Kamis, 01 Desember 2016

"And I plan to be forgotten when I'm gone, yes, I'll be leavin' in the fall.."

Tanggal 27 November kemarin saya nonton konsernya The Tallest Man on Earth--ke depannya saya sebut tallest man saja, di sebuah festival musik. Perasaan hampir-hampir spiritual habis nonton konsernya tetap nyisa sampai semalam, jam tiga dini hari, pas saya tidur-tiduran sambil dengerin lagunya yang berjudul Dark Bird is Home. Saya pingin bisa menulis review musik yang bagus kayak di blog-blog orang, tapi sayangnya saya nggak punya banyak referensi. Jadi, mungkin yang bisa saya buat cuma kesan dan apa yang saya sukai dari tallest man selama mendengarkan lagu-lagu dia dengan intens hampir beberapa tahun belakangan.

Saya nggak ingat kapan persisnya saya mulai mendengarkan lagu-lagu musisi yang punya nama asli Kristian Matsson ini. Kalau nggak salah rekomendasi dari seorang teman, atau klik nggak sengaja di Youtube atau 8tracks. Yang saya ingat adalah lagu pertama tallest man yang saya dengar. Judulnya The Gardener, kayak judul salah satu buku puisinya Rabindranath Tagore. Yang pertama-tama membuat The Gardener langsung nyangkut di telinga adalah suara Kristian. Banyak orang cenderung mengasosiasikan musik folk dengan vokal yang 'dalam' atau 'adem', tapi Kristian mungkin pengecualian. Beberapa artikel di internet mendeskripsikan jenis vokalnya dengan kata raw, yang sebelumnya nggak pernah terlalu saya pikirkan maknanya sampai barusan saya cari arti raw selain mentah. Ternyata, beberapa definisi lain dari raw adalah 'strong and undisguised', atau, kalau buat kulit, 'red and painful'. Painful? Bisa saja, kalau didengar dari album terakhirnya yang diisi lagu-lagu patah hati karena perceraiannya dengan musisi Amanda Bergman (Idiot Wind), teman duetnya untuk lagu cinta paling manis, Thrown Right At Me. Tapi, definisi yang mungkin paling pas adalah raw = undisguised itu. Kalau dalam bahasa Indonesianya: tanpa tedeng aling-aling. Wah, itu memang kesan pertama yang bisa ditangkap dari suara cempreng tapi serak Kristian. Kayak seseorang yang bernyanyi tanpa mikirin dan peduli suaranya yang cempreng, serak, dan kenceng itu bakal disukai orang apa enggak.

Kalau kita sudah suka satu aja lagu tallest man, maka gampang buat kita untuk suka semua lagu lainnya. Shallow Grave adalah judul album yang di dalamnya ada lagu The Gardener. Di album ini ada lagu lain, I Won't be Found, dan ada satu baris lirik di awal lagu yang tiap kali saya dengar bikin saya pengen bilang, "anjir lah". Gini liriknya: I'm gonna force the Serengeti to disappear into my eyes. Sialan banget, dari mana sih ide untuk maksa padang rumput di Afrika yang guedee banget, yang ada zebra-singa-jerapah dan lain-lainnya, supaya bisa muat masuk ke dalam mata bisa muncul? Saya nggak abis pikir, karena selain suaranya yang undisguised itu, pilihan diksi dalam lirik-lirik tallest man bisa bikin di dalam kepala kita kayak lagi ada banjir. Bukan cuma hujan, angin, atau bulan aja yang dicomot, tapi juga citraan-citraan alam dari hal-hal paling primitif kayak padang rumput, sungai, hollow earth, musim semi, petir, perburuan, pohon raksasa, arak-arakan kuda, setan (mau itu evil, satan, ghost, semua disebut), cicak, duri, kerikil, gembala, kain perca, burung gagak, burung pipit, dan masih banyak lagi. Saya kadang membayangkan orang macam apa yang bisa bilang dia nggak akan ketemu kalau dicari-cari manusia karena dia bisa aja nyaru sama bolong-bolong di daun atau lagi tidur panjang kayak tikus mondok di dalam tanah.



Serengeti yang disuruh muat untuk melebur masuk ke mata, kira-kira segini ukurannya.

Dalam sebuah video wawancara di Youtube, dia pernah bilang kenapa dia banyak mendengarkan musik folk dan pilih genre ini untuk musiknya. Katanya, "I like that it's raw and kind of fragile. It can disappear as fast as it appeared." Buat saya, edannya tallest man adalah gimana dia menangkap dan merumuskan hal-hal 'megah' secara simpel di dalam lirik lagunya, ngajak kita safari ke dalam kepalanya yang rame, dan bikin kita jatuh cinta lagi dan lagi sama hidup yang sering terasa gini-gini aja, kira-kira dalam tiga sampai empat menit. Jadi, terima kasih banyak buat siapa pun yang pertama kali merekomendasikan saya untuk dengerin tallest man, dan terima kasih banyak pastinya buat Kristian Matsson, for your songs have made my life a little bit bearable (lebay, tapi bodo, ah :p ).

Senin, 21 November 2016

Pemanasan




Hang me, oh, hang me and I'll be dead and gone
I wouldn't mind the hanging but the laying in the grave so long

Kamis, 27 Oktober 2016

Bob Dylan VS Nobel Prize

"I began to drink. I looked down from the platform and saw a bunch of people who had nothing to do with my kind of politics. I looked down and I got scared. They were supposed to be on my side, but I didn’t feel any connection with them. Here were these people who’d been all involved with the Left in the thirties, and now they were supporting civil-rights drives. That’s groovy, but they also had minks and jewels, and it was like they were giving the money out of guilt. I got up to leave, and they followed me and caught me. They told me I had to accept the award."

Bob Dylan agreed to accept The Tom Paine Award in 1963, and then he went on just like that.

Rabu, 31 Agustus 2016

July 24th

I was following the pack, all swallowed in their coats, with scarves of red tied around their throats, to keep their little heads from falling in the snow, and I turned around and there you go!

The first time I watched On the Road, there was this particular scene where Carlo Marx/Ginsberg and Dean Moriarty/Cassady run and jump wildly across a hallway, and Marx just jumped on the air and screamed his lung out, and Sal Paradise/Kerouac just stand behind them while laughing and words just flow in his head about how the only people to him are the mad ones, who are mad to live, to talk, to be saved, never yawn, and bla bla bla and then burn like Roman candles across the stars. It is not how he described it--it is how much I related to him at that exact moment. The one who observes the moment instead of be in the moment.

I was in India, following the pack, and suddenly a friend of mine screamed at midnight "Hare Krishna! OOO-OOO.. Hare Krishna!!" He's an African, and he says "Namaste" wherever he goes. He dances on the street to stop a tuk-tuk and he greets everyone every morning like he hasn't seen them in years. I remember thinking: He was Carlo in that exact night, and I was Sal.


Jumat, 15 April 2016

1998 dan Kenapa Kita Jangan Sampai Lupa

“Tetapi saya mengatakan bahwa korban itu ada, saya menangani tiga orang dan salah satunya adalah anak berumur 14 tahun. Dan salah satu akibat dari perkosaan itu adalah ketiga-tiganya agak – seakan-akan—pikirannya hilang, tetapi yang paling nyata adalah anak yang berumur 14 tahun ini menjadi gila, agak gila..” [1]



Bisa jadi kita adalah anak-anak muda yang merasakan sendiri bagaimana di dalam sekolah, bangunan pengetahuan dan ingatan kita seputar tragedi 1998 berkisar di antara frasa-frasa seperti “Turunnya Soeharto”, “demonstrasi mahasiswa”, atau “krisis ekonomi”. Kita belajar dan menghapal nama-nama mahasiswa yang ditembak aparat, tempat-tempat kerusuhan meledak, sampai apa persisnya kata-kata Soeharto ketika ia memutuskan berhenti menjadi presiden. Namun kita sering lupa membahas lagi siapa sebenarnya kelompok yang karena mereka kita kini memiliki semacam jaminan dan perlindungan untuk bebas dari kekerasan: perempuan.

Pada bulan Agustus 1998, sebuah artikel berjudul “Siapa Dalang Perkosaan Massal?” dicabut dan batal terbit dari majalah Jakarta, Jakarta nomor 610. Artikel tersebut berisi wawancara bersama narasumber Romo I Sandyawan Sumardi S.J., atau Romo Sandy, yang saat itu bekerja sebagai Sekretaris Tim Relawan untuk Kemanusiaan. Beberapa di antara pekerjaan yang dilakukan Romo Sandy adalah menemui keluarga korban tragedi 1998, termasuk juga para perempuan korban perkosaan dan kekerasan seksual. Lima tahun kemudian, artikel yang dicabut tersebut akhirnya diterbitkan dan dimuat dalam buku berjudul “Surat dari Palmerah”, kumpulan editorial yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, pemimpin redaksi majalah Jakarta, Jakarta pada periode 1996-1999.

Faktanya, berbicara tentang kekerasan terhadap perempuan merupakan sebuah usaha yang dulu amat sulit untuk dilakukan. Jika kita memikirkan kembali mengapa kekerasan terhadap perempuan dalam konteks peristiwa 1998, misalnya, kita akan teringat bagaimana kita diajarkan di sekolah bahwa kekerasan ini adalah dampak dari kesenjangan dan himpitan krisis ekonomi yang dialami oleh masyarakat, hingga akhirnya mendorong perilaku agresif yang salah satunya mewujud menjadi tindak pemerkosaan massal. Pemerkosaan massal ini terjadi secara spontan, sporadis dan tak terlacak oleh aparat. Di dalam masyarakat yang kerap memandang bahwa kejahatan dan kekerasan adalah suatu hal yang lumrah terjadi pada perempuan, runutan sebab akibat tersebut tidak sulit diterima, setidaknya bagi masyarakat secara umum. Namun kenapa artikel wawancara bersama Romo Sandy kemudian batal terbit?

Dalam artikel wawancara sepanjang enam halaman tersebut, kita akan tahu bagaimana kekerasan terhadap perempuan yang terjadi selama Mei 1998 bukanlah suatu dampak atau rentetan kekerasan yang muncul secara serta merta, melainkan sebuah kejahatan yang sistematis dan terencana dengan perempuan sebagai kelompok yang dikorbankan demi kepentingan politik. Secara resmi, Data Tim Gabungan Pencari Fakta menyebutkan bahwa terdapat 52 orang korban perkosaan, 14 korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 orang korban penyerangan/penganiayaan seksual, dan 9 korban pelecehan seksual—namun ini hanya jumlah selama kerusuhan Mei terjadi, belum termasuk jumlah korban sebelum dan sesudah kerusuhan. Kekerasan seksual ini tidak hanya terjadi di tempat umum seperti di jalan atau di tempat-tempat usaha, tetapi juga di dalam rumah atau bangunan. Sebagian besar korban diperkosa oleh lebih dari satu orang pada satu waktu yang sama (gang rape) di hadapan orang lain, serta mayoritas korban adalah perempuan dari etnis Cina [2].

Selama melakukan investigasi dan mendampingi korban, Tim Relawan untuk Kemanusiaan mencatat bagaimana pola pemerkosaan yang terjadi dan mengapa mayoritas korban merupakan perempuan dari etnis Cina. Hal ini diterangkan oleh Palupi, staf Divisi Pendataan dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan, dalam artikel yang sama dari majalah Jakarta, Jakarta. Awal pemerkosaan itu diawali dengan pengkondisian untuk menjadikan perempuan Cina menjadi target kebencian. Ada usaha-usaha orang yang berkeliling ke perkampungan miskin, mencari pemuda-pemuda yang diajak untuk melakukan pemerkosaan. Awalnya, mereka mentraktir pemuda-pemuda itu jajan, rokok dan minum, hingga kemudian sampai mereka akrab, mereka mengatakan, “Sebentar lagi kalian dapat barang-barang mewah dan perempuan-perempuan Cina yang selama ini elu nggak bisa jamah” [3].

Pada saat itu, di tengah situasi yang mencekam sepanjang Mei 1998, sekretariat Tim Relawan didatangi para pelapor sampai dengan 20-30 orang per harinya. Keberadaan sekretariat maupun posko-posko relawan seperti ini menjadi amat penting untuk perlindungan korban dan pengumpulan fakta. Pemerkosaan massal, misalnya, merupakan salah satu kasus yang faktanya sulit terungkap dan lamban ditangani oleh pemerintah karena faktanya dianggap simpang siur. Saat itu, data terkait pemerkosaan seperti siapa korbannya, dimana terjadinya, atau bahkan apakah benar ada perkosaan atau tidak, menjadi alasan mengapa pemerintah lamban bertindak menangani kejahatan yang menurut Romo Sandy merupakan “kebiadaban massal yang sistematis dan terorganisir” ini. Menurut beliau, tidak adanya pengaduan atau laporan ke pemerintah bukan berarti tidak adanya pemerkosaan. Sederhana saja, ujar beliau, sebab pemerintah abai kepada kondisi-kondisi seperti rasa malu, aib, beban fisik dan batin yang dirasakan oleh para perempuan yang menjadi korban maupun saksi mata dari pemerkosaan massal. Belum lagi ada teror yang dilakukan kepada para korban maupun para relawan pendamping. Romo Sandy bertutur bagaimana situasi para relawan ini hanya berbeda tipis dengan para korban kerusuhan dan perkosaan. Mereka juga diancam, diteror, bahkan dikirimi granat. Semua ini yang semakin meyakinkan Romo Sandy bahwa pemerkosaan dan kerusuhan didalangi oleh aktor(-aktor) yang sama, bahwa ada usaha untuk menutupi fakta dan meneror siapa saja yang berusaha mengungkapkan kebenaran [4].

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa tragedi mempersatukan umat manusia. Sekretariat Tim Relawan untuk Kemanusiaan mungkin menjadi saksi untuk itu. Di sinilah, ujar Romo Sandy, solidaritas korban dan empati terjalin, juga terbentuk konsolidasi perjuangan untuk melawan kekerasan terhadap sesama manusia. Tidak hanya Tim Relawan, saat itu para aktivis perempuan dan penggiat hak asasi manusia membentuk juga kelompok yang disebut Masyarakat Anti-Kekerasan terhadap Perempuan. Kelompok ini tidak hanya mendampingi korban, tetapi juga berinisiatif untuk menemui Presiden Habibie dan menuntut agar Presiden mengutuk dan meminta maaf atas kejadian yang dialami korban kerusuhan, serta agar pemerintah segera melakukan investigasi independen dan mengadili para pelaku tindak kekerasan tersebut. Lewat perjuangan inilah Keputusan Presiden tanggal 15 Oktober 1998 lahir, yang merupakan instruksi untuk pembentukan sebuah komisi independen yang saat ini kita kenal dengan nama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, atau Komnas Perempuan.

Melalui artikel wawancara bersama Romo Sandy yang syukurlah akhirnya dapat terbit dan kita baca tersebut, juga dengan membahas kembali kasus kekerasan seksual terhadap perempuan selama 1998, ada beberapa hal yang harus kita pikirkan kembali secara lebih dalam. Salah satunya misalnya apakah kita, juga aparat dan masyarakat, telah memiliki sensitivitas terhadap perempuan sebagai korban kekerasan atau pun perkosaan. Kedua, apakah situasi saat ini sudah berubah? Bisa saja saat ini kita adalah anak-anak muda yang hidup dan tumbuh besar dalam masyarakat yang lebih demokratis, lebih terbuka, dan kita tahu bahwa kita selalu bisa menuntut hak kita jika kita mengalami ketidakadilan dan kekerasan dalam bentuk apapun. Tapi bagaimana kita kemudian memaknai bahwa kekuasaan dan kepentingan politik dari seseorang atau suatu rezim, sewaktu-waktu, dapat memposisikan kita atau siapa saja sebagai korban? Bagaimana jika kitalah yang menjadi korban—akankah kita punya keberanian untuk bersuara? Dan bagaimana kita, sebagai anak muda yang menikmati buah perjuangan dari Romo Sandy dan tokoh-tokoh lainnya, yang tercatat atau pun tidak di buku sejarah kita, memiliki keberpihakan terhadap para korban dan orang-orang yang memperjuangkan agar hidup kita lebih layak?

Di atas itu semua, maukah kita semua melakukan sesuatu untuk memastikan agar segala bentuk kekerasan tidak terulang lagi?

Catatan Kaki:
[1] Kesaksian Ibu Edith Witoha, konselor, dalam http://kabarinews.com/kesaksian-kasus-perkosaan-mei-1998/31292. Laman ini memuat transkrip wawancara yang dilakukan oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bersama sembilan orang saksi yang melihat, mendengar dan membantu korban perkosaan pada Mei 1998.
[2]Data-data ini diambil dari Seri Dokumen Kunci “Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998”, diterbitkan oleh Komnas Perempuan pada November 1999, yang dapat diunduh bebas dari http://www.komnasperempuan.or.id/wp-content/uploads/2014/02/SDK-2-Temuan-Tim-Gabungan-Pencari-Fakta-Peristiwa-Kerusuhan-.pdf.
[3][4] Kutipan-kutipan wawancara ini dapat dibaca dalam kumpulan tulisan Seno Gumira Ajidarma, Surat dari Palmerah (Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), pada bagian “Dokumen Wawancara yang Tidak Disiarkan” halaman 272-285. 

Minggu, 13 Maret 2016

Tidur adalah kunci

Apa yang bikin orang bisa tidur atau nggak bisa tidur di malam hari? Kadang, kalau momennya pas, nggak ngerti itu karena bintang yang berserakan kayak ketombe, karena bulan yang keliatan lebih deket jaraknya ke bumi sebulan sekali, karena buku yang baru kelar dibaca dan abis itu bikin komentar "anjinggg", karena nyamuk kebun yang siklus hidupnya cuma di malem hari (kali), karena buka HP sebentar terus baca artikel tentang pengungsi atau teknologi, karena obrolan tiba-tiba sama oma dan mikir: gila, kalau kita hidup udah panjang banget, apa ya yang kita pikirin tiap mau tidur?, atau karena apa aja, lah, kita jadi merasa tidur itu magis banget. Dan yang sialan adalah karena abis itu kita mesti bangun lagi, tapi dunia tetap gitu-gitu aja.


Jumat, 29 Januari 2016

Seni Membenahi Kamar #3

Pernah ada suatu masa ketika saya menghuni kamar yang jendelanya persis berhadapan dengan lorong dekat pintu belakang di rumah tante saya di daerah Bintaro. Di kamar itu, juga beberapa ruangan lain di rumah tersebut, saya mulai mengembangkan beberapa "hobi". Ada beberapa yang masih awet sampai sekarang seperti beres-beres laci meja belajar yang nggak kelar-kelar sampai berjam-jam karena keasyikan baca notes asal yang tahu-tahu nyelip di antara buku catatan pelajaran. Ada juga hobi yang surut dan lama-lama terlupakan, macam bikin-bikin sketsa sambil dengar lagu yang itu-itu lagi, nulis di blog ini (juga sambil dengar lagu yang itu-itu lagi), atau gunting-gunting artikel dari Kompas Minggu yang lalu ditempel di buku gambar besar. Hobi itu awet cukup lama, sebenarnya. Mungkin sekitar empat tahunan. Sampai saya kembali tinggal bersama ibu di tahun 2009, mulai kenal dengan teman yang "aneh-aneh", mulai betah di kampus, lalu bisa seleluasa mungkin melakukan aktivitas di luar rumah karena sudah nggak takut lagi nyasar, semua hobi itu jadi makin jarang dilakukan dan lama-lama jadi tak pernah sama sekali.

Tahun terakhir kuliah, tepatnya di bulan-bulan terakhir menyelesaikan skripsi dengan susah payah dan semangat yang cuma sisa separuh, saya mengungsi ke rumah nenek. Di sini, ruang pribadi adalah kemewahan. Saya belajar untuk hidup dengan ringkas: pakaian dalam satu box, buku dalam satu box, juga pergi pagi-pagi dan pulang malam hari. Belajar untuk tidak terlalu terikat dengan ruang (dan tidak terlalu melankolis mengingat hal-hal yang sudah lewat). Sampai pada tahun 2013 saya kembali keluar rumah dan tinggal berdua dengan adik laki-laki saya di sebuah rumah kontrakan di Radio Dalam. Di rumah itu, saya kembali mengembangkan hobi-hobi yang terbengkalai, dan turut menambah daftar hobi tak penting lainnya, seperti menyetel TVRI setiap pagi saat bangun tidur dan sebelum tidur di malam hari, bolos kantor setiap hari Kamis karena mau mendengarkan anak-anak SD latihan angklung di belakang rumah ketua RW, beli pecel di warung sebelah rumah kalau nggak sempat bikin apapun buat sarapan, juga memasang DVD Friends sambil menyetrika pakaian. Tanpa berhati-hati saya kepalang mencintai sekumpulan ritual itu, sehingga saya terlalu melankolis saat harus meninggalkan rumah tersebut setahun kemudian dan kembali ke rumah nenek.

Pada saat kembali ke rumah nenek di Pondok Pinang pada akhir 2013, saya kadang terpikir jangan-jangan saya sudah jadi orang yang berbeda. Saya kira ide-ide tentang persiapan untuk kabur kapan saja ala doomsday preppers mulai berkembang di tahun ini. Hampir sembilan puluh persen dari waktu saya setiap hari habis di luar rumah. Ada di kantor sampai dini hari, bahkan menginap, rasanya jauh lebih menyenangkan daripada berada di rumah. Rasanya akan tetap begitu, sampai-sampai saya rasanya terlalu attach dengan kantor di daerah Kemang tersebut. Tak jarang saya ke kantor juga di hari Sabtu dan Minggu. Saya tidak keberatan ke kantor, bahkan cuma untuk nonton film atau main pingpong. Begitu kira-kira ceritanya, dengan rumah yang terasa hanya seperti  tempat absen/setor muka ke nenek setiap malam. Ada masa ketika saya diam-diam sebenarnya mengontrak rumah bersama sahabat saya di daerah Mampang, yang kembali saya tinggalkan setelah beberapa bulan. Diam-diam, saya kangen punya tempat untuk tidur pulas sampai siang, atau nulis-nulis di blog semaunya sampai subuh. Saya kangen mendengarkan musik kencang-kencang tanpa earphone. Saya ingin punya meja belajar yang bisa dicoreti semaunya. Saya ingin punya tempat bengong yang bukan di kantor, bukan di angkot atau ojek, apalagi di kafe.

Desember datang dan harapan yang terlalu spesifik itu terkabul. Di belakang rumah nenek saya ada gudang yang tadinya ditempati. Setelah kosong, gudang tersebut sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi kamar kalau siapa pun yang berkenan menempatinya tidak keberatan dengan sedikit bocor, pintu yang tidak bisa dikunci, juga lokasi yang berdekatan dengan kandang ayam (dan bangun dengan kaget setiap sekitar jam setengah 4 karena lengking kokok mereka). Saya lalu merapikan sedikit demi sedikit barang-barang yang sudah semestinya dibuang dari gudang itu. Setelah lengang, buku-buku pun keluar dari dus dan saya susun di rak. Dengan satu sumbangan kasur dan kipas angin, serta meja belajar yang saya rakit berdua dengan adik laki-laki saya di hari pertama 2016, jadilah kamar itu kini suaka saya yang baru.

Dulu di sekitar 2008, seorang teman memberi saya flash disk berisi beberapa lagu dari duo Ari-Reda. Kalau saya lagi dengar lagu mereka dengan volume keras di kamar dan kebetulan si mbak yang kerja di rumah tante saya lagi berada di dapur atau di sekitar lorong dekat pintu belakang, ia akan menjulurkan kepala lewat jendela dan berkomentar, "Dara lagi dengerin RRI (Radio Republik Indonesia), ya?" Delapan tahun kemudian, di dalam suaka baru, saya nulis postingan ini sambil mendengarkan Ari-Reda juga. Di laci meja belajar baru mulai penuh kertas corat-coret nggak jelas, apa saja macam catatan kerjaan atau kutipan apapun dari buku yang kebetulan sedang saya baca. Di dalam suaka ini, selain mulai berkembang juga hobi-hobi baru lainnya, juga hobi-hobi lama kembali disambangi. Sambil mendengar lagu Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka, saya senyum-senyum sendiri.

Kayaknya saya sebenarnya nggak pernah jadi orang yang beda-beda amat.