Sedikit Tentang Sesal
Dilontarkan pada berbagai kesempatan, sesal merupakan kata kambing hitam yang paling nista di muka bumi--paling tidak dalam Bahasa Indonesia yang sesuai EYD. Kita menyesali kematian kerabat/keluarga, kita menyesali perempuan/laki-laki yang tidak kita dekati, kita menyesali pekerjaan yang kita tinggalkan, kita menyesali sekolah yang tidak kita lolosi, kita menyesali memesan sambal ayam penyet yang paling pedas, kita menyesali meminum susu yang sudah kadaluwarsa, kita menyesali duduk di cat yang masih basah, kita menyesali lupa membawa celana dalam cadangan, dan yang paling fatal kita menyesali kita yang dilahirkan di muka bumi (*puk, puk). Mitos sesal ini dimulai dari asumsi bahwa apapun itu yang kita lewati/lupakan/tinggalkan/gagal/dsb bisa saja membawa kita pada--meminjam terminologi Arab--Sirat al-Mustaqim. Kata kunci yang perlu kita lihat di sini adalah bisa saja, sebuah kata yang biasa digunakan untuk probabilitas. Probabilitas, dalam bahasa awam, berarti ada kemungkinan benar dan salah. Dalam hal ini probabilitas di sini dapat mencapai 50% yang berarti bisa saja benar bisa saja salah. Ilusi bahwa apabila kita mengambil jalan yang lain maka hidup kita akan lebih baik telah berkumandang sejak ribuan tahun yang lalu, mungkin saja, belum ada rekam sejarah yang membuktikan pernyataan ini salah. Namun coba saja, buktikan bahwa andaikan menjadi: dokter, insinyur, pengacara, pelancong, kehidupan akan sepasti-pastinya lebih baik dari sekarang ini. Peningkatan status sosial? Mobilitas pendapatan finansial? Penemuan makna ilahiah? Moksa? ****
Pertanyaan yang tidak pernah selesai mengenai probabilita: Kalau kapitalisme modern adalah afinitas elektif dari asketisme golongan Kristen Calvinis yang memilih bersikap baik dan bekerja keras selama hidup di dunia, yang didorong oleh probabilita bahwa mereka bisa saja berakhir di surga atau neraka yang telah ditentukan sebelum mereka lahir, kenapa mereka memilih untuk tetap bersikap baik? Apa supaya tidak menyesal?
Tulisan ini masih mentah dan seharusnya dirahasiakan. Namun demi terwujudnya kewarasan kolektif yang makin langka akhir-akhir ini, tanpa persetujuan penulis saya tergerak untuk mempublikasikan sedikit cuplikannya. Selamat tertawa! (Kalau anda tertawa, artinya akal sehat anda masih jalan. Kalau tidak... silakan follow @aps2201). #FuckYeahAndaru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar