Kamu belum pernah tahu bahwa kakekku adalah satu-satunya orang yang ingin kuperkenalkan padamu. Simbah, kupanggil dia begitu. Simbah adalah orang yang selalu tampak kesepian--tetapi bukankah semua orang tua tampak seperti itu? Dulu, bertahun-tahun yang lalu, tak pernah kupahami betul kalimat-kalimat yang ia gumamkan setiap kali ia menjagaiku sementara ibu dan bapak pergi berladang. Aku hanya ingat yang paling mengesankan bagiku adalah kedua bola matanya yang memutih, hingga pada suatu hari kutanyakan bagaimana rasanya perlahan-lahan tak bisa lagi melihat. Ketika mendengar pertanyaanku, Simbah hanya menutup kedua matanya dan tersenyum. Ia terdiam lama sekali sampai-sampai aku gusar dan takut pertanyaanku melukai hatinya. Tetapi ia kemudian menjawab lirih, "Tak pernah aku percaya kepada mataku."
Aku tak tahu kenapa jawaban Simbah selalu terngiang di dalam kepalaku. Barangkali itu adalah pelajaran tentang hidup yang pertama-tama kuterima: ragukan segala sesuatu. Kadang kurasa, dengan begitu tak ada lagi yang terasa berat untuk dijalani. Kutelan segala macam falsafah dan omong kosong lainnya yang tampil di depan wajahku karena aku yakin tidak ada yang sungguh benar ataupun salah di dunia ini. Betul kata Simbah, aku serba terbatas dan dunia ini terlampau luas.
Tapi kamu ingat perjumpaan kita saat gulita malam meradang dan kita sebatas dua orang asing yang menumpang di atas bus yang melaju kencang? Saat mata kita beradu, wajah Simbah lah yang muncul dalam benakku. Simbah yang pernah berkata tak percaya pada matanya. Aku memohon maaf kepadanya karena aku tak lagi tidak percaya kepada mataku, karena akhirnya telah kusaksikan kesepian yang brutal di mata yang lain. Detik itu juga, aku percaya, ada sesuatu yang nyata dan benar adanya: keterasingan manusia.
Semoga kamu baik-baik saja, dimana pun kamu berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar