Selasa, 21 Agustus 2012

Kafir

Kerumunan adalah tempat kita tak sempat menjadi titik.

Saya lupa membaca kutipan ini dari mana: "Tak ada tempat terbaik untuk menempa diri kecuali (di dalam) masyarakat." Karena itu, ide-ide fatalistik yang pernah numpang lewat di dalam kepala sebaiknya jangan pernah diberi waktu untuk terelaborasi. Sebab percuma saja. Mau tak mau di sinilah tempat untuk kita menyelesaikan diri kita sendiri.

Saya tersaruk-saruk. Sebab kerumunan--keluarga, pertemanan, tetangga, perusahaan, sekolah, masyarakat, negara sampai entah apa struktur lain-lainnya tak sudah-sudah, kadang tak mengizinkan kita menjadi titik yang bebas. Relasi selalu bergaris. Interaksi selalu berbumbu. Saya takut dengan senyum-senyum yang mereka pasang. Barangkali mereka juga takut dengan ketidak-tertebakan atas kami, anak-anak yang mereka saksikan tumbuh dengan kedua mata mereka. Mereka takut kami jadi begundal, sulit percaya bahwa kami bisa memilih untuk diri sendiri. Tapi itu bukan alasan untuk setiap impian kodian yang dipaksakan dan jalan-jalan hidup yang layak dijadikan pilihan.

Pada suatu dunia yang paralel, saya membayangkan kerumunan-kerumunan ini adalah titik-titik yang mengapung bebas, berwarna-warni, bebas menjadi diri mereka sendiri. Tidak perlu ada mimpi yang dikuantifikasi.

Terima kasih, berkat kalian kini saya sangat sulit percaya.

Tidak ada komentar: