Minggu, 11 Maret 2018

Minggu Sore

Ini sore yang santai. Minggu sore yang tidak menuntut apa-apa selain totalitas untuk menjadi malas. Gara-gara sebuah artikel tentang gayahidup "No Life", saya jadi suka kepikiran tentang waktu-waktu saya yang terbuang untuk perasaan bersalah yang tidak perlu atas pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai. Saya menukar perasaan bersalah itu sore ini dengan sesuatu yang lebih penting dan perlu: nostalgia, soalnya katanya nostalgia membuat kita merasa lebih terhubung dengan manusia lain dan membuat kita lebih murah hati. Di rumah ini, ibu dan nenek saya sedang duduk bersisian di depan televisi yang menayangkan film tentang anjing. Kucing kami di rumah, Felix, mengintip ke arah saya yang duduk di kamar adik laki-laki saya, menghadap laptop yang memasang suara Jason Ranti yang bernyanyi tentang anak seni bernama Stephanie. Di belakang saya, sepupu saya lelap tertidur. Namanya Dila. Dia dan adiknya, Firman, suka datang ke rumah kami setiap hari Minggu. Dia suka sekali bercerita dan tadi siang begitu datang ia langsung bercerita tentang hantu di kantornya, sementara Firman langsung mengambil gitar milik adik laki-laki saya dan duduk anteng di kursi makan mempelajari chord lagu "Donna, Donna". Setiap Minggu sore saya seperti dipaksa merasa tua. Ingat bertahun-tahun yang lalu mendengar suara azan di tepi danau perpustakaan kampus dari beberapa masjid yang seperti bersahut-sahutan. Ingat beberapa buku cerita di lemari yang, saat dilihat lagi, tanpa terasa sudah hampir 20 tahun umurnya. Ingat sebentar lagi mungkin sampai ke umur 30 dan ternyata masih saja takut mati. Ingat sore saat duduk-duduk di bukit dan melihat laba-laba kecil sekali merajut sarang sampai selesai bersama Ama. Ingat keluar-masuk toko-toko tua di pasar kota Palu dengan barang-barang pajangan yang mungkin tidak berubah sejak satu dekade yang lalu. Ingat waktu pertama kali baca novel Ronggeng Dukuh Paruk dan habis itu pinjam berkali-kali di perpustakaan SMA sampai jadi bersahabat dengan penjaganya, Pak Tugi, yang sekarang sudah pindah jaga perpustakaan di surga. Ingat buku diary SD dengan sampul gambar Sailor Moon, isinya cerita tentang sekolah di Jakarta yang beda banget sama sekolah di Bali--senang karena uang jajan naik drastis dari lima ratus ke dua ribu rupiah, tapi sedih karena di Jakarta kayaknya nggak ada tanaman pletekan yang kalau kena air bisa meledak. Eh, ternyata tanaman itu nama aslinya Ruellia tuberosa dan ada di mana-mana. Ingat murid les privat waktu kuliah, Jimi, yang tadinya nggak ngerti matematika sama sekali sampai bisa dapat 90 di ujian nasionalnya. Ingat pertama kali nonton di bioskop di jalan raya Kuta, bioskopnya sekarang udah nggak ada. Ingat waktu resign kerja pertama kali, Desember 2012, lalu dapat tiket pesawat ke Padang yang harganya 99 ribu saja, lalu pergi menyusul oma ke Batusangkar karena khawatir oma kok udah dua bulan di sana dan nggak ada tanda-tanda mau pulang ke Jakarta--eh, ternyata saya ikutan betah di sana dan nggak mau pulang. Ingat sehari sebelum ulang tahun ke-25 pura-pura diajak makan sate, eh nggak taunya diculik ke Puncak sama teman-teman satu kantor. Ingat setahun sebelumnya dikasih kado satu dus sembako sama teman-teman Pamflet untuk stok makanan saya dan adik laki-laki saya yang waktu itu cuma tinggal berdua di rumah. Ingat ulang tahun bertahun-tahun sebelumnya di Bali, ada kak Mimi yang selalu ingat tanggal ulang tahun saya dan meletakkan kado yang dibungkus rapi di dekat bantal, supaya setiap saya bangun saya langsung bisa lihat ada kado di sana. Ingat percakapan tentang film Samsara dan Waking Life, tentang ibu yang sudah bertahun-tahun tak ditemui, tentang krisis air dan perang antarwarga yang membuat bahan makanan menipis, dan tentang beda magisnya Gabriel Garcia Marquez dan Salman Rushdie bersama seorang teman. Ingat wihara kecil di dekat sungai Cimanuk, Indramayu, dan penjaganya yang tinggal cuma berdua dengan anak laki-lakinya, yang sebulan yang lalu saya dan Amrie datangi kembali dan ternyata penjaganya sudah ganti, yang bercerita ke kami bahwa Pak Yaya, penjaga yang lama, meninggal dunia enam bulan yang lalu karena serangan jantung saat sedang makan mie bersama anaknya. Ingat melihat gerhana matahari pertama kali di Bangka dan ingat bolu nanas asli Bangka yang enaaak sekali. Ingat kucing-kucing kami di rumah: Hedwig, Kerapu, Optik, Ripap, Gembul, dan kucing-kucing yang numpang tinggal temporer lainnya, yang mungkin sekarang lagi pada ngumpul bareng di surga kucing. Ingat mimpi berdiri di ujung dunia, mimpi terbang dan lihat banyak burung biru di atas gunung, dan mimpi lihat bulan ada dua kayak novel 1Q84.  Ingat teman-teman di kampus yang nggak rela saya nggak ikut wisuda, lalu pura-pura ngajak saya piknik di UI padahal bawain toga dan seikat bunga lalu nyuruh saya foto di pinggir danau untuk dikasih ke oma. Ingat semua teman, semua momen, semua hal-hal baik yang bikin saya kayak sekarang. Ingat macam-macam yang kalau dibiarkan bisa seperti selang mampet yang tiba-tiba dibersihkan lalu airnya mengucur deras ke mana-mana.

Tidak ada komentar: