Perkenalan saya dan video-art bermula sekitar awal tahun 2009, ketika saya untuk pertama kalinya menyaksikan video-video ini dalam kompilasi OK.video Festival di suatu acara kampus. Dan sejak itu, sepertinya saya langsung jatuh cinta pada video-art ini. Saya ingat betapa terpukaunya saya pada ide bahwa setiap orang bisa mensenjatai dirinya sendiri untuk melawan realitas yang dikonstruksi media massa dengan menciptakan realitas sendiri, melalui 'perkakas' simpel seperti handy-cam atau bahkan video-camera yang terintegrasi di ponsel pribadi.
Di cerpen Kompas minggu lalu, Phantasmagoria, Satiagitaya sang pengarang menggambarkan phantasmagoria sebagai keterjebakan manusia modern di dalam teknologi seperti ponsel dan internet. Singkatnya adalah hiperrealita. Ternyata hiperrealita menciptakan realita personal, bukan lagi realita yang dibagi bersama. Menarik juga sih, ternyata senjata untuk memerangi realitas yang menyebalkan dimana kita menjadi objek di dalamnya adalah hiperrealitas, ketika kita bisa berkuasa sebagai subjek.
Tapi sampai disini saya pun jadi bertanya mengenai definisi realitas dan hiperrealitas. Tokoh Tanata terjebak dalam phantasmagoria-nya sendiri ketika berjumpa dengan Marianne, cinta lamanya. Sedangkan di akhir cerita ia lah yang menertawakan semua orang yang terjebak dalam phantasmagoria. Tanata menertawakan keluarganya yang 'heboh' memberitakan hilangnya dia melalui status facebook (mungkin juga twitter atau plurk, hahaha..). Saya pikir, phantasmagoria pertama tidak bisa dibedakan dengan semacam euforia, perasaan gembira yang meluap-luap. Sedangkan phantasmagoria kedua lekat dengan narsisisme, ketika melalui teknologi, manusia menjadikan dirinya subjek yang menciptakan realitasnya sendiri.
Saya tidak ingin memulai bertanya-tanya, tetapi ternyata terjebak juga dengan pemilahan mana yang real dan yang mana yang hiperreal. Saya pikir, kita juga terjebak ketika mulai menetapkan bersama bahwa inilah yang real, padahal setiap orang punya pemaknaan yang berbeda atas realitas mereka. Melalui video-art ini misalnya, saya bingung yang dikritik itu realitas atau hiperrealitas? Tapi mungkin kita hanya sudah muak menjadi objek, dan mungkin tidak penting lagi mana yang nyata, mana yang tidak nyata. Lagipula, kenapa segala sesuatu yang tidak kasat mata lantas dinobatkan menjadi "tidak real"? :)
-M O O N Y
Oh, mungkin saya sendiri sekarang ada dalam Phantasmagoria. Entah itu, atau entah overdosis Nasi Uduk seharian ini. Hahahaha..
5 komentar:
Ah, phantasmagoria. Neologisme yang saya sukai satu tahun lalu. Saya jadi ingat preface dari seorang posmodernis Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Slouka, bahwa cyberspace yang sekarang senantiasa kita hadapi ini, yang merupakan sintesa dan pembauran kemampuan grafis yang memukau sekaligus lebih dinamis dan atraktif ini, telah menawarkan kepada kita untuk “hidup” dalam sebuah dunia alternatif, dunia yang mensubstitusi realitas melebihi realitas yang ada, lebih menyenangkan daripada kesenangan yang ada, lebih fantastis dari fantasi yang ada. Haha...
Eniwei, bagaimana, sudah ketemukah "Yang Ketemu Jalan"-nya? :D
Wah, saya kayaknya harus baca Slouka nih :)
Saya belum nemu Nasjah Djamin-nya! Aduh, sampe kebawa mimpi..
Ah, bagaimana ini. Sudah kadung seneng saya dengan tulisan-tulisan situ. Mana ini postingan barunya? :-"
[AS]
Saya akan kembali menulis secepatnya.. Terima kasih banyak apresiasinya, Mas Susanto! :)
Sebenernya indonesia telat sih mengadopsi ini, tapi emang startnya juga beda sih ya..gak ada kanonnya. eniwi coba telusuri dendengkot2nya macam nam jun paik sama fluxus movement. caem laahh...
Posting Komentar