"I just feel like I'm designed to be slightly dissatisfied with everything. You know, I mean, like always trying to better my situation. You know, I satisfy one desire, and it just agitates another, you know? Then I think: to hell with everything, right? I mean, desire is the fuel of life. I mean, do you think it's true that if we never wanted anything, we'd never be unhappy?"
Saya dan adik saya mungkin sejumput kecil dari orang-orang yang dirancang untuk tidak puas dengan segala sesuatu. Selalu ingin lebih dan lebih dan pada akhirnya kesulitan untuk membedakan yang mana yang kami butuhkan dengan yang mana yang kami inginkan. Yang kami inginkan jadi kami butuhkan, dan kami merasa bahwa tanpa keinginan tersebut, yang menjadi 'bahan bakar' dari kerja dan tindakan kami, kami tidak akan bahagia. Perasaan untuk ingin yang lebih dan lebih itu sangat manusiawi dan saya (juga pasti adik saya), sama seperti orang-orang lain, sulit untuk melepaskan diri dari perasaan itu. Saat berjalan-jalan di antara etalase-etalase cemerlang, misalnya, saya mendapati diri saya sulit sekali menahan diri dari 'keinginan-keinginan' yang disulap pikiran dan kesadaran saya menjadi kebutuhan itu. Perasaan untuk mendapatkan sesuatu, lebih dan lebih, memakan seluruh kesadaran kita sampai rasanya seluruh indera kita bergerak untuk tujuan itu.
Pernahkah anda merasa seperti itu? Lalu ada detik ketika anda merasa lepas dari diri anda sendiri dan menyaksikan perasaan 'ingin' itu menggerakan kerumunan masif yang anda di sekitar anda. Lalu anda merasa terasing. Saya yakin iya. Saya pasti bukan satu-satunya orang seperti ini. Mungkin kita pernah menginginkan sesuatu dengan amat sangat dan seluruh kesadaran kita jadi terserap untuk keinginan itu. Tetapi ketika hal itu sudah ada di depan mata, kita diam sejenak dan bertanya-tanya, mengapa ya saya ingin ini atau apa saya benar-benar membutuhkannya. Entahlah, mungkin ketika anda sedang memilih-milih sepasang sepatu baru yang hendak dibeli atau berada dalam antrian panjang untuk membayar sebuah buku.
Ada kesadaran baru yang menggagalkan kesadaran sebelumnya. Saya kadang-kadang merasa beruntung karena pengalaman seperti itu. Sedetik dan tampak remeh memang, tetapi sebenarnya ia suatu proses yang tidak sederhana bagi kita untuk memahami diri masing-masing.
Saya ingat adik saya. Sebentar lagi ia berusia 20 tahun dan saya masih berjuang untuk memahami dia sama seperti saya berusaha memahami orang-orang lain yang penting dalam hidup saya. Apa yang berarti dan tidak berarti untuk dia. Saya dan dia kadang-kadang terlalu berbeda, tetapi sebenarnya sama. Kita berdua mungkin sama-sama mencari arti kebahagiaan untuk diri kita, paling tidak sampai sejauh ini, dengan segala keterbatasan yang kita punya. Saya tidak ingin menggurui, tetapi saya ingin sekali ini saja dimengerti.
Bahwa, Cha, happiness is a state of mind. Mengapa mengukur kebahagiaan kita dengan takaran yang umum? Paling tidak, kita--kamu dan saya, saat ini melakukan apa yang kita minati dan kita melakukannya dengan suka cita. Tidak semua orang bangun setiap hari dan merasa gembira dengan rangkaian rutinitas yang akan mereka hadapi. Kita beruntung dengan titik jernih kita, dengan 'kesadaran dalam kesadaran' kita. Ketimbang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu, menginginkan yang lebih dan lebih, merasakan bagaimana keinginan itu memakan pikiran dan perasaan kita, coba pejamkan mata sejenak: mungkin kita sebenarnya sudah punya segala yang kita perlukan. Kita punya otak yang bisa berpikir, hati yang bisa merasa, organ yang normal bekerja, dan keinginan untuk menggunakan segala yang kita punya. Kita beruntung, Cha. Kita bahagia.

Oh, dan selamat ulang tahun, walaupun masih 19 hari lagi. :)
-M O O N Y
3 komentar:
wah. saya bener2 iri, pengen punya adik perempuan juga, atau kakak perempuan. atau saudara kembar. hehe
saya sepakat dengan bagian terakhir alinea pertama
enak bgt deh punya sodara yg jarak umurnya deket. gw paling deket 6 tahun, mol. hoho
Posting Komentar