Minggu, 19 Maret 2017

Modeh Ani di era internet!


Julus adalah salah satu track yang ada di album Junun, proyek kolaborasi penyanyi Sufi dari Israel, Shye-Ben Tzur, bareng Jonny Greenwood dan The Rajasthan Express. Saya pertama kali tahu tentang album ini dari teman saya, Fani, dan sebenarnya tercabik antara harus bilang makasih atau sialan lo, Fan. Soalnya, saya jadi susah buat berhenti dengerin album ini bahkan walaupun saya nggak tahu arti dari lirik lagu-lagunya, padahal saya jarang-jarang suka lagu yang saya nggak bisa ngerti maksudnya. Judul dan lirik tiap lagu dalam album ini diambil dari bahasa Ibrani, Hindi, dan Urdu, dan kecuali niat banget, kayaknya kita cuma bisa mencari arti dari tiap judulnya di Internet.

Baru malam ini saya coba Googling lagi pakai kata kunci "Junun" dan "Lyrics" dan ternyata sudah ada yang mengunggah buklet lirik albumnya di Reddit! Jadi, makasih banyak Tor Browser, makasih banyak untuk user dengan id reckonator, saya jadi tahu kalau lagu Julus ternyata betulan untuk Imam Ali. *nangis terharu*

Yang malas buka Reddit pakai VPN atau Tor, silakan langsung unduh bukletnya di sini. ;-)

Minggu, 15 Januari 2017

We knew, or hoped



"When I think back to the many farewells that have marked the decade (almost) of our friendship, I realize they have almost been inarticulate. I remember chiefly the great welling up of thoughts that somehow didn’t get put into words — the silences heavy with things unsaid. But then, we knew or hoped, there was always another chance — and always the letters to fill the gaps."


Rachel Carson to Dorothy Freeman

Kamis, 01 Desember 2016

"And I plan to be forgotten when I'm gone, yes, I'll be leavin' in the fall.."

Tanggal 27 November kemarin saya nonton konsernya The Tallest Man on Earth--ke depannya saya sebut tallest man saja, di sebuah festival musik. Perasaan hampir-hampir spiritual habis nonton konsernya tetap nyisa sampai semalam, jam tiga dini hari, pas saya tidur-tiduran sambil dengerin lagunya yang berjudul Dark Bird is Home. Saya pingin bisa menulis review musik yang bagus kayak di blog-blog orang, tapi sayangnya saya nggak punya banyak referensi. Jadi, mungkin yang bisa saya buat cuma kesan dan apa yang saya sukai dari tallest man selama mendengarkan lagu-lagu dia dengan intens hampir beberapa tahun belakangan.

Saya nggak ingat kapan persisnya saya mulai mendengarkan lagu-lagu musisi yang punya nama asli Kristian Matsson ini. Kalau nggak salah rekomendasi dari seorang teman, atau klik nggak sengaja di Youtube atau 8tracks. Yang saya ingat adalah lagu pertama tallest man yang saya dengar. Judulnya The Gardener, kayak judul salah satu buku puisinya Rabindranath Tagore. Yang pertama-tama membuat The Gardener langsung nyangkut di telinga adalah suara Kristian. Banyak orang cenderung mengasosiasikan musik folk dengan vokal yang 'dalam' atau 'adem', tapi Kristian mungkin pengecualian. Beberapa artikel di internet mendeskripsikan jenis vokalnya dengan kata raw, yang sebelumnya nggak pernah terlalu saya pikirkan maknanya sampai barusan saya cari arti raw selain mentah. Ternyata, beberapa definisi lain dari raw adalah 'strong and undisguised', atau, kalau buat kulit, 'red and painful'. Painful? Bisa saja, kalau didengar dari album terakhirnya yang diisi lagu-lagu patah hati karena perceraiannya dengan musisi Amanda Bergman (Idiot Wind), teman duetnya untuk lagu cinta paling manis, Thrown Right At Me. Tapi, definisi yang mungkin paling pas adalah raw = undisguised itu. Kalau dalam bahasa Indonesianya: tanpa tedeng aling-aling. Wah, itu memang kesan pertama yang bisa ditangkap dari suara cempreng tapi serak Kristian. Kayak seseorang yang bernyanyi tanpa mikirin dan peduli suaranya yang cempreng, serak, dan kenceng itu bakal disukai orang apa enggak.

Kalau kita sudah suka satu aja lagu tallest man, maka gampang buat kita untuk suka semua lagu lainnya. Shallow Grave adalah judul album yang di dalamnya ada lagu The Gardener. Di album ini ada lagu lain, I Won't be Found, dan ada satu baris lirik di awal lagu yang tiap kali saya dengar bikin saya pengen bilang, "anjir lah". Gini liriknya: I'm gonna force the Serengeti to disappear into my eyes. Sialan banget, dari mana sih ide untuk maksa padang rumput di Afrika yang guedee banget, yang ada zebra-singa-jerapah dan lain-lainnya, supaya bisa muat masuk ke dalam mata bisa muncul? Saya nggak abis pikir, karena selain suaranya yang undisguised itu, pilihan diksi dalam lirik-lirik tallest man bisa bikin di dalam kepala kita kayak lagi ada banjir. Bukan cuma hujan, angin, atau bulan aja yang dicomot, tapi juga citraan-citraan alam dari hal-hal paling primitif kayak padang rumput, sungai, hollow earth, musim semi, petir, perburuan, pohon raksasa, arak-arakan kuda, setan (mau itu evil, satan, ghost, semua disebut), cicak, duri, kerikil, gembala, kain perca, burung gagak, burung pipit, dan masih banyak lagi. Saya kadang membayangkan orang macam apa yang bisa bilang dia nggak akan ketemu kalau dicari-cari manusia karena dia bisa aja nyaru sama bolong-bolong di daun atau lagi tidur panjang kayak tikus mondok di dalam tanah.



Serengeti yang disuruh muat untuk melebur masuk ke mata, kira-kira segini ukurannya.

Dalam sebuah video wawancara di Youtube, dia pernah bilang kenapa dia banyak mendengarkan musik folk dan pilih genre ini untuk musiknya. Katanya, "I like that it's raw and kind of fragile. It can disappear as fast as it appeared." Buat saya, edannya tallest man adalah gimana dia menangkap dan merumuskan hal-hal 'megah' secara simpel di dalam lirik lagunya, ngajak kita safari ke dalam kepalanya yang rame, dan bikin kita jatuh cinta lagi dan lagi sama hidup yang sering terasa gini-gini aja, kira-kira dalam tiga sampai empat menit. Jadi, terima kasih banyak buat siapa pun yang pertama kali merekomendasikan saya untuk dengerin tallest man, dan terima kasih banyak pastinya buat Kristian Matsson, for your songs have made my life a little bit bearable (lebay, tapi bodo, ah :p ).

Senin, 21 November 2016

Pemanasan




Hang me, oh, hang me and I'll be dead and gone
I wouldn't mind the hanging but the laying in the grave so long

Kamis, 27 Oktober 2016

Bob Dylan VS Nobel Prize

"I began to drink. I looked down from the platform and saw a bunch of people who had nothing to do with my kind of politics. I looked down and I got scared. They were supposed to be on my side, but I didn’t feel any connection with them. Here were these people who’d been all involved with the Left in the thirties, and now they were supporting civil-rights drives. That’s groovy, but they also had minks and jewels, and it was like they were giving the money out of guilt. I got up to leave, and they followed me and caught me. They told me I had to accept the award."

Bob Dylan agreed to accept The Tom Paine Award in 1963, and then he went on just like that.

Rabu, 31 Agustus 2016

July 24th

I was following the pack, all swallowed in their coats, with scarves of red tied around their throats, to keep their little heads from falling in the snow, and I turned around and there you go!

The first time I watched On the Road, there was this particular scene where Carlo Marx/Ginsberg and Dean Moriarty/Cassady run and jump wildly across a hallway, and Marx just jumped on the air and screamed his lung out, and Sal Paradise/Kerouac just stand behind them while laughing and words just flow in his head about how the only people to him are the mad ones, who are mad to live, to talk, to be saved, never yawn, and bla bla bla and then burn like Roman candles across the stars. It is not how he described it--it is how much I related to him at that exact moment. The one who observes the moment instead of be in the moment.

I was in India, following the pack, and suddenly a friend of mine screamed at midnight "Hare Krishna! OOO-OOO.. Hare Krishna!!" He's an African, and he says "Namaste" wherever he goes. He dances on the street to stop a tuk-tuk and he greets everyone every morning like he hasn't seen them in years. I remember thinking: He was Carlo in that exact night, and I was Sal.


Jumat, 15 April 2016

1998 dan Kenapa Kita Jangan Sampai Lupa

“Tetapi saya mengatakan bahwa korban itu ada, saya menangani tiga orang dan salah satunya adalah anak berumur 14 tahun. Dan salah satu akibat dari perkosaan itu adalah ketiga-tiganya agak – seakan-akan—pikirannya hilang, tetapi yang paling nyata adalah anak yang berumur 14 tahun ini menjadi gila, agak gila..” [1]



Bisa jadi kita adalah anak-anak muda yang merasakan sendiri bagaimana di dalam sekolah, bangunan pengetahuan dan ingatan kita seputar tragedi 1998 berkisar di antara frasa-frasa seperti “Turunnya Soeharto”, “demonstrasi mahasiswa”, atau “krisis ekonomi”. Kita belajar dan menghapal nama-nama mahasiswa yang ditembak aparat, tempat-tempat kerusuhan meledak, sampai apa persisnya kata-kata Soeharto ketika ia memutuskan berhenti menjadi presiden. Namun kita sering lupa membahas lagi siapa sebenarnya kelompok yang karena mereka kita kini memiliki semacam jaminan dan perlindungan untuk bebas dari kekerasan: perempuan.

Pada bulan Agustus 1998, sebuah artikel berjudul “Siapa Dalang Perkosaan Massal?” dicabut dan batal terbit dari majalah Jakarta, Jakarta nomor 610. Artikel tersebut berisi wawancara bersama narasumber Romo I Sandyawan Sumardi S.J., atau Romo Sandy, yang saat itu bekerja sebagai Sekretaris Tim Relawan untuk Kemanusiaan. Beberapa di antara pekerjaan yang dilakukan Romo Sandy adalah menemui keluarga korban tragedi 1998, termasuk juga para perempuan korban perkosaan dan kekerasan seksual. Lima tahun kemudian, artikel yang dicabut tersebut akhirnya diterbitkan dan dimuat dalam buku berjudul “Surat dari Palmerah”, kumpulan editorial yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, pemimpin redaksi majalah Jakarta, Jakarta pada periode 1996-1999.

Faktanya, berbicara tentang kekerasan terhadap perempuan merupakan sebuah usaha yang dulu amat sulit untuk dilakukan. Jika kita memikirkan kembali mengapa kekerasan terhadap perempuan dalam konteks peristiwa 1998, misalnya, kita akan teringat bagaimana kita diajarkan di sekolah bahwa kekerasan ini adalah dampak dari kesenjangan dan himpitan krisis ekonomi yang dialami oleh masyarakat, hingga akhirnya mendorong perilaku agresif yang salah satunya mewujud menjadi tindak pemerkosaan massal. Pemerkosaan massal ini terjadi secara spontan, sporadis dan tak terlacak oleh aparat. Di dalam masyarakat yang kerap memandang bahwa kejahatan dan kekerasan adalah suatu hal yang lumrah terjadi pada perempuan, runutan sebab akibat tersebut tidak sulit diterima, setidaknya bagi masyarakat secara umum. Namun kenapa artikel wawancara bersama Romo Sandy kemudian batal terbit?

Dalam artikel wawancara sepanjang enam halaman tersebut, kita akan tahu bagaimana kekerasan terhadap perempuan yang terjadi selama Mei 1998 bukanlah suatu dampak atau rentetan kekerasan yang muncul secara serta merta, melainkan sebuah kejahatan yang sistematis dan terencana dengan perempuan sebagai kelompok yang dikorbankan demi kepentingan politik. Secara resmi, Data Tim Gabungan Pencari Fakta menyebutkan bahwa terdapat 52 orang korban perkosaan, 14 korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 orang korban penyerangan/penganiayaan seksual, dan 9 korban pelecehan seksual—namun ini hanya jumlah selama kerusuhan Mei terjadi, belum termasuk jumlah korban sebelum dan sesudah kerusuhan. Kekerasan seksual ini tidak hanya terjadi di tempat umum seperti di jalan atau di tempat-tempat usaha, tetapi juga di dalam rumah atau bangunan. Sebagian besar korban diperkosa oleh lebih dari satu orang pada satu waktu yang sama (gang rape) di hadapan orang lain, serta mayoritas korban adalah perempuan dari etnis Cina [2].

Selama melakukan investigasi dan mendampingi korban, Tim Relawan untuk Kemanusiaan mencatat bagaimana pola pemerkosaan yang terjadi dan mengapa mayoritas korban merupakan perempuan dari etnis Cina. Hal ini diterangkan oleh Palupi, staf Divisi Pendataan dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan, dalam artikel yang sama dari majalah Jakarta, Jakarta. Awal pemerkosaan itu diawali dengan pengkondisian untuk menjadikan perempuan Cina menjadi target kebencian. Ada usaha-usaha orang yang berkeliling ke perkampungan miskin, mencari pemuda-pemuda yang diajak untuk melakukan pemerkosaan. Awalnya, mereka mentraktir pemuda-pemuda itu jajan, rokok dan minum, hingga kemudian sampai mereka akrab, mereka mengatakan, “Sebentar lagi kalian dapat barang-barang mewah dan perempuan-perempuan Cina yang selama ini elu nggak bisa jamah” [3].

Pada saat itu, di tengah situasi yang mencekam sepanjang Mei 1998, sekretariat Tim Relawan didatangi para pelapor sampai dengan 20-30 orang per harinya. Keberadaan sekretariat maupun posko-posko relawan seperti ini menjadi amat penting untuk perlindungan korban dan pengumpulan fakta. Pemerkosaan massal, misalnya, merupakan salah satu kasus yang faktanya sulit terungkap dan lamban ditangani oleh pemerintah karena faktanya dianggap simpang siur. Saat itu, data terkait pemerkosaan seperti siapa korbannya, dimana terjadinya, atau bahkan apakah benar ada perkosaan atau tidak, menjadi alasan mengapa pemerintah lamban bertindak menangani kejahatan yang menurut Romo Sandy merupakan “kebiadaban massal yang sistematis dan terorganisir” ini. Menurut beliau, tidak adanya pengaduan atau laporan ke pemerintah bukan berarti tidak adanya pemerkosaan. Sederhana saja, ujar beliau, sebab pemerintah abai kepada kondisi-kondisi seperti rasa malu, aib, beban fisik dan batin yang dirasakan oleh para perempuan yang menjadi korban maupun saksi mata dari pemerkosaan massal. Belum lagi ada teror yang dilakukan kepada para korban maupun para relawan pendamping. Romo Sandy bertutur bagaimana situasi para relawan ini hanya berbeda tipis dengan para korban kerusuhan dan perkosaan. Mereka juga diancam, diteror, bahkan dikirimi granat. Semua ini yang semakin meyakinkan Romo Sandy bahwa pemerkosaan dan kerusuhan didalangi oleh aktor(-aktor) yang sama, bahwa ada usaha untuk menutupi fakta dan meneror siapa saja yang berusaha mengungkapkan kebenaran [4].

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa tragedi mempersatukan umat manusia. Sekretariat Tim Relawan untuk Kemanusiaan mungkin menjadi saksi untuk itu. Di sinilah, ujar Romo Sandy, solidaritas korban dan empati terjalin, juga terbentuk konsolidasi perjuangan untuk melawan kekerasan terhadap sesama manusia. Tidak hanya Tim Relawan, saat itu para aktivis perempuan dan penggiat hak asasi manusia membentuk juga kelompok yang disebut Masyarakat Anti-Kekerasan terhadap Perempuan. Kelompok ini tidak hanya mendampingi korban, tetapi juga berinisiatif untuk menemui Presiden Habibie dan menuntut agar Presiden mengutuk dan meminta maaf atas kejadian yang dialami korban kerusuhan, serta agar pemerintah segera melakukan investigasi independen dan mengadili para pelaku tindak kekerasan tersebut. Lewat perjuangan inilah Keputusan Presiden tanggal 15 Oktober 1998 lahir, yang merupakan instruksi untuk pembentukan sebuah komisi independen yang saat ini kita kenal dengan nama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, atau Komnas Perempuan.

Melalui artikel wawancara bersama Romo Sandy yang syukurlah akhirnya dapat terbit dan kita baca tersebut, juga dengan membahas kembali kasus kekerasan seksual terhadap perempuan selama 1998, ada beberapa hal yang harus kita pikirkan kembali secara lebih dalam. Salah satunya misalnya apakah kita, juga aparat dan masyarakat, telah memiliki sensitivitas terhadap perempuan sebagai korban kekerasan atau pun perkosaan. Kedua, apakah situasi saat ini sudah berubah? Bisa saja saat ini kita adalah anak-anak muda yang hidup dan tumbuh besar dalam masyarakat yang lebih demokratis, lebih terbuka, dan kita tahu bahwa kita selalu bisa menuntut hak kita jika kita mengalami ketidakadilan dan kekerasan dalam bentuk apapun. Tapi bagaimana kita kemudian memaknai bahwa kekuasaan dan kepentingan politik dari seseorang atau suatu rezim, sewaktu-waktu, dapat memposisikan kita atau siapa saja sebagai korban? Bagaimana jika kitalah yang menjadi korban—akankah kita punya keberanian untuk bersuara? Dan bagaimana kita, sebagai anak muda yang menikmati buah perjuangan dari Romo Sandy dan tokoh-tokoh lainnya, yang tercatat atau pun tidak di buku sejarah kita, memiliki keberpihakan terhadap para korban dan orang-orang yang memperjuangkan agar hidup kita lebih layak?

Di atas itu semua, maukah kita semua melakukan sesuatu untuk memastikan agar segala bentuk kekerasan tidak terulang lagi?

Catatan Kaki:
[1] Kesaksian Ibu Edith Witoha, konselor, dalam http://kabarinews.com/kesaksian-kasus-perkosaan-mei-1998/31292. Laman ini memuat transkrip wawancara yang dilakukan oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bersama sembilan orang saksi yang melihat, mendengar dan membantu korban perkosaan pada Mei 1998.
[2]Data-data ini diambil dari Seri Dokumen Kunci “Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998”, diterbitkan oleh Komnas Perempuan pada November 1999, yang dapat diunduh bebas dari http://www.komnasperempuan.or.id/wp-content/uploads/2014/02/SDK-2-Temuan-Tim-Gabungan-Pencari-Fakta-Peristiwa-Kerusuhan-.pdf.
[3][4] Kutipan-kutipan wawancara ini dapat dibaca dalam kumpulan tulisan Seno Gumira Ajidarma, Surat dari Palmerah (Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), pada bagian “Dokumen Wawancara yang Tidak Disiarkan” halaman 272-285.