaikan juga sejarah, identitas, dan memori dalam sekejap mata. Siapa yang duduk di hadapanmu, tetanggamu, pasangan rumah tanggamu, kau tidak pernah sepenuhnya tahu. Ia adalah orang yang dalam lima menit berikutnya bisa meninggalkanmu dengan mudah karena bertemu dengan perempuan asing di sebuah taman yang mengajaknya lari ke kota lain. Ia adalah orang yang sepenuhnya tampil seperti sebuah sampel atas populasi manusia kota: laki-laki, berkeluarga, berpendidikan, bekerja, dan sebagainya.
Dalam versi yang sedikit lebih jenaka kita temui rapuhnya relasi dalam kasus laki-laki yang menikahi laki-laki lain yang mengaku sebagai perempuan. Banyak orang merespons berita itu dengan tawa dan menjadikannya lelucon—tapi apa kita mungkin sedang tertawa pada diri kita sendiri? Apa kita sepenuhnya yakin dan tahu tentang orang-orang terdekat kita? Kalaupun kita tahu, bisakah kita percaya?
Di atas itu semua, apa kita sepenuhnya percaya pada diri sendiri? Tidakkah kapasitas untuk itu terlalu berat untuk kita miliki?
-M O O N Y
2 komentar:
percaya mah sama tuhan molllll....istighfar!
:p
"Barangkali itulah ironi manusia, Bung. Kita bertemu muka setiap hari, bahkan ngobrol, di kantor, di pasar, dan di kaki lima, tapi masih selalu saja ada rahasia yang tak pernah bisa kita duga. Manusia memang penuh kejutan, begitu kan, Bung?"
- SGA
Posting Komentar