Kamis, 12 November 2009

Gerutuan tentang Bahasa dan Proses Meta-Metaan

Mana yang lebih parah, menghina mereka yang senang menggunakan istilah-istilah asing dalam percakapan sehari-hari ketika ada kata dalam bahasa kita sendiri yang juga bisa digunakan, atau menghina mereka yang senang menggunakan kata-kata dalam bahasa kita sendiri tapi mengubah pemaknaannya?

Saya juga kerap kali dihujat oleh teman saya karena menggunakan istilah 'alay' yang merujuk pada golongan tertentu. Katanya saya bersikap menghakimi. Tapi ketika saya bilang alay, dan dia bilang "jahat loe", berarti dia tahu apa yang saya maksud dan juga ikut menghakimi, bukan? Ha!

Mungkin ini efek samping dari pembelajaran aspek apapun secara vertikal ketimbang horizontal. Kalau ada yang namanya metateori, saya bikin istilah sendiri yaitu 'metabelajar', hahaha. Metode ini bukan melakukan refleksi terhadap proses belajar (seperti metateori terhadap teori), melainkan sebuah titik kulminasi setelah bulan-bulan yang melelahkan dan membuahkan pertanyaan besar: kenapa sih saya belajar???? (Yang, tentu saja, dapat dengan mudah dilecehkan sebagai gerutuan mahasiswa sok tahu yang sok berfilosofi, hihihi).

Tapi jangan remehkan proses meta-meta-an ini. Proses ini yang melahirkan keragu-raguan, dan tanpa ragu-ragu kita tidak akan pernah yakin terhadap sesuatu. Kata Jeffrey Lang, "aku menggugat maka aku kian beriman".

Seperti biasa, pembelaan saya: Orang yang bilang orang lain berpandangan sempit adalah orang yang sebenarnya juga berpandangan sempit! :p

Tidak ada komentar: