Kamis, 01 Mei 2008

Telur, Ayam, dan Bagaimana Mereka Seharusnya Linear, Bukan Siklis

Note : Ada satu orang yang kalau baca postingan ini, dijamin, bakal memutar bola matanya dan dalam hati berkata, "oh, pleeease." Hahahaha, I know we won't get tired with this never-ending discussion, mate! Gak di kelas, gak di jalan berangkat dan pulang, gak di telepon! :)
***

Suatu kali, saya dan teman baik saya diam-diam mendiskusikan tentang telur-ayam. Bukan, bukan telur dan ayam secara harafiah dan kaitannya dengan kadar protein, tetapi telur dan ayam sebagai 'lingkaran-setan', sebuah analogi dari kasus-kasus yang entah mana awal, mana belakangan.

Mengapa diam-diam? Kami mendiskusikannya di tengah-tengah suasana kelas, sembari sedikit mendengarkan omongan si dosen. Dari kuliah Sistem Ekonomi Indonesia, kami dapat pertanyaan, mana yang lebih dulu akan mendorong perekonomian, pertumbuhan ekonomi atau pemerataan pendapatan? Dari kuliah Filsafat Ilmu Sosial, kamu dapat pertanyaan, agama itu membentuk kebudayaan atau kebudayaan merupakan produk peradaban? Dan dari kuliah Sistem Politik Indonesia, kami dapat pertanyaan, mana yang jadi 'panglima', kebijakan politik atau kebijakan ekonomi?

Sesuai namanya, saya memang akan bergumam dalam hati "Aah, setan!" lantas melirik kepada teman saya itu dan kami berdua sama-sama bergumam "Lagi-lagi telur-ayam nih.."
Tentu, biasanya teman saya ini, yang orangnya sangat normatif, akan berkomentar "Itu sesuatu yang resiprokal, kawan..". Namun menit-menit kemudian, kami berdua akan ngotot-ngototan, diakhiri dengan saya tetap setia pada pendapat saya, dia juga begitu. Hehehe..

Maaf-maaf saja. Saya tidak bisa terima kalau sesuatu ada karena memiliki fungsi. Saya lebih puas dengan penjelasan bahwa sesuatu itu menjadi berfungsi karena ada.

Maka itu, hal yang paling bikin saya kesal saat ini adalah tidak adanya hal di dunia ini yang dijelaskan dari satu sudut pandang saja, dan bagaimana banyak hal yang menuntut manusia untuk bebas-nilai, padahal itu tidak mungkin. Manusia adalah makhluk yang bernilai, bukan manusianya yang bernilai, tapi nilai itu sendiri.

Lantas, perdebatan kami pernah suatu kali berakhir sengit. Teman saya ini berkata, "Mungkin di masa depan kita jadi bermusuhan, ya?". Hahahahaha! Saya cuma berkomentar, "Hmm, kalau musuhan karena ideologi keren banget yah? Kayak Soekarno-Hatta dong."

Yaah, mau telur-ayam duluan mana, kek, saya sih tetap pilih ayam. Bukan karena apa-apa lho, soalnya saya lebih doyan ayam! :)


-M O O N Y

(ssttt, jangan-jangan teman saya itu bakal milih telur karena dia lebih doyan telur? wah, bisa debat kusir lagi nih, hihihihihi...)



3 komentar:

Urip Herdiman Kambali mengatakan...

Telur atau ayam? Gue pilih telur duluan. Lebih cepat dapatnya.

Nico Wijaya mengatakan...

Hehehe, tau napa sy orgnya fleksibel. Kl ada diskusi kek gini, sy ya paling diem aja. Ngabisin energi jika msng2 ga ktemu. Wong tau akhirnya debat kusir hehehe

ChikitaRosemarie mengatakan...

well, love u anyway.. now and then :)