Pagi ini, nyaris tidak merasa bersalah sama sekali pada tanah yang lembab dan hitam pekat, pada pakaian yang basah kuyup, dan pada berbagai macam serapah yang terlontar di udara atas padatnya jalan raya dan ruang-ruang di antaranya, saya duduk menikmati segelas teh dingin dan membaca esei Tagore yang berapi-api menerangkan tentang kesatuan kreatif. "Kebenaran adalah keindahan, keindahan adalah kebenaran," tuturnya. Siapa saja boleh berdebat panjang lebar tentang premis tersebut, terlebih di masa segala sesuatu terasa artifisial seperti saat ini. Tapi bagaimana jiwa menemukenali keindahan? Mungkin memang tidak rumit. Karena pada segala sesuatunya ada keindahan, jika kita melihat sesuatu adalah bagian yang tak terpisah dari sesuatu yang lain, semacam kesatuan dari hal-hal yang luput kita beri apresiasi. Tumpukan sampah, kerutan wajah, hari yang berputar terlalu cepat dan ketergesa-gesaan, karbon monoksida dan sumpah serapah, semuanya membentuk keindahan dari fragmen kehidupan sehari-hari. Melebihi segala hal, jangan ragu bahwa Tuhan adalah yang maha indah, dan inilah dunia, manusia, hidup, ciptaannya, manifestasinya.
Januari 2013. "Masa lampau adalah seperti mimpi," tulis Gie pada 17 Desember 1961.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar