Sabtu, 10 April 2010

An Early Monologue to Her 20

Saya ingin bercerita tentang adik perempuan saya. Dia bisa jadi adalah orang yang paling sering mengejutkan saya karena begitu mudah ia menebak apa maksud tindakan dan pikiran saya hanya dengan satu kalimat yang menohok. Ia seperti selalu bisa menduga motif ter'kotor' dari setiap tindakan yang saya lakukan. Persis seperti Effie Kaligaris dan Lena Kaligaris dalam seri Sisterhood of Traveling Pants. Kadang-kadang, hal itu mengganggu sekali. Tapi kadang-kadang seseorang yang secara alamiah selalu sinis seperti itu memang diperlukan juga. Kita tidak mau selalu terjebak dengan pikiran kita sendiri, yang kerap kali jadi pembenaran, bukan?

Saya dan dia jarang bercakap-cakap tentang sesuatu yang filosofis tentang hidup kami masing-masing. Kalau kami berdua ada di rumah, sebagian besar waktu dan umur kami habis untuk bertengkar tentang segala sesuatu yang sepele. Tapi kalau kami lagi kumat bercanda, kami akan berceloteh aneh-aneh tentang lelucon yang hanya kami berdua yang mengerti dan tertawa tanpa henti. Kalau moodnya lagi bagus, dia akan cerita macam-macam dan saya menimpali dengan macam-macam juga.

Saya dan adik saya berbagi kamar praktis seumur hidup kami berdua. Waktu kecil, kami sering dihukum ibu untuk diam di kamar karena bertengkar. Padahal sehabis itu di kamar kami akan cekikikan tanpa suara. Dulu kalau kami berdua di kamar dan dia tidur lebih dulu dari pada saya, saya akan mengganggu dia dengan membuat rekaman suara yang menyuruh dia bangun dan saya ga akan berhenti mengganggu sampai dia benar-benar bangun. Pas dia bangun, saya akan tidur pulas dan dia akan marah-marah sendiri karena keisengan saya. Sekarang ini, semua itu jadi langka karena saya dan dia sering pulang larut malam dan jadi jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Gaya banget ya? Hahaha.. Tapi memang gitu kok keadaannya.

Suatu kali kami berdua ada di kamar dan berbicara tentang orang-orang yang kami hadapi sehari-hari, baik teman kuliah, teman kantor, teman lama dan bagaimana di antara orang-orang tersebut ada orang-orang yang tidak kami sukai. Kami bicara panjang lebar, khas perempuan kalau sedang ngomongin orang lah. Kadang-kadang sedikit berprasangka, kadang-kadang sedikit
ada bumbu supaya lebih seru juga, hahaha. Ada orang-orang yang berubah jadi begini begitu dan kami saat itu jadi bertanya-tanya tentang hidup kami masing-masing saat ini. Pembicaraan lalu beralih kepada bagaimana definisi bahagia dan tidak bahagia menurut ukuran kami.

Saya jadi ingat salah satu kutipan dialog Ethan Hawke dalam Before Sunset (lagi).

"I just feel like I'm designed to be slightly dissatisfied with everything. You know, I mean, like always trying to better my situation. You know, I satisfy one desire, and it just agitates another, you know? Then I think: to hell with everything, right? I mean, desire is the fuel of life. I mean, do you think it's true that if we never wanted anything, we'd never be unhappy?"

Saya dan adik saya mungkin sejumput kecil dari orang-orang yang dirancang untuk tidak puas dengan segala sesuatu. Selalu ingin lebih dan lebih dan pada akhirnya kesulitan untuk membedakan yang mana yang kami butuhkan dengan yang mana yang kami inginkan. Yang kami inginkan jadi kami butuhkan, dan kami merasa bahwa tanpa keinginan tersebut, yang menjadi 'bahan bakar' dari kerja dan tindakan kami, kami tidak akan bahagia. Perasaan untuk ingin yang lebih dan lebih itu sangat manusiawi dan saya (juga pasti adik saya), sama seperti orang-orang lain, sulit untuk melepaskan diri dari perasaan itu. Saat berjalan-jalan di antara etalase-etalase cemerlang, misalnya, saya mendapati diri saya sulit sekali menahan diri dari 'keinginan-keinginan' yang disulap pikiran dan kesadaran saya menjadi kebutuhan itu. Perasaan untuk mendapatkan sesuatu, lebih dan lebih, memakan seluruh kesadaran kita sampai rasanya seluruh indera kita bergerak untuk tujuan itu.

Pernahkah anda merasa seperti itu? Lalu ada detik ketika anda merasa lepas dari diri anda sendiri dan menyaksikan perasaan 'ingin' itu menggerakan kerumunan masif yang anda di sekitar anda. Lalu anda merasa terasing. Saya yakin iya. Saya pasti bukan satu-satunya orang seperti ini. Mungkin kita pernah menginginkan sesuatu dengan amat sangat dan seluruh kesadaran kita jadi terserap untuk keinginan itu. Tetapi ketika hal itu sudah ada di depan mata, kita diam sejenak dan bertanya-tanya, mengapa ya saya ingin ini atau apa saya benar-benar membutuhkannya. Entahlah, mungkin ketika anda sedang memilih-milih sepasang sepatu baru yang hendak dibeli atau berada dalam antrian panjang untuk membayar sebuah buku.

Ada kesadaran baru yang menggagalkan kesadaran sebelumnya. Saya kadang-kadang merasa beruntung karena pengalaman seperti itu. Sedetik dan tampak remeh memang, tetapi sebenarnya ia suatu proses yang tidak sederhana bagi kita untuk memahami diri masing-masing.

Saya ingat adik saya. Sebentar lagi ia berusia 20 tahun dan saya masih berjuang untuk memahami dia sama seperti saya berusaha memahami orang-orang lain yang penting dalam hidup saya. Apa yang berarti dan tidak berarti untuk dia. Saya dan dia kadang-kadang terlalu berbeda, tetapi sebenarnya sama. Kita berdua mungkin sama-sama mencari arti kebahagiaan untuk diri kita, paling tidak sampai sejauh ini, dengan segala keterbatasan yang kita punya. Saya tidak ingin menggurui, tetapi saya ingin sekali ini saja dimengerti.

Bahwa, Cha, happiness is a state of mind. Mengapa mengukur kebahagiaan kita dengan takaran yang umum? Paling tidak, kita--kamu dan saya, saat ini melakukan apa yang kita minati dan kita melakukannya dengan suka cita. Tidak semua orang bangun setiap hari dan merasa gembira dengan rangkaian rutinitas yang akan mereka hadapi. Kita beruntung dengan titik jernih kita, dengan 'kesadaran dalam kesadaran' kita. Ketimbang selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu, menginginkan yang lebih dan lebih, merasakan bagaimana keinginan itu memakan pikiran dan perasaan kita, coba pejamkan mata sejenak: mungkin kita sebenarnya sudah punya segala yang kita perlukan. Kita punya otak yang bisa berpikir, hati yang bisa merasa, organ yang normal bekerja, dan keinginan untuk menggunakan segala yang kita punya. Kita beruntung, Cha. Kita bahagia.

Oh, dan selamat ulang tahun, walaupun masih 19 hari lagi. :)

-M O O N Y

3 komentar:

Ana mengatakan...

wah. saya bener2 iri, pengen punya adik perempuan juga, atau kakak perempuan. atau saudara kembar. hehe

Arief Kurniawan mengatakan...

saya sepakat dengan bagian terakhir alinea pertama

farhanah mengatakan...

enak bgt deh punya sodara yg jarak umurnya deket. gw paling deket 6 tahun, mol. hoho