I haven't been writing anything in a long time but suddenly I feel like writing to vent my despair. Nulis sesuatu yang bukan laporan, bukan e-mail balasan tentang sesuatu terkait laporan, dan bukan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini yang juga ditutup dengan "laporan". A piece of writing without coherence, without having to worry what language to use to compose the sentences with, because perhaps that's how my mind have always been working--not bilingual, not even 'lingual', cuma kumpulan imaji, disorder, dan rasa takut untuk berhadapan dengan jawaban yang memunculkan dirinya sendiri dari balik tempat-tempat seperti 9th and Hennepin atau Kebun Raya Bogor. Ini pukul 00.42, di luar hujan, dan dari dulu sampai sekarang tidak ada ketakutan yang lebih melumpuhkanku selain kesadaran tentang waktu yang terus berjalan. Ini pukul 00.43, dan dari dulu sampai sekarang aku cuma kepingin tahu bagaimana cara jawab pertanyaan "when is now?" dan bagaimana rasanya berpikir tanpa kata-kata yang tiba-tiba muncul, yang dipinjam dari semua buku, lagu, atau percakapan yang sudah terjadi selama mungkin lima belas tahun terakhir (I can't seem to remember anything from the conversations I had before I was sixteen). Beruntung, di kursi yang kududuki saat ini kemarin siang kami berbicara tentang keberanian untuk menyongsong diri sendiri, yang tidak ajeg, dan karenanya mungkin kita tidak akan pernah tahu pasti bagaimana rasanya 'tahu pasti'. Yang pasti, tidak ada yang berubah sampai saat ini. Dunia masih tetap sama anehnya. Dalam satu hari yang sama kita bisa hidup dengan santai untuk mendengar suara bola yang bergulir sepersekian detik sebelum kita melihat bolanya betul-betul bergulir di atas rerumputan yang tampak dari jendela kamar, sekaligus hidup dengan rasa tegang karena, lho, tahu-tahu terbaca di kalender meja kerja bahwa sekarang sudah 7 Februari 2021.... Padahal, tegang kenapa, coba? Obat penenang paling mujarab pun nggak akan bisa menghentikan waktu yang berlari di pikiranmu. Guru spiritual yang paling spirituil juga bisa jungkir balik di hadapanmu sembari bilang bahwa nggak ada distingsi antara the observer and the observed kalau kamu bener-bener 'memperhatikan', tapi seberapapun absurdnya itu kalau betul-betul terjadi, kamu toh nggak bisa membuang sejarahmu sendiri. God, you have no idea. "Terrible am I, child?" katamu, bisa-bisanya terpikir untuk menitipkan pesan lewat suara Robin Pecknold. Kacau banget, jawabku sebal, karena itu pertanyaan yang cuma bikin tanda tanya jadi meta-sign yang sia-sia. You know that I hate: 1) rhetorical questions, and 2) when people start to speak to me about heaven and hell. But it's my fault, I know, because I have always let myself listen to too many shits. And I couldn't sleep at many nights afterwards, too anxious because I realized I have always lived in pretense. God, you are a freaking riot, d'you know that? We just want to believe, but you torture us with mediocrity, and there's nothing more ignoble than to believe in things merely because we're too desperate or too stupid. I hate you, but not as much as I hate myself.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar