Selasa, 13 November 2012

Aureliano

"Ingatlah, sobat," katanya. "Bukan aku yang menembakmu, tetapi revolusi."

Jenderal Moncada bahkan tidak bangkit dari pelbet melihat Aureliano masuk.

"Pergilah ke neraka, teman," jawabnya.

Sampai saat itu, sejak pulang, Kolonel Aureliano Buendia belum pernah membiarkan dirinya melihat Moncada dengan mata hatinya. Ia terkejut melihat betapa jenderal itu sudah tua, betapa tangannya gemetaran dan dengan telaten menyesuaikan diri selama menanti kematian, kemudian ia merasa jijik kepada dirinya karena perasaannya mulai dicampuri rasa kasihan.

"Kau lebih tahu daripadaku," kata Kolonel Aureliano Buendia, "bahwa semua pengadilan militer adalah lelucon, dan sebenarnya kau harus membayar kejahatan orang lain karena apa pun yang terjadi kali ini kami akan menang. Bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama jika jadi aku?"

Jenderal Moncada bangkit untuk membersihkan kacamatanya yang berbingkai tanduk tebal dengan ujung kemejanya. "Mungkin." katanya. "Tetapi yang membuatku risau bukan karena kau akan menembakku sebab bagaimanapun, bagi orang seperti kita, ini kematian yang wajar." Ia meletakkan kacamatanya di atas tempat tidur dan melepaskan arloji serta rantainya. 

"Yang membuatku risau," lanjutnya, "adalah dari kebencian yang amat sangat terhadap militer, melawan mereka dengan sengit, dan seringnya kau memikirkan mereka, kau berakhir menjadi sama buruknya dengan mereka. Dan tidak ada cita-cita dalam hidup yang layak diraih dengan kerendahan budi seperti itu." Ia melepaskan cincin kawinnya dan medali "Bunda Maria yang Selalu Menolong" lalu diletakkan di sebelah kacamata dan arlojinya.

"Dengan cara demikian," ia menyimpulkan, "kau tidak hanya diktator paling otoriter dan paling berdarah dalam sejarah kita, tetapi kau akan menembak sahabatku, Ursula, dalam upaya menundukkan hati nuranimu."

*****

Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude): 212-213. 
Gabriel Garcia Marquez, tentang nurani.

Tidak ada komentar: