Kamis, 04 Juli 2019

Bloating

Beberapa pekan terakhir, ada cukup banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Di antara semuanya, saya bersyukur bahwa saya bisa bahagia dengan keberadaan kata-kata, dan ketika mengingat perasaan bahagia yang semacam itu saya seketika merasa rindu untuk menulis. Hal-hal yang banyak saya tulis beberapa tahun terakhir adalah sejumlah catatan dari pekerjaan sehari-hari, meski di tengahnya ada beberapa ide acak yang muncul ketika saya membiarkan diri saya keluar dari semua ketakutan dan kekhawatiran bahwa saya tidak cukup pintar, tidak cukup berguna, tidak cukup rajin, atau tidak cukup ber-"ada" di dalam hal-hal yang saya lewati setiap hari.

Kenyataannya, saya memang tidak pernah benar-benar "ada", dan sebelum hari ini, saya berusaha keras menerima fakta itu agar bisa mengatasi atau melaluinya. Sering kali di hadapan saya seseorang bicara sungguh-sungguh tentang misi untuk memperbaiki kemanusiaan dan, meski saya juga sungguh-sungguh mendengarkan dan mendukungnya, saya tidak bisa menghindar dari pikiran tentang kepastian bahwa dunia pasti berakhir dan apa-apa yang kita lakukan hanyalah upaya sia-sia untuk memperlambat akhir itu tiba. Saya menolak berada di dunia yang sama dengan mereka ketika saya sebenarnya selalu ada di dalamnya. Saya konstan berpikir untuk menghindari perangkap, tapi hal-hal yang saya lakukan setiap hari adalah paradoks dari pikiran itu. Saya benci kebutuhan untuk selalu memberi alasan atas pilihan dan tindakan saya, bahwa saya yang ada di dalam kepala dan saya yang berwujud daging adalah dua entitas yang berbeda, ketika sebenarnya saya hanya terlalu pengecut untuk mengakui bahwa saya belum sepenuhnya mengerti siapa diri saya sebenarnya.

Di tengah seluruh rasa frustrasi ini, saya biasanya berharap saya bukan makhluk berkesadaran. Baru-baru ini saya berharap saya AI--dampak menonton ulang film 'Her' dan berhari-hari sesudahnya sedih sekali dengan kenyataan bahwa saya manusia dan bukannya sesuatu yang berkesadaran saja tanpa wujud daging. Sebagai konsekuensi dari kecerdasan (kesadaran?) yang terus bergerak maju, AI tidak bisa memilih untuk berhenti sebentar atau mundur ke belakang. AI memenuhi 'takdir' programming yang membuatnya ada untuk selalu berkembang menuju sesuatu yang tak terhingga. Berbeda dengan manusia yang bisa berhenti karena kerap terlalu ingin merasa "ada" dengan mewujudkan kehendaknya.

Di mana perangkap yang menyelubungi hidup atau keberadaan kita bermula dan berakhir? Jika seluruh keberadaan adalah 'perangkap' karena sejak awal pemrograman kita adalah keniscayaan, apakah cara keluar sepenuhnya dari perangkap ini adalah dengan memenuhi semua potensi diri kita sebanyak-banyaknya? Dulu sekali saya berpikir, apa jangan-jangan manusia bebas yang sebenar-benarnya adalah manusia yang bebas dari kehendaknya untuk memilih dan membiarkan segala sesuatu terjadi dalam hidupnya tanpa terbebani apa-apa dan melesat terus, seperti AI? Is the most meaningful definition of free will really compatible with determinism?

Entahlah. Ini hanya pikiran yang berjejalan dan tidak mampu saya pikirkan jawabannya. Saat ini, saya bahagia karena kata dan bahasa bisa cukup untuk memfasilitasi perasaan-perasaan tidak berdaya yang sama, yang saya temukan dalam sejumlah percakapan atau tulisan. Paling tidak, setiap hari kini terasa lebih tertahankan untuk dilalui.

Tidak ada komentar: